
Setelah mobil berhenti Efi melihat siapa yang bicara ternyata Renal sudah bangun dan Efi tidak menyadari itu.
Wajah Efi berubah takut melihat Renal terlihat marah, apakah Renal mendengar perbincangan antara mereka atau baru bangun tidur.
"Buka pintunya pak. "
Titah Renal supirnya dengan sigap pak supir turun dan membuka pintu dekat Efi.
Supir sudah tau apa yang akan di lakukan dengan hanya isyarat mata saja.
"Re kamu ngapain ?. "
Tanya Efi mulai cemas kenapa pintu dekat dia yang di buka.
"Silahkan nona. "
Pinta supir pada Efi menyuruh turun, Efi diam di tempat bingung sama keadaan sekarang.
"Kenapa masih diam, katanya ingin turun? sekarang silahkan turun karena mobil sudah berhenti. "
Titah Renal agar Efi turun sesuai keinginannya tadi bahkan sampai memohon minta di turunkan.Sekarang mobil sudah berhenti dan Efi tidak bergerak dari tempat duduknya.
"Re kamu becandakan nurunin aku di jalan sepi gini ?."
Efi masih tidak percaya Renal tega menurunkan dia di jalan sepi begitu bahkan kendaraan yang lewat saja melaju dengan kencang.
"Kenapa nyalahin saya, kan kamu yang minta turun dari tadi . "
Jujur sejak awal Efi bicara dan membelai Renal sudah bangun hanya saja mempertahankan dengan mata teroejam ingin mendengar sejauh mana Efi bicara.
Dan jauh dari dugaan Renal dia malah ingin menghindari Renal dan turun di jalan.
Mendengar itu Renal marah apa dan kenapa Efi bicara seperti itu apa dia tidak pantas buat dia atau sudah ada laki laki lain mendekati dia .
"Re kamu yakin?. "
Renal menganggukan kepala tanda dia tidak main main sama perkataannya barusan.
Jika Efi ingin turun maka itu tempat yang tepat buat dia biar dia tau apa Renal rasakan jika dia tidak ada.
Takut itu yang Renal rasakan juga jika dia menghilang.
Marah tidak ada kendaraan buat tumpangan dia maka Renal akan marah juga jika dia pergi tanpa pamit.
"Kenapa ngak turun juga mau di bantuin (Efi menggeleng) .
Kenapa kamu seenaknya memutuskan apa yang terbaik buat saya, apa kamu tau yang menurut saya baik atau tidak.
Jika kamu tidak tau maka jangan lakukan hal bodoh memutuskan apa pun tentang orang lain.
Kalau kamu ngak nyaman saya dekati bilang jangan mencoba menghilang tanpa alasan itu sama dengan anak kecil. "
Efi terdiam merutuki kebodohannya jika Renal bicara begitu sudah di pastikan Renal mendengar semua yang dia bilang tadi.
Bodoh tentu saja dia bodoh, mencoba menjauhi orang sebaik Renal apa lagi mereka baru kenal dan sudah banyak membantu dia serta tanpa fikir panjang menjauhinya.
"Lihat saya ."
__ADS_1
Pinta Renal tapi Efi menunduk tidak mau menatap Renal yang lagi marah, tidak mau bicara atau hanya sekedar melihat.
"Angkat kepala mu Fi. "
Memegang dagu Efi dan pandangan mereka bertemu.
"Kenapa ingin menghindari saya? beri saya alasan jelas maka saya tidak akan mengganggu mu lagi tapi jika alasan itu tidak masuk akal maka jangan harap untuk pergi. "
Ucapan Renal seperti sebuah titah yang tidak bisa di bantah, untuk bicara satu kata saja Efi tidak bisa .
"Kenapa diam ,jawab beri saya alasan!. "
Efi memejamkan mata tidak sanggup menatap Renal lama dia bisa melihat amarah di mata Renal.
Sungguh dia tidak biasa menghadapi kemarahan orang, selama ini dia hidup tersisih dan fokus sama kelanjutan hidupnya jadi amarah orang dia abaikan yang penting tidak mengganggu tapi sekarang orang itu marah di depan matanya.
"Sekarang jawab apa sudah ada laki laki lain mendekati mu hingga kamu menghindari saya (Efi menggeleng) lalu ?.
Ingat saya akan pergi jika perempuan itu sudah punya pilihan sendiri tapi jika tidak maka kesempatan itu masih ada. "
Jelas Renal dia paling anti jika harus berebut perempuan dengan orang lain tapi sekarang posisi itu tidak ada pada Efi jadi apa salahnya jika dia dekati.
"Maaf aku hanya tidak pantas saja di dekat mu Re. "
Lirih Efi masih memejamkan mata.
"Stop bilang itu kamu tidak tau apa yang pantas buat saya atau tidak. Jadi sekarang sudah jelas jika ingin turun silahkan saya tidak bisa juga memaksa kamu. "
Memalingkan wajah menghindari menatap Efi, dia sadar juga tidak semua keinginan harus terpenuhi ada kala harus melepas apa yang kita mau.
Efi masih diam tidak menjawab lagi perkataan Renal jika dia turun mau naik apa hingga sampai kos jika tidak turun tadi sudah di suruh turun.
"Kenapa masih diam tidak jadi turun, ayo sekarang turun waktu saya akan terbuang dengan hanya menunggu kamu. "
Renal angkat bicara saat tidak ada pergerakan dari Efi, mana berani Efi turun di tempat sepi itu bahkan di bayar pun tidak akan mau.
Yang dia pinta tadi turun di tempat rame dan banyak angkutan atau Renal sengaja melakukan itu biar Efi tidak ada pilihan selain duduk diam.
Tidak ada pilihan lain Efi mengambil barang bawaannya lalu melangkah turun jika sudah begini dia bisa apa .
Dia tidak mau menarik kata katanya lagi sama saja menjilat ludah sendiri.
Efi turun melangkah pergi mulai menjauh dari mobil Renal sedangkan Renal masih memperhatikan Efi yang berjalan sendiri.
Masih dengan posisi sama Renal belum beranjak dari tempat itu ingin melihat sejauh mana Efi berani berjalan di tempat sepi itu.
"Aden yakin membiarkan non Efi jalan sendirian ?. "
Tanya supir yang ikut melihat Efi berjalan membelakangi mereka yang duduk dalam mobil.
"Kenapa Bapak tanya gitu? bukannya itu yang dia mau tadi ?. "
Renal melihat Efi berjalan pelan sambil melihat jalanan siapa tau ada kendaraan yang bisa dia jadikan tumpangan.
"Kenapa dia nurunin aku di jalan sepi gini, apa dia sengaja melakukan ini jika tau gini lebih baik aku naik bus saja kemarin dan kejadian ini ngak akan terjadi. "
Efi menangis sepanjang jalan meratapi nasib dia, bukan menyesali pertemuan mereka tapi merutuki kebodohan dia saat bicara.
__ADS_1
"Kenapa Re kamu tega melakukan ini tapi aku ngak bisa juga salahkan kamu memang ini salah ku. "
Efi duduk di tepi jalan dengan kaki yang mulai lelah berjalan tidak ada satu kendaraan yang bisa dia tumpangi.
"Bodoh jika tidak mampu kenapa turun?. "
Renal datang menghampiri Efi yang lagi duduk dari tadi dia mengikuti Efi diam diam dan mendengar perkataan Efi.
Merangkul Efi membawa ke dalam pelukakannya supir menghampiri mengambil barang Efi di masukkan lagi ke dalam mobil membiarkan dulu mereka berdua.
"Memang kamu tau ini dimana main turun saja. Jangan lakukan hal bodoh yang akan membayahakan diri mu.
Jangan menangis lagi saya sakit melihat air mata ini. "
Mengusap air mata Efi yang membanjiri pipi mulus itu.
Efi masih menangis dalam pelukan Renal dia takut jika beneran akan jalan sendiri tapi Renal masih peduli sama dia.
"Sudah jangan nangis lagi kamu ngak tau apa baju saya sudah basah karna air mata mu. "
Efi sadar lalu berusaha lepas dari dekapan Renal tapi rangkulan itu makin kuat.
"Kamu tau saya sayang sama kamu jangan jauhi saya jika tidak (Renal membisikkan sesuatu ke telinga Efi) . "
Reflek Efi memukul Renal mendengar ucapan Renal yang membuat dia malu. Bagaimana bisa Renal bicara itu pada dia bahkan tanpa dosa gitu.
"Ih nyebelin. "
Menghapus sisa air mata lalu berdiri di ikuti Renal.
"Mulai sekarang kamu kekasih saya tidak ada bantahan atau penolakan. Dan satu lagi jangan coba coba mencari celah menghindari saya. "
Putus Renal tidak mau Efi membantah lagi jika Efi berani mungkin akan membuktikan ucapan dia tadi.
"Enak saja main putuskan sendiri, pacaran sana sama pohon. "
Efi melanjutkan lagi jalannya lupa jika tasnya sudah tidak bersama dia.
"Jadi kamu nolak(Efi menggeleng) lalu. "
Lega Renal saat Efi menggeleng lalu apa lagi alasannya.
"Ngak ada romantisnya nyatain perasaan. "
Kesal Efi nyatakan perasaan kayak beli kerupuk.
"Yuk naik mobil lagi mau jalan sampai mana ? tadi aja jalan bentar udah nangis. "
Menarik tangan Efi menaiki mobil yang sudah berada di belakang mereka dengan sedikit gengsi Efi naik juga dan melanjutkan perjalanan lagi.
\=\=\=\=\=\=
PERJALANAN HIJRAH KU
LOVE YOU ALL 😍😘😍😘❤
Tbc.
__ADS_1