
Dalam mobil Efi memilih diam tidak tau mau bicara apa sama Renal, cukup kaget yang dia alami beberapa saat yang lalu.
Bisa di bilang pertemuan singkat mereka bahkan bisa di hitung dengan jari, baru beberapa hari yang lalu mereka kenal dan tadi dengan jelas dan mantap tanpa keraguan menyatakan perasaannya sama Efi.
"Fi kenapa diam? apa kamu terpaksa karana ucapan saya tadi?kalau iya tak apa lupakan saja."
Renal juga tidak bisa memaksa suatu keinginan dengan unsur paksaan walau ingin melakukan tapi cukup tau sesuatu yang di lakukan dengan paksaan akan berakhir menyakitkan dan kecewa.
"Jawab Fi jangan diam, baik dengan diam kamu saya anggap iya."
Efi diam bukan terpaksa tapi masih tidak menyangka pertemuan singkat mereka malah membuat dia menjalani suatu hubungan dan ini pertama kali.
"Dasar laki laki plin plan tadi maksa sekarang nyerah, aku diam bukan karena terpaksa tapi ini kali pertama aku menjalani hubungan dengan laki laki jadi aku masih ngak percaya saja."
"Udahlah aku lagi kesal."
Memalingkan wajah keluar jendela malas melihat Renal, mana bisa dia di bilang laki laki kalau ucapan saja suka tarik ulur.
Yang di bahas perasaan bukan lagi main layangan.
"Jangan ngambek,gitu aja cemberut.Sini."
Menarik Efi masuk dalam pelukan hangat yang menenangkan milik Renal.
Makin menyukai gadis yang lagi berada dalam pelukannya ini, semakin dia cemberut kadar kecantikkannya akan bertambah juga itu yang Renal lihat pada Efi.
Lama melaju akhirnya mereka sampai depan kos Efi, Renal membantu Efi menurunkan barang bawaan Efi dan mengangkat hingga teras rumah.
Tok...
Tok...
Tok...
Efi terus mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari dalam, dia lupa melihat jam kalau jam segitu Eva belum pulang kuliah.
"Kenapa ngak ada orang?. "
Renal menunggu Efi sampai ada orang yang akan membukakan pintu.
"Bentar lagi juga di bukain mungkin lagi di belakang."
Benar saja baru Efi selesai bicara pintu terbuka menampakkan adik kesayangannya.
"Kakak aku kangen."
Langsung di sambut pelukan rindu Eva yang sudah sangat merindukan kakaknya padahal cuma beberapa hari tidak bertemu.
"Kakak juga rindu, kamu baik baik aja kan? Sisi mana kok ngak ada?. "
__ADS_1
Melepas rindu sejenak melupakan keberadaan Renal menyaksikan dua orang yang saling melepas rindu.
Jangan Irish Re akan ada masanya buat kamu memeluk Efi juga jadi sabar belum waktunya.
"Aaaa kak Efi udah balik, Sisi rindu. "
Ikut memeluk Efi dan Eva mereka bertiga pelukan seperti orang sudah beberapa tahun tidak bertemu.
"Eh bocil saya kakak mu ngak mau di peluk juga. "
Suara Renal menyadarkan mereka akan keberadaan dia yang di abaikan.
"Ah babang Renal ku yang tampan tiada duanya tapi tiga empat dan seterusnya, Sisi rindu. "
Berbalik memeluk Renal memeluk kakak laki laki satu satunya Sisi yang pisah rumah karena Sisi milih mandiri.
"Loh Si jadi pak Renal kakak kamu?."
Eva kaget baru tau kalau Renal kakak Sisi karena selama ini mereka biasa saja tidak ada tanda kakak adik bahkan seperti orang tidak kenal.
"Iya Va bang Renal kakak Sisi, kaget ya biasa aja kali."
Seloroh Sisi becanda memang mereka jika di depan orang banyak akan bersikap biasa.
"Ya udah masuk dulu kita ngobrol di dalam. "
Ajak Efi tidak enak bicara di luar apa lagi sambil berdiri kayak orang lagi nagih hutang.
Eva heran kenapa kakaknya bisa balik sama dosen kampus dia.
"Kami bertemu di jalan pas mau ke kampung dek, kebetulan mobil Renal rusak di jalan terus dia naik bus yang kakak tumpangi jadi kami bertemu. "
Jelas singkat Efi tentang pertemuan dia sama Renal, pertemuan yang tidak di sengaja.
"Oh Sisi kira kakak dapat mungut di jalan. "
Sindir Sisi melirik Renal yang di lirik kesal sama ucapan adiknya kesayangannya itu.
"Mulung kali dek di bilang mungut. "
Punya adek satu tapi suka khilap kalau bicara eh bukan suka khilap tapi sengaja mancing emosi.
Lebih baik mancing ikan dapat dimakan kalau mancing emosi yang ada kurus makan hati.
"Kok malah berantem sih kalian ini, kayak anak kecil saja. "
Lerai Efi menghentikan perdebatan mereka yang tidak berguna itu.
"Dengar tu bocil Efi bicara. "
__ADS_1
Senang Renal Efi seperti membela dia padahal kenyataannya hanya malas mendengar perdebatan itu.
"Ih nyebelin bang Re, nanti Sisi aduin sama mama. "
Ancam Sisi kalau mulai kalah debat sama Renal keluar jurus andalan.
"Dasar bocil mau kalah aja langsung ngadu,bocil bocil."
Renal makin senang Menggoda Sisi, kapan lagi kalau bukan sekarang kalau di rumah akan sepi tanpa Sisi.
"Awas nanti kena marah sama mama."
Mama mereka paling di takuti tapi bukan takut namun hormat pada wanita yang telah mengandung hingga membesarkan mereka.
"Ngak takut bocil, aduin aja. "
Makin membuat Sisi kesal dan marah hingga.
"Stop kalian berdua itu yang seperti bocah ngak ada yang mau ngalah. "
Teriak Efi mulai panas mendengar mereka yang tidak mau kalah.
"Tapi sayang. "
Ucap Renal kelepasan memanggil Efi sayang.
"Sayang!."
paduan suara Eva dan Sisi kaget mendengar Renal memanggil Efi sayang.
"Maksudnya apa?. "
Barengan lagi, kompak banget sih mereka berdua.
"Jelasin."
Pinta Eva ingin tau ada hubungan apa antara kakaknya dan dosen dia bukan tanpa alasan Renal memanggil Efi sayang.
"Seperti yang kalian dengar jadi tidak perlu di jelaskan lagi kan, jangan kayak anak kecil apa apa minta penjelasan. "
Renal angkat bicara melihat kediaman Efi maka dia yang menjelaskan.
"Haaaaa Sisi senang kak Efi akan jadi kakak ipar Sisi."
Memeluk Efi erat saking senangnya mendengar Renal menjalin hubungan dengan Efi.
\=\=\=\=\=
LOVE YOU ALL 😍😘😍😘❤
__ADS_1
Tbc.