
Hari yang di jalani Eva sedikit mulai berubah dengan kehadiran Kevin sebagai teman baru sama dulu saat Evan datang hidup dia juga sedikit berubah tapi perubahan itu berbanding terbalik sama sekarang.
Bunga bunga yang tumbuh di antara mereka semakin bersemi namun Eva tidak menunjukan hal itu pada Kevin hanya saja Kevin yang terlalu menampakkan perasaan pada Eva.
Sebagian orang mempunyai cara sendiri mengapresiasikan suatu perasaan ada yang secara terang terangan mengungkapkan ada juga dengan memberikan perhatian perhatian kecil tergantung pada orang itu sendiri.
Pagi ini Eva setelah sarapan dia akan berangkat ngampus sendirian karena Sisi ada urusan menyebabkan dua sahabat itu tidak berangkat bareng, Eva maklum mungkin Sisi lagi ada masalah dan belum siap untuk cerita.
"Kak aku berangkat dulu ya, ini bentar lagi mau masuk nih . "
Memperhatikan jam yang sudah menunjukan pukul tujuh, jam kelas Eva lagi ini setengah delapan, karena dekat Eva jadi tidak perlu buru buru berangkat.
"Iya dek semangat kuliahnya,nanti kalau kakak libur kakak mau pulang kampung kayaknya mau lihat rumah sama makam Ayah Bunda.
Kakak sudah rindu mereka . "
Efi dan Eva sejak sampai disana belum pernah pulang lagi karena punya kesibukan masing masing dan juga butuh lebih biaya jika pulang dalam waktu dekat .
"Yah kak pulangnya nanti saja jika aku libur, biar bisa bareng ya !. "
Usul Eva dia juga sudah rindu sudah lama tidak mengujungi orang tuanya terakhir saat sebelum berangkat saja mereka pamit.
"Nanti lihat keadaan aja dek kakak juga belum pasti kapan. "
Itu baru rencana saja belum ada kepastian juga, kita sebagai manusia hanya merencanakan saja dan tuhan yang akan mengasih izin boleh tidaknya.
Siapa tau waktu yang di pilih bukanlah waktu yang tepat buat pergi jauh.
"Semoga bisa sama ya kak, aku berangkat dulu. Assalamu'alaikum. "
Mengalami kakaknya lalu melangkah keluar menuju kampus.
Baru saja keluar kos Kevin sudah menunggu di luar dengan tersenyum melihat Eva datang.
"Kurang kerjaan Vin, tiap pagi mampir terus ?. "
Akhir akhir ini Kevin sering nungguin Eva berangkat kampus bareng walau beda bangunan tapi bagi Kevin tidak masalah, kampus mereka juga berdekat tidak akan membuat dia telat jika harus ngantar Eva dulu.
"Kalau pagi kerjaan gue ngantar lo dulu Va. "
Kerjaan macam apa itu kerjaan tanpa di gaji, mana ada seperti itu yang ada hanya buang waktu saja.
Perlu di periksa Kevin kayaknya.
"Terserah kamu Vin, capek peringati kamu. Aku kayak anak TK yang di anterin Sekolah. "
Eva berjalan di ikuti Kevin, dia sengaja tidak bawa mobil dan disuruhnya Bastian yang nunggu di kampus Eva.
Dia sudah tau kalau Eva akan nolak jika harus naik mobil makanya jalan kaki seperti sekarang.
__ADS_1
\=\=
Siang hari selesai ngampus Eva balik kos tanpa di antar Kevin karena dia menghindari di antar merasa risih saja hanya dekat masa di antar begitu fikir Eva.
"Assalamu'alaikum kak . "
Eva pulang menghindari Kevin bukan tanpa alasan sebab ada orang yang tidak mereka kenal menemui mereka.
Kalau ada Kevin dia harus bilang apa tau saja tidak sama orang itu.
"Waalaikum Salam dek udah balik sini duduk . "
Menarik adiknya supaya duduk bersebelahan.
Di ruang tamu ada sepasang paruh baya yang lagi menunggu kepulangan Eva dari kampus dan untuk Efi dia memang lagi libur kerja karena memang sudah jatah libur dia juga.
Melihat kedatangan Eva pasangan paruh baya itu memperhatikan Eva mulai dari masuk hingga duduk hingga tersenyum ramah menunjukan kalau dia senang bertemu dua gadis ini.
"Karena adik ku sudah pulang jadi bisa jelaskan maksud kedatangan tante dan om kesini. "
Pinta Efi dia penasaran kenapa ada orang baru yang mencari mereka sedangkan Efi tidak kenal mereka dan juga mereka orang baru disana.
"Baiklah saya saja yang akan menjelaskannya, maksud kedatangan kami kesini adalah bla,, bla,,,bla,,. "
Menjelaskan secara detail apa yang ingin mereka sampaikan dan dari ucapannya terdengar biasa tidak ada yang di lebih lebihkan, Efi juga tidak tau siapa tau mereka orang jahat yang ingin mencelakai mereka.
Tapi mereka tidak punya musuh disini lalu tujuan mereka apa lagian di jelaskan dengan detail pun dua kakak beradik itu tidak akan mudah terpengaruh sama omongan mereka bisa saja itu hanya tipuan saja demi keuntungan mereka.
Yang mereka butuhkan dulu saat mereka berada pada titik dimana orang tidak menghiraukan mereka, dimana orang orang tidak melihat mereka padahal mereka ada, bukan sekarang tapi dulu.
Dulu saat yang pas mereka datang, saat yang akan mereka ingat seumur hidup mereka jika hal itu terjadi tapi nyatanya mereka datang saat semuanya jauh lebih baik jika boleh berkata semua sudah terlambat.
"Baik kami akan fikirkan dulu, kasih kami waktu tidak bisa memutuskan sekarang dan juga kami belum percaya sepenuhnya. "
Jujur Efi sedangkan Eva hanya terdiam mendengar cerita wanita paruh baya tadi.
Ada rasa senang dan marah bersamaan dalam dada mereka , senang masih ada orang terdekat mereka dan sedih kenapa mereka baru datang sekarang.
"Kami mengerti keadaan kalian dan kami harap keputusan kalian nanti tidak mengecewakan . Kalau gitu kami pamit dulu. Assalamu'alaikum. "
Beranjak dari duduk mereka dengan sedikit membawa wajah kecewa.
Bukan hanya mereka yang kecewa tapi disini dua kakak beradik itu jauh lebih kecewa sama mereka jika di izinkan teriak rasanya ingin dan bilang kami tidak butuh kalian.
Jangan mengambil keputusan saat emosi sedangkan menguasai jiwa yang ada penyesalan menghampiri.
Mengambil keputusan saat dimana hati dan fikiran sudah tenang.
"Kak, kakak percaya sama mereka ?. "
__ADS_1
Seru Eva saat cuma tinggal mereka berdua.
Jujur saja Eva sedikit percaya tapi hati kecilnya menolak itu sebab dengan kedatangan mereka yang tiba tiba juga ada sedikit perkataan mereka yang menyakiti perasaan.
"Entah lah dek, kakak juga masih bingung. Kita fikirkan ini bersama dan juga kakak ngak mau lihat mereka lagi di lihat dari wajah mereka seperti ada sesuatu. "
Mereka awalnya memang sedikit ragu untuk bercerita tadi terlihat jelas saat meminta salah satu dari mereka akan bercerita.
"Aku harap mereka tidak datang lagi kak. Aku sudah nyaman hidup seperti ini tidak ingin ada yang ganggu. "
Helaan nafas berat Eva terdengar jelas di pendengaran. Ada rasa berat menerima mereka bukan tidak mau tapi sangat sulit untuk di terima.
"Apa lagi kakak. Saat baru datang saja mereka kakak sudah ada felling ngak enak melihat mereka. "
Menyambut kedatangan mereka tadi Efi sedikit was was melihat orang baru mengunjungi dia dengan ragu Efi membukakan pintu juga setelah berfikir beberapa saat.
"Gimana kalau mereka makes kita kak, aku ngak mau . "
Keluh Eva dia ingin hidup seperti biasa seperti dulu tenang tidak ada yang mengusik.
Iya manusia hanya bisa merencanakan dan berharap tapi semua sudah ada yang ngatur.
Berat memang menerima kenyataan tapi itu harus di terima dan di jalani.
"Keputusan kita mereka tidak bisa rubah dek. Ini hidup kita tidak ada hak mereka untuk mengatur kita.
Jika di fikir kita butuh mereka dulu bukan sekarang saat kita sudah menikmati hidup dan berjalan lancar.
Mereka hanya lihat kita hidup dengan baik sekarang tidak tau perjuangan kita selama ini.
Jika boleh bilang kakak akan menolak mereka jika datang nanti. "
Entah mengapa hati Efi menolak kehadiran mereka tidak tau juga sebabnya yang jelas ada rasa tidak nyaman saat dekat mereka.
Hati lebih mengerti apa yang harus dia lakukan antara menerima atau bertahan.
"Terserah kakak saja, aku nurut apa keputusan kakak. Selama ada kakak aku merasa sudah cukup tidak butuh yang lain. Aku masuk dulu kak mau siap siap kerja. "
Pamit Eva masuk kamar hendak membersihkan diri dan berangkat kerja.
Efi hanya bisa menuruti keinginan adiknya yang ikut membantu mencari uang guna memenuhi kebutuhan mereka walau sudah di larang tetap saja keras kepala itu juga keinginan dia dari dulu ingin membantu kakaknya, kini bisa terwujud.
Sebagai kakak dia bangga punya adik seperti Eva sudah pintar, baik, pengertian dan yang penting tidak sombong dengan kepintaran yang dia miliki.
\=\=\=\=\=\=
*Kadang bingung mau bilang apa lagi selain selalu minta dukungan pada semua reader.
LOVE YOU ALL 😍😘😍😘❤*
__ADS_1
Tbc.