TEMAN BEDA ALAM

TEMAN BEDA ALAM
Puas Kamu!!


__ADS_3

Dia bilang apa tadi becanda, becanda dengan nyawa dia fikir itu lucu.


Tidak, tidak ada lucu lucunya sama sekali yang ada cuma ketakutan. Cobalah tempatkan kondisi dan situasi pada tempatnya.


"Kamu fikir aku pelawak yang lagi ngelucu ha ha. "


Dia ketawa setelah puas mengerjai Eva habis habisan dan dengan tanpa dosany ketawa lepas seperti itu sekarang.


"Aku benci. "


Membalikkan badan melangkah pergi meninggalkan Evan disana yang masih ketawa.


"Hey mau kenapa ? memangnya kamu tau jalan pulang dari sini?. "


Menyebalkan tentu saja itu kata yang pas buat dia sekarang apalagi yang pantas buat menggambarkan kekonyolan yang dia buat.


Eva menghentika langkahnya lalu menghadap Evan dengan wajah garangnya yang di buat buat.


"Kalau kamu tau aku ngak tau jalan pulang kenapa malah bawa aku kesini ?. "


Hilang sudah rasa takut yang menghantui tadi wajah pucat itu sudah berubah menjadi wajah kesal yang menunjukan kalau dia benar benar habis fikir sama jalan fikiran makhluk yang ada di depannya itu.


"Kamu tadi sudah pasrah saja makanya aku bawa kesini menghilangkan ketegangan dalam diri mu. "


Ketegangan dalam diri dia bilang apa dia lupa siapa yang bikin ketegangan itu ada sungguh bisa berkilah.


"Sini, ada satu lagi yang mau aku bilang sama kamu tapi jangan kaget atau teriak, telinga ku sakit mendengar suara cempreng mu saat teriak. "


Sifat asli Evan sudah keluar lagi tidak ada Evan yang menakutkan lagi cuma ada Evan yang bicara seenaknya lagi.


"Ngak."


Bukan menuruti malah teriak lagi, apa dia tidak ingat jangan teriak eh justru teriak.


"Apa kamu lupa apa budek Va ? sudah di bilang jangan teriak malah teriak. "


Evan ikutan teriak juga, geram sama temannya itu setelah *** yang sebenarnya malah makin berani sekarang.


Enak saja dia mengatur ku setelah apa yang dia lakukan sama aku, jangan harap.


Tetap kekeh tidak mau mendekat sudah cukup dia di kibuli tadi tidak mau terulang lagi.


"Percaya aku ngak akan kibuli kamu lagi, sini. "


Sudah tau apa yang Eva fikirkan tidak mau terjebak untuk kedua kalinya.


"Jika kamu ngak mendekat biar aku yang kesana."


Berjalan mendekat ke arah Eva berdiri tapi Eva malah memundurkan langkahnya juga.


"Tetap disana jangan mundur lagi. "

__ADS_1


Memberikan peringatan agar Eva menghentikan langkah secara tidak sadar Eva malah berhenti.


"Bagus."


Tersenyum saat Eva mendengar perintah yang dia ucapkan.


Saat sudah di depan Eva dia memperhatikan raut wajah Eva yang mulai takut lagi padahal tidak melakukan apa pun juga.


"Aku sudah bilang jangan takut, kenapa masih takut juga ?. "


Bagi dia memang mudah mengatakan hal itu karena bukan dia yang mengalami tapi bagi orang yang sudah mengalami akan sulit pada kondisi normal lagi.


"Aku salah sudah membuat kamu takut maaf kan aku Va.


Tapi aku mau kasih kamu satu hal apa kamu mau dengar?."


Sebelum mengatakan itu harus memastikan dulu kalau Eva siap mendengar apa saja yang akan Evan bilang nanti.


"A a pa ?. "


Terbata memandang wajah Evan yang begitu dekat dengan dia saat ini.


"Sebenarnya aku. "


Menggantungkan ucapan melihat reaksi Eva yang mengerutkan kening menunggu apa yang akan Evan bilang.


"Sebenarnya kamu apa?. "


Membuat Eva makin penasaran juga apa yang akan dia dengar.


Tapi kalau bukan sekarang kapan lagi waktunya.


"Kenapa kamu malah melamun, mau bilang apa? . "


Jika tadi tidak mau mendengar ucapan Evan tapi sekarang malah memaksa buat dia bicara cepat.


"Janji dulu kamu ngak akan marah sama aku. "


"Janji apa? memang nya ini penting banget ya. "


Makin membuat Eva penasaran saja jika mengulur waktu begini.


"Janji dulu baru aku bicara. "


Butuh juga janji dari Eva apa dia tidak ingat jika tadi sudah bikin Eva marah karena telah mengerjainya.


Mungkin sekarang dia tidak mau hal itu terulang lagi cukup sekali dan tidak ada kedua, ketiga, keempat atau seterusnya.


"Tergantung kamu mau bilang apa dulu baru aku pertimbangkan. "


Jika Evan bisa mempermaikan seharusnya Eva juga bisa kenapa tidak.

__ADS_1


"Sulit banget Va tinggal bilang janji saja. "


Memasang wajah memelas seperti anak kecil. Sebenarnya wajah itu tidak cocok untuk wajah tampan Evan.


"Aku ngak mau terjebak untuk kedua kali Van. "


Kilah Eva dari awal dia sudah percaya tidak mungkin Evan tega menyakiti dia dan akhirnya memang benar dia baik baik saja.


"Siapa yang mau jebak kamu Va, halu kamu terlalu jauh. "


Malah di bilang halu, belum tua saja sudah pe lupa bagaimana tua nanti dia.


"Belum tua sudah pikun kamu. "


Ejek Eva dengan senyum miringnya itu menandakan kalau dia tidak percaya.


"Ekpresi apa itu, aku ngak suka lihatnya. "


Jelas saja dia tidak suka senyuman itu buat dia dan bukan senyum tulus yang biasa dia lihat.


"Kalau ngak suka ngak usah lihat. "


Kilah Eva memalingkan wajah kesamping menghindari kontak mata dengan Evan.


"Janji dulu Va. "


Masih kekeh meminta kata janji Eva ucapkan.


" Hhmmm oke aku janji. "


Mengangkat jari kelingking dan disambut baik sama Evan, jari itu nyatu menandakan Eva tidak akan marah dengan apa yang akan dia dengar nanti.


"Sebenarnya (Evan membisikan sesuatu ketelinga Eva). "


Setelah mengucapkan itu Evan menghindar dari jangkauan Eva agar tidak kena amukan amarah gadis yang mematung mendengar apa yang barusan dia dengar.


Setelah dia sadar mengetahui kalau Evan sudah menghindar dari dia agar menjauh.


"Apa, keterlaluan kamu Van. "


Mengejar Evan yang menghindar dari amukan Eva.


sesuai tebakan Evan walau dia sudah janji tidak akan marah tapi secara alami amarah itu keluar begitu saja tanpa perlu di buat buat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tercintanya author jangan bosan mampir ya dan kasih masukannya.


Tinggal kan like, rate, komen and vote nya.


Makasih.

__ADS_1


LOVE YOU😘😘


Tbc.


__ADS_2