
Ditengah malam sunyi tidur Efi terganggu dengan suara teriakan Eva di sampingnya. Perlahan pelan namun semakin lama semakin kencang sampai Efi terganggu dan bangun. Bingung tentu saja Efi rasakan saat tidur masih teriak apa dia lagi mimpi buruk hingga tidur gelisah begitu.
"Aaaa,,,,pergi,,jangan pegang pegang pergi sana"
Menolak untuk di pegang padahal ngak ada yang memegang cuma terbaring saja.
"Sana sana jangan di pegang lagi "
Mengibaskan tangan ke depan seperti mengusir sesuatu hingga terdengar suara plak, tangan Eva mengenai Efi yang duduk di sampingnya.
"Dek hey bangun kamu mimpi apa sampai main pukul begini ? "
Menggoyangkan Eva tapi ngak di gubris bahkan masih terus mengibaskan tangannya sampai beberapa kali mengenai Efi.
Membangunkan orang yang mimpi buruk sampai mengigau agak sulit menyadarkan dan harus cepat di sadarkan serta kembali ke alam nyata kalau tidak akan terjebak lama disana akan sulit kembali. Bingung dan khawatir bercampur menjadi satu apa yang harus di lakukan. Pergi ke dapur mengambil segelas air lalu balik lagi ke ruang tengah tidak lupa membacakan beberapa surat pendek lalu mengusapnya di muka Eva hingga tiga kali menunggu beberapa menit Eva akhirnya sadar dengan muka pucat dan keringat mengalir.
"Syukur kamu sudah sadar dek kakak khawatir sekali tadi kamu ngigau sampai mukul mukul"
Merangkul adiknya ke dalam pelukan sebagai tanda leganya sebab Eva cepat sadar kalau tidak pada siapa akan minta tolong ditengah malam buta begini.
"Kamu mimpi apa dek sampai begitunya, mimpi buruk ya ? "
Mengusap punggung Eva dengan nafas masih memburu sambil menentarlkan detak jantung.
Diam cuma diam Eva sekarang masih takut mengingat mimpi barusan. Mimpi yang terasa nyata bahkan sangat nyata terjebak di suatu tempat disana ngak ada siapa siapa seperti kota ngak ada penghuni dan bangunannya pun sudah ngak layak pakai bahkan ngak bisa di bilang bangunan lagi.
__ADS_1
"Sudah kalau belum mau cerita ngak apa sekarang minum dulu ya "
Memberikan sisa air tadi mungkin dengan minum akan merasa lega dan sedikit menyejukkan.
Memaksa bercerita pun ngak mau yang ada akan menambah beban lagi jika belum tenang. Bercerita saat keadaan belum tenang seprti saat lagi capek jalan malah disuruh lanjut jalan lagi yang ada akan menambah kadar lelah saja.
Siapa saja akan mengalami mimpi saat tidur tapi kita tidak bisa memilih mimpi itu apa mimpi baik atau buruk kita ngak tau. Jika mimpi buruk makan kita harus waspada lagi dan harus lebih baik lagi sebelum tidur lakukan hal positif.
"Sekarang tidur lagi ya biar kakak tungguin "
Membaringkan badan Eva sambil mengusap pelan kepala Eva dengan melantunkan shalawat biar lebih tenang lagi.
"Kak"
Lirih Eva memanggil Efi pelan dengan suara tertahan di tenggorokan walau demikian masih bisa di tangkap pendengaran.
Bukan tidak ingin tau tapi sikonnya belum pasti saat ini yang terpenting sekarang adalah menenangkan diri dulu.
"Tapi kaka "
Ngak memberi kesempatan Eva buat bicara cukup melanjutkan tidur yang terganggu tadi.
"Tidur saja ya sayang "
Percuma saat ini Eva mau cerita Efi lagi ngak mau dibantah.
__ADS_1
Perlahan menutup mata dengan perasaan masih takut dan was was. Takut mimpi itu datang lagi, takut dia menghantui lagi, was was jika saat ini dia muncul dengan keadaan kurang tenang.
Setiap usapan yang di berikan Efi pada kepala Eva seperti usapan orang tua pada anaknya penuh dengan kasih sayang. Jika di bandingkan kondisinya seperti saat kita kedinginan mendapatkan pelukan hangat untuk mengahalau rasa dingin itu.
"Mimpi apa kamu dek sampai teriak dan keringat bercucuran begini"
Mengelap sisa keringat di dahi Eva. Rasa ingin taunya di tepis jauh dulu melihat kondisi Eva yang saat tidur saja masih gelisah.
"Apa pun mimpi nya semoga ngak datang lagi untuk waktu akan datang, kakak ngak tega dek. "
Memutuskan akan tetap ngak tidur malam ini menunggu Eva tidur takut akan mimpi buruk lagi. Sejak kecil Eva sudah di tinggalkan kedua orang tua maka kurang merasakan kasih sayang mereka maka sosok kakak yang menggantikan hingga sekarang.
Eva kecil tumbuh menjadi gadis cantik tapi semua itu ngak secantik jalan hidupnya. Hidup berdua jauh dari kata cukup menjalani hari hampa cuma ada satu cahaya dalam hidupnya dan cahaya itu yang selalu ada buat dia. Jika di bandingkan dengan orang lain maka rasanya dia kadang merasa iri dengan jalan hidup mereka bisa dikatakan sempurna punya keluarga lengkap, jika ngak memiliki kemewahan cukup dengan anggota keluarga lengkap itu sudah cukup.
"Sejak kamu hilang di hutan itu, kamu sering kakak lihat kalau tidur sering gelisah, cerita dek sama kakak biar kamu ngak menanggung semua ini sendiri berbagi itu akan mengurangi rasa beban di dalam diri"
"Jangan sampai dengan kejadian ini kamu mengalami stres ngak Sekolah mu terganggu kakak ngak sanggup menjalani hidup tanpa kamu "
Memandang wajah gelisah yang terlelap di depannya sambil sesekali mengusap kepala itu dengan sayang. Sedih tentu saja disaat orang yang di sayang menanggung beban sendiri tanpa mau berbagi.
*Maaf aku datang terlambat menjaga mu disaat kamu butuh aku ngak ada, aku menyesal telat mendatangi mu. aku harap kamu mau memaafkan ku.
Tidurlah dengan tenang aku akan mengawasi mu dari sini,aku harap kamu masih ingat sama aku, masih ingat kenangan kita dulu saat sebelum jarak memberikan kita waktu sendiri sendiri.
Ingin rasanya aku menghampiri mu dan bilang kalau aku sudah kembali padamu lagi tapi aku belum bisa menjelaskan tentang semua itu akan sulit nanti kamu mencerna setiap penjelasan ku*.
__ADS_1
Mata itu ngak lepas dari pusat perhatiannya satu ini. Merasa bersalah menghantui dirinya, bersalah sebab karna dirinya teman beda alamnya itu harus mengalami hal sulit sendiri. Tapi setidaknya mereka sudah bisa saling bicara di alam nyata sebagai seorang murid dengan waktu terbatas serta Eva yang banyak menghindar.
Tbc.