TEMAN BEDA ALAM

TEMAN BEDA ALAM
Mulai Kuliah.


__ADS_3

Dua hari terlewati tanpa terasa, hari ini Eva sudah bangun pagi lalu bersiap siap untuk mulai kuliah.


Impian semua orang bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi baik dengan biaya sendiri atau jalur beasiswa seperti Eva sekarang, rasanya akan sama jika di nikmati tiada keluh kesah.


Bangun pagi pagi membersihkan kamar lalu keluar kamar siap memulai hari dengan ceria secerah sinar mentari pagi ini.


Di dapur Efi hampir selesai membuat sarapan pagi buat mereka berdua masih sama yaitu menu sederhana penuh rasa.


"Pagi kak ! hm sudah cantik aja kak udah mulai kerja ya kak ? semangat kakak kerjanya semoga betah dan juga dapat gandengan amin. "


Sapaan selamat pagi Eva beda dari biasanya dengan sedikit meledek kakaknya itu ada hiburan buat dia, lagian hidup cuma sekali jadi harus di nikmati seindah mungkin.


Susah sesang akan terasa ringan tergantung bagaimana caranya kita menyikapi dan menyelesaikan masalah atau malah nyaman dalam posisi sekarang. Terserah.


"Pagi juga sayang, yang mau kuliah kelihatan sekali cerianya.semangat kuliahnya jangan malas, ingat gimana susahnya bisa kuliah jadikan itu semangat. "


Bersyukur adiknya bisa melanjutkan pendidikan lebih dari dia, setidaknya suatu hari nanti orang akan memandang ke arah mereka dan membuang fikiran jelek mereka selama ini tentang dia.


"Cepat habiskan sarapannya takut Sisi udah nungguin. "


Suruh Efi tapi Eva malah jalan keluar lalu menggandeng Sisi masuk kedalam dan menyuruh duduk.


"Sarapan bareng aja Si, nanti pingsan lagi di kampus. Maaf hanya menu sederhana saja. "


Mengambil sarapan buat Sisi walau sederhana tidak ada kata malu untuk Eva yang malu itu jika kita mencuri, malah seharusnya bersyukur masih bisa makan di luar sana masih banyak orang yang buat makan saja susah.


"Ngak usah Va nanti Sisi bisa sarapan di kampus. "


Tolak halus Sisi tidak tega memakan sarapan itu dia mengerti pasti untuk mendapatkan itu susah.


"Atau kamu ngak biasa makan begian ?."


Sedih Eva mungkin menurut dia itu hanya makanan sederhana tidak ada gizi makanya menolak atau tidak biasa makan makanan seperti itu.


"Bukan itu alasan Sisi, kalian disini merantau butuh biaya besar, kalau Sisi punya keluarga disini lagian kos cuma lagi pengen mandiri. "


Jelas Sisi takut Eva tersinggung sama ucapan yang menolak sarapan bersama.


Lagian dia berasal dari keluarga berada hanya ingin mandiri makanya kos bukan karena dia dari kota jauh juga.

__ADS_1


"Atau gini aja nanti Sisi bantuin beli bahan makanan jadi Sisi makan bareng kakak dan Eva aja biar adil gimana, lagian Sisi juga ngak bisa masak. "


Usul Sisi biar tidak ada yang di rugikan dan dia juga bisa makan dengan tenang tanpa makan haka orang.


Walau mereka baru kenal tapi Sisi orangnya baik tidak ada niat memanfaatkan orang lain demi kepentingan dia.


Dulu sebelum keluarga dia kaya, mereka juga pernah berada di posisi ini hidup sederhana dan apa adanya.


"Bahas itu nanti aja, sekarang habiskan sarapan dan berangkat kuliah. "


Sela Efi tidak mau ambil pushing, cuma sarapan saja apa yang mau di ributkan, rezeki sudah ada yang atur tidak akan berkurang justru akan ada ganti nanti jadi buat apa pelit atau perhitungan pada sesama, ikhlas maka semua sudah ada jalannya.


Perdebatan kecil itu sudah selesai begitu juga dengan sarapan dan tidak lupa cuci piring itu sudah jadi kebiasaan jika selesai makan, jangan sampai saat balik kerumah sudah ada pekerjaan yang menunggu.


Efi pamit duluan pergi dia dapat kerja masuk pagi di sebuah toko kue dekat kampus Eva jadi hanya perlu jalan kaki untuk sampai sana hemat biaya dan waktu juga.


Eva dan Sisi berangkat juga, hari ini hanya ospek saja selama beberapa hari ke depan dengan berbagai macam kegiatan.


Siang hari setelah selesai semua rangkaian acara ospek Eva dan Sisi duduk di taman kampus sambil membahas tentang kuliah yang akan di mulai rutin tiap hari.


Lalu melanjutkan Berkeliling kampus lagi tadi hanya sekilas saja tentang pengenalan tentang kampus sekarang bisa dengan santai serta teliti memperhatikan luasnya area kampus jika suatu hari tidak akan tersesat.


Kesempatan ini tidak akan dia sia siakan yang hanya akan datang satu kali dan tidak ada dua kali atau ada lagi dimasa depan.


"Capek juga ya Si keliling ini kampus. Dulu aku berfikir bisa kuliah dalam Kota saja sudah senang tapi tuhan kasih aku lebih dari yang di minta, aku bersyukur banget. "


Maya Eva jauh memandang ke depan membayangkan dulu bagaimana cara dia bisa kuliah dan dulu sampai tidak pernah berfikir cari beasiswa, di karenakan harus mencari kemana dan bertanya pada siapa.


Setiap kali dia di tawarkan jadi perwakilan Sekolah untuk ikut lomba dia langsung terima.


Lagian dulu dia berfikir jika bukan waktu itu mengasah kemampuan kapan lagi dan juga tidak tau apa bisa kuliah atau tidak dengan keadaan yang pas pasan.


Pada dasarnya jalan hidup kita sudah di atur bahkan jauh sebelum kita di lahirkan dan saat kita lahir kita tinggal menjalankan saja lagi.


"Kenapa bisa gitu Va?. "


Sisi belum tau Eva berasal dari mana yang dia tau hanya tetanggaan kos saja tidak lebih.


"Aku kuliah disini dapat beasiswa Si beda dengan yang lain dan aku cuma berdua sama kakak lalu untuk orang tua kami sudah lama meninggal sejak aku baru mau masuk Sekolah Dasar. "

__ADS_1


Jelas Eva tapi tidak ada gurat kesedihan saat dia bercerita lagian dia juga sudah ikhlas melepaskan orang tua nya pergi. Jika dia sedih orang tuanya akan sedih juga di alam sana melihat anaknya sedih.


"Maaf Va, Sisi ngak maksud ungkit itu. "


Sesal Sisi saat dengar cerita Eva, dia masih beruntung punya orang tua lengkap bahkan hidup berkecukupan.


Kalau dia jadi Eva apa jadinya dia tanpa orang tua, kadang punya satu saja susah kurang rasanya gimana keduanya tidak ada.


Bagaimana Eva menjalani hari hari selama ini, bagaimana memenuhi kebutuhan bahkan bisa kuliah walau dengan beasiswa.


Siapa saja yang mengajari dia bisa pintar gitu.


"Ngak apa Si, aku juga sudah ikhlas. Yang penting sekarang lihat kedepan jangan belakang nanti nabrak. "


Eva maklum Sisi tidak tau apa apa.


Mungkin awalnya dia berfikir pasti ada orang tua hebat yang selalu mengajari dia hingga pintar tapi dia salah besar.


"Eh itu ada apa kok berisik sekali ?. "


Ajak Sisi mendengar keributan dari arah parkiran.


Sisi penasaran ingin ikut melihat ada apa sampai ribut gitu.


Sampai disana Sisi harus menelan pahitnya kecewa ternyata yang datang, cowok yang kemarin menghadang dia di toko buku.


"Ngak penting juga Va, yuk pulang. "


Berlalu dari kerumunan itu, bagi dia tidak penting juga buat apa lihat hal yang tidak ada guna dan manfaatnya.


\=\=\=\=\=\=


Tetap dukung ya biar makin semangat nulisnya.


Makasih


LOVE YOU ALL 😍😘😍😘❤


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2