
Kadang tidak semua keinginan atau kemauan kita akan terkabulkan, ada kalanya di uji dulu dengan tidak di kabulkan permintaan kita atau bisa apa yang didapat tidak sama dengan yang di harapkan.
Permintaan kita A malah yang di dapat B bisa saja yang lain. Atau apa yang di minta tapi tidak sesuai dengan apa yang kita butuhkan maka daptnya berbeda.
Tapi ketahuilah kadang kita belum bisa menyesuaikan dengan kebutuhan sekarang dengan permintaan kita.
"Permintaan yang sulit tapi coba aku fikirkan dulu, tapi aku ingatkan kembali apa kamu masih ingat tentang permintaan maaf ku? apa kamu kabulkan ? apa kamu tau rasanya disaat permintaan kita tidak di penuhi, bagaimana rasanya ?. "
Apa sebenarnya yang ada dalam fikiran Evan sekarang kenapa terlalu bertele tele, jika tidak mau mengabulkan permintaan dia kenapa harus mengajukan permintaan terakhir, sungguh enah tapi tidak tau apa maunya.
"Tapi setelah aku fikirkan sulit juga untuk ku kabulkan jadi sekarang terima nasib saja kamu saat ini. "
Apa apa an dia, bukannya tadi dia akan mengabulkan Keinginan ku kenapa beda lagi.
Kalau tidak mau ngapain mengajukan tadi, kayak nya aku sudah tak punya harapan lagi.
Jika aku bertemu dia di kehidupan lain aku ngak mau berteman sama dia lagi, ngak sudi.
"Bu bukannya ka kamu ngasih a aku permintaan terakhir tadi Van ?. "
Rasa takut itu semakin menyeruak dalam diri Eva. Bukan tidak sayang nyawanya tapi dalam hati kecilnya dia masih yakin kalau Evan itu baik tapi kenapa raut wajahnya susah di tebak sekarang.
"A ku tau ka mu baik Van. "
Masih percaya sekali kalau Evan baik tapi tidak tau alasan dia bisa menjadi jahat seperti sekarang.
"Itu dulu, dulu sekali sebelum kamu menolak permintaan kecil ku. Menyesal pun sekarang kamu ngak ada gunanya seharusnya kamu fikirkan dulu sebelum mengambil keputusan yang akan berdampak apa. "
"Bersiaplah."
Evan mendekat ke arah Eva duduk, spontan juga Eva berdiri lalu mundur dengan langkah pelan.
Langkah kaki itu terasa berat untuk mundur, dia tidak punya tenaga untuk berlari dari sana untuk berjalan saja sungguh susah sekali tapi dia tidak putus asa untuk Menghindar.
__ADS_1
Evan dengan pelan juga melangkah maju memperhatikan raut wajah ketakutan Eva.
Tega tentu saja harus itu yang Evan lakukan, ada rasa tidak rela melakukan itu terhadap temanya tapi harus bagaimana.
Langkah mundur, kaki kaku, wajah pucat, keringat bercucuran serta gelengan kepala tidak luput dari pandangan Evan, seringai tipis tampak samar jika tidak di perhatikan cuma dia yang tau tapi tidak dengan Eva, dia sibuk menghindar dari cengkraman Evan.
"Kenapa mundur ? bukannya lebih cepat lebih baik. "
Bagi dia mungkin iya tapi tidak untuk gadis di depannya itu, dia masih ingin hidup lebih lama lagi, menikmati hari bahagia bersama kehidupan barunya kelak walau tidak tau siapa jodohnya nanti.
"Ja ngan Van, aku mohon. "
Cuma itu permintaan yang mampu Eva ucapkan sekarang.
Dia tidak tau harus bilang apa lagi, cuma kata itu saja sulit juga untuk di ucapkan.
Badan mungil itu bergetar hebat merasakan aura dingin sudah melingkupi ruangan itu wajah itu sama halnya saat pertama kali bertemu menunjukan tidak ada reaksi sama sekali.
Apa ini sudah akhir dari segalanya tapi aku belum siap, aku masih ingin hidup.
Belum sempat Eva selesai bedebat dengan dirinya sendiri sudah Eva sadarkan lagi gerakan cepat berdiri di depan Eva lalu menutup mata Eva dengan sebelah telapak tangannya dan tangan satu lagi menopang badan Eva biar tidak jatuh.
"Aaaaaa,,,,. "
Teriakan panjang Eva diakhiri dengan hilangnya suara Eva bersamaan dengan kehilangan kesadarannya juga.
Di sebuah tempat yang indah berbaring gadis cantik yang damai dalam tidurnya. Dia masih betah memejamkan mata indahnya itu seolah dia sedang mimpi indah sehingga enggan untuk bangun.
Baju yang di kenakannya tidak kalah indah dengan tempat di berbaring sekarang, jika saja dia bangun pasti senyum bahagia terbit lewat bibir kecilnya itu.
Tidur atau mimpi dia sampai belum bangun juga, apa tidak mau menikmati keindahan ciptahan sang maha ku ada, sayang sekali untuk di lewatkan begitu saja.
Sepasang mata itu masih senantiasa menunggu mata indah itu terbuka dan melihat dia orang pertama yang dia lihat nanti tapi bagaimana reaksinya nanti, terkejut atau takut atau malah pingsan entahlah tidak tau juga.
__ADS_1
"Dia kalau tenang begini makin menggemaskan dan makin cantik saja.
Bangunlah kenapa kamu betah sekali tidurnya?.
Apa kamu anggap kamu sudah tiada hingga enggan bangun.
Hhmm,,, apa aku bangunkan saja ya. "
Antara bangunkan atau tidak, kalau di lihat dan di perhatikan tidak tega untuk di bangunkan tidurnya terlalu damai untuk di usik.
Jadi keputusan membiarkan saja bangun dengan sendiri nya.
Perhatian itu tidak lepas dari wajah cantik itu seakan enggan mengalihkan pada objek lain.
Menjadikan itu sebagai fokusnya seperti magnet yang menarik dia untuk terus melihat dia.
"Bangunlah, apa sebegitu indahnya mimpimu sampai malas bangun?. "
"Nikmati keindahan yang sebentar ini sebelum semuanya berubah pada kehidupan yang lebih menantang lagi. "
Berbicara sendiri tanpa lawan bicara seperti orang gila itu gambaran dia sekarang tapi menurut dia itu wajar walau lawan bicara nya lagi tidur tidak apa yang penting ada objek sebagai bahan di bicarakan.
*Kenapa aku seperti mendengar suara orang ya, aku dimana ini kenapa tempat nya terasa menenangkan sekali?
Udaranya juga sejuk betah sekali rasanya disini.
Ini mimpi atau nyata tapi terasa nyata tapi kenapa indah seperti alam mimpi.
\=\=\=\=\=
Kasih like, komen, rate and vote
makasih*.
__ADS_1
Tbc.