
Guru mulai masuk kelas untuk memulai pelajaran untung saja pelajaran lagi hanya Bahasa jadi tidak perlu membutuhkan isi kepala bekerja keras.
Pelajaran itu termasuk santai bukan berarti gampang juga karena setiap pelajaran mampunyai sisi sulit tersendiri jika tidak fokus saat Guru menjelaskan.
Pagi yang menegangkan akan terasa sedikit rileks jika di bawa santai dikit saja, boleh kali ya.
Sesekali Eva masih ingat kejadian barusan saat fokus sama pelajaran.
Ingin sedikit atau sebentar saja menikmati waktu damai dalam tujuh hari dalam seminggu itu, bisa tidak ya.
Aku ingin sebentar saja tenang, kenapa sulit sekali sih, atau aku cari tau agar bisa lepas dari masalah ini dan tidak bisa lihat begituan lagi. Batin Eva dengan pandangan tetap fokus pada papan tulis.
Kasian juga Eva selalu di ganggu gitu. Aku harus bantu dia lepas dari semua ini biar dia tenang dan tidak kefikiran lagi. Tapi gimana caranya ya kadang kelebihan itu datang dengan sendiri atau dari para leluhurnya juga atau bisa di bilang sudah turun temurun. Evan juga kasihan sama Eva harus tertekan menjalani kejadian yang seharusnya tidak perlu dia alami.
"Baiklah anak anak pelajaran hari ini sampai disini dulu sampai jumpa minggu depan. "
Pelajaran berakhir Guru meninggalkan kelas dan jam istirahat sudah menanti untuk menenangkan kepala yang dari tadi berfikir tentang pelajaran.
"Va aku kantin dulu ya, Van kamu ikut ngak ?. "
Pamit Sandra sama Eva tidak lupa menawarkan Evan ke kantin bersama.
"Ngak deh San aku disini aja sama Eva. "
Tolak Evan dia juga penasaran sama Eva kenapa bisa lihat semua itu.
"Kenapa? Masih rindu Eva ya. "
Ledek Sandra sambil berlalu pergi.
"Tau aja kamu San. "
Jawab Evan, rindu apanya kalau semalaman saja mereka selalu bersama hingga sekarang terus rindu itu kapan datangnya coba.
"Kenapa ngak ke kantin Van? emang kamu ngak lapar ?. "
Tanya Eva saat Evan memilih bersamanya dalam kelas.
"Ngak apa Va, belum lapar aja. "
"Oh."
Respon Eva berdiri sambil membawa kantong berisi roti sama air yang Evan berikan tadi pagi belum sempat Eva makan.
__ADS_1
Evan cuma mengikuti dari belakang kemana langkah kaki Eva melangkah tanpa bertanya dan tujuannya bukan taman Sekolah tapi lorong paling using yang murid lain pun jarang lewat sana.
"Va . "
Panggil Evan saat mereka sudah sampai dan duduk santai sambil nyender di dinding.
"Apa Van. "
Saut Eva mulai membuka roti untuk di makan tidak melihat Evan dia lebih fokus sama Perutnya yang minta di isi dari pagi belum dapat asupan makanan sedikit pun.
"Aku penasaran dari dulu Va, kenapa kamu bisa lihat makhluk seperti itu, dan kayaknya kamu sangat terganggu sama kehadiran mereka, apa sebabnya Va atau bisa di hilangkan gitu aku ngak tega lihat kamu seperti itu terus. "
Evan mengeluarkan unek unek yang selama ini dia pendam sendiri semuanya tidak akan jelas jika tidak di tanyakan langsung atau malah menebak nebak saja malah makin penasaran.
"Aku juga bingung Van mau mulai cerita dari mana. "
Eva bingung juga mengawali cerita itu dari mana karena semua agak sulit untuk di ceritakan tapi mungkin tidak akan sulit untuk Evan cerna setiap ceritanya nanti.
"Mulai dari waktu kamu mulai lihat saja Va, atau ada kejadian aneh gitu yang kamu alami sampai bisa jadi begini. "
Jelas Evan memberi saran pada Eva, tapi agak susah juga memulai semua itu.
"Aku bingung Van, semua itu terjadi begitu saja tanpa aku sadari. "
Aku saja kadang masih suka bingung sendiri sama semua ini gimana cara cerita sama Evan, semua seperti air mengalir begitu saja. Batin Eva menerawang jauh entah kemana.
Sebenarnya dia juga tidak mau mempunyai kemampuan begitu yang ada hanya akan mengganggu kegiatannya seperti kejadian yang sudah sudah.
Dia lebih suka hidup sama seperti orang lain tanpa harus di ganggu cukup tenang menurut dia.
"Pelan pelan saja Va caritanya, siapa tau aku bisa bantu kamu menghilangkan semua itu. "
Bujuk Evan perlahan, semua itu harus segera di atasi cepat jangan terlalu lama dibiarkan begitu saja.
"Semua itu berawal dari,,, "
Flashback on.
Di sebuah kampung ada seorang anak kecil perempuan yang usianya sekitar lima tahunan waktu itu dia dalam perjalanan menuju sebuah kota untuk pergi menenui saudara dari Ayah nya yang jaraknya menempuh waktu satu hari satu malam.
Anak itu pergi cuma berdua dengan sang Ayah tanpa ibu atau kakaknya waktu itu kakaknya lagi persiapan mau masuk Sekolah. Jadi mereka berangkat menggunakan bis,anak itu duduk dekat jendela supaya dapat melihat pemandangan dari jendala itu dan untuk menghilangkan rasa mabuk juga.
Sepanjang perjalanan kesana cukup menguras tenaga dan juga jalanan hanya banyak hutan kiri kanan kalau tidak hutan ya jurang atau bukit dan sungai.
__ADS_1
Saat itu malam hari semua orang dalam bis itu hampir semua orang sudah tertidur mungkin karena waktu sudah tengah malam tapi anak kecil itu masih terjaga dan melihat keluar.
Tiba tiba dia melihat ada sosok putih yang berdiri di tepi hutan dekat jalan kebetulan saat itu melewati hutan.
Anak itu terus memperhatikan sampai hilang dari pandangan seiring dengan laju bis itu.
"Itu apa yang putih tadi ? Orang atau cuma kain putih saja. "
Bingun juga sama yang dia lihat barusan kalau orang kenapa malam malam begini malah berdiri di hutan tengah malam tapi kalau bukan orang tapi di lihat dari ciri cirinya seperti orang.
"Sudahlah mungkin salah lihat saja, inikan hutan pasti cuma salah lihat saja. "
Setelah itu gadis kecil tidur juga dengan rasa kantuk sambil menyender sama sandaran kursi.
Kenapa mereka pergi menggunakan bis dulu alat transportasi hanya banyak bis yang orang gunakan selain harganya yang murah di tambah lagi bisa membawa barang hasil kebun ke sana dan juga tempat yang lega buat kaki kalau menggunakan pesawat dengan biaya mahal juga jauh dari kampung membutuhkan waktu sampai tiga jam lebih sampai bandara dan akan ada biaya tambahan juga.
Sejak kejadian itu waktu terus berlalu anak dan Ayah itu sudah balik juga dari kota dan anak gadis itu mulai masuk Sekolah Dasar di saat usianya masih menginjak enam tahun sebenarnya dulu umur segitu masih kecil untuk Sekolah, kadang ada orang yang masuk Sekolah umur tujuh atau delapan tahun.
Selama Sekolah nilai dia tidak jelek juga untuk usia dia yang di bilang kecil itu malah tidak pernah tinggal kelas sama sekali.
"Oh jadi kamu bisa lihat itu semua sejak kecil ya Va, Tapi kamu hebat juga masih kecil sudah masuk Sekolah. "
Sanggah Evan di sela cerita Eva padahal Eva belum selesai cerita malah di potong di tengah jalan.
"Aku belum selesai cerita Van, malah main potong aja kamu, udah lah aku ngak mau cerita lagi. "
Eva ngambek tadi dia minta di ceritakan dan sekarang malah di potong saat cerita itu belum selesai.
"Ok maaf maaf sekarang lanjut ya. "
Pinta Evan tidak mungkin mendengar cerita setengah setengah gitu mana asik malah ngegantung.
"Setelah itu ,, "
\=\=\=\=
Yang kemarin kemarin minta flashback aku kasih ya .
selalu dukung terus caranya gampang kok cukup like, rate, komen and vote aja.
Makasih.
LOVE YOU 😍😘😍😘❤
__ADS_1
Tbc.