TEMAN BEDA ALAM

TEMAN BEDA ALAM
Permainan Evan.


__ADS_3

Menyesal telah menerima Evan menjadi temannya, teman yang selama ini melindungi ternyata hanya topeng saja membuat dia terbuai hingga lupa jika tidak mungkin diantara akan berteman layaknya manusia pada umumnya.


"Memang sejak kapan aku suka becanda Va. "


Semakin dekat lalu berdiri di depan Eva dengan jarak begitu dekat bahkan hembusan nafas Eva yang terdengar sangat kasar begitu jelas terdengar.


Eva hanya diam sambil mengalihkan perhatian dari wajah Evan yang tidak sanggup dia lihat sekarang.


Terbebas dari sana malah sekarang terjebak sendiri dengan ucapan yang tidak disadari.


"Itu ucapan kamu sendiri Va dan aku cuma menagih saja sebagai itu janji yang telah kamu ucapkan. "


Wajah seram itu belum hilang juga dari muka Evan.


Memperhatikan intens wajah ketakutan Eva begitu dekat dengan dia, perlahan mata Eva tertutup sudah pasrah apa yang akan diterima saat ini mungkin tadi akan selamat tapi tidak dengan sekarang.


"Apa kamu takut Va ? Tenang saja itu tidak akan menyakiti mu sedikit pun. "


Percuma mengucapkan kata itu ribuan kali jika hasilnya akan tetap sama.


Kalau memang itu yang diinginkan kenapa harus bermain dulu, mengulur waktu atau memberikan sedikit ruang untuk dia menghirup udara segar.


Sebaiknya lebih cepat lebih baik dari pada menambah ketakutan saja dan berakhir sama.


"Kamu mau tau apa yang kau inginkan ?. "


"Atau kita langsung saja. "


"Seperti aku harus mengasih tau kamu dulu sebelum bertindak. "


"Tapi tunggu,,, kalau saja tadi kamu mau memaafkan ku mungkin sekarang aku akan berubah fikiran tapi sudah terlambat juga kamu terima saja apa mau ku. "


Kenapa Evan tega kepada ku padahal tadi kau cuma pura pura marah sama dia.


Apa dia tidak tau selama ini kau juga merindukan dia.

__ADS_1


Kamu jahat Van.


Cuma bicara dalam hati saja sekarang percuma bilang sebenarnya kalau Evan sekarang bukan Evan yang dulu lagi.


Evan dulu Evan yang begitu baik dan melindunginya dari bahaya tapi Evan sekarang sama dengan mereka semua tidak ada bedanya.


Kamu takut juga ternyata tapi semua percuma kalau permintaan awal ku saja kamu abaikan.


Buat apa pura pura kalau juga merindukan ku Va.


Apa kamu tau perjuangan ku sejak meninggalkan mu hingga sekarang, sangat panjang dan begitu sulit.


Membaca hati dan fikiran sudah biasa Evan lakukan itu salah satu kelebihan dia yang tidak mereka punya selain dia tapi tidak ada yang tau satupun.


Kemampuan itu dia dapatkan saat masih kecil bersama kakeknya dulu sebab kakeknya orang terhebat di masanya.


Bukan cuma itu ilmu yang dia miliki sekarang lebih banyak kakeknya yang mengajari.


"Sepertinya kurang seru kalau langsung saja, kita tunggu nanti saja. "


"Hiks,, hiks,, kenapa Van, kenapa kamu cuma pura pura baik saja sama aku selama ini. "


"Aku salah menilai mu Van, aku kecewa sama kamu. "


"Rasanya biar aku berakhir ditangan mereka dari pada di tangan teman ku sendiri Van.Aku ngak sanggup"


Menangisi kisah pertemanan dia sama Evan yang memiliki niat tersembunyi.


Menyesal telah percaya begitu saja sama teman beda alamnya itu.


Bodoh jika tidak ada niat lain jika mereka berbeda seandainya dia ingat sesama manusia saja membenci bahkan menyisihkan dia apa lagi mereka yang berbeda.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, bagaimana aku akan keluar dari sini. "


"Maafkan aku Van, sebenarnya aku ngak marah lagi sama kamu ,kamu kan tau aku sulit menerima hal baru apalagi kamu pergi tanpa pamit tapi sekarang percuma semua sudah berbeda ngak mungkin kamu merubah keputusan mu itu. "

__ADS_1


Penyesalan begitu menyelimuti Eva sekarang, dia begitu rindu sosok teman yang selalu ada buat dia tapi sekarang sudah berubah tidak ada lagi yang peduli sama dia.


Di balik pintu itu Evan masih setia berdiri disana mendengarkan semua perkataan Eva yang mengayat hatinya.


Setiap kata yang keluar dari mulut Eva terasa seperti pisau yang menggores dirinya begitu perih tapi bingung mau berbuat apa.


"Maafkan aku Va, aku terpaksa melakukan ini sama kamu. "


"Andai kamu mau menerima permintaan maaf ku mungkin aku bisa merubah rencana ini dan tidak menyakiti mu. "


Evan melangkah menjauh dari kamar itu tapi sebelumnya memastikan dulu kalau itu aman dan tidak kecolongan lagi seperti tadi.


Dia rindu juga temannya itu sama saat awal mereka bersama bahkan Evan selalu menemani Eva walau kadang diam saja memperhatikan setiap kegiatan Eva, sebab Eva tidak selalu sendiri yang bisa di ajak bicara.


"Aku rindu kamu yang dulu Va, rindu saat kamu awal melihat ku dengan ekpresi terkejut juga takut apalagi saat aku ngak napak di tanah. "


"Rindu kamu saat tersesat di hutan itu kamu selalu bergantung pada ku untuk bisa keluar dari sana. "


"Kamu tau kah kalau aku juga Sekolah di tempat mu dan kita juga satu kelas. "


"Aku mau jujur tapi kamu ngak beri aku kesempatan bicara sedikitpun. "


Pandangan lurus kedepan menerawang jauh entah kemana.


Mengingat masa mereka masih bersama dulu menemani Eva Sekolah hingga sekarang mereka Sekolah bersama tanpa Eva sadari.


Saat pertemuan awal masuk sekolah Evan tau kalau Eva merasa kalau mereka seperti pernah bertemu karena sudah lama berpisah Eva kurang ingat kalau itu Evan dia tidak salah tapi tidak tau siapa.


Pulang Sekolah pun sama Evan selalu mengawasi Eva dari jauh hingga aman sampai rumah dan memantau hingga kakak Eva pulang jika Eva sendiri dirumah.


Tapi entah kenapa malam itu Evan lengah hingga Eva di culik hingga tersesat jauh dari dunianya.


Jangan lupa tinggalkan like, komo, rate and vote.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2