TEMAN BEDA ALAM

TEMAN BEDA ALAM
Sekilas Memori.


__ADS_3

Efi masih diam melihat bangunan yang berdiri kokoh di depan nya sekarang,segelintir tanda tanya memenuhi kepalanya.


Yang jelas itu rumah siapa dan kenapa di dirikan di atas tanah peninggalan orang tuanya.


Selama ini setelah melihat rumah lama itu rata dengan tanah Efi tidak pernah mendengar ada yang akan mendirikan rumah lagi di lahan itu.


Tapi apa yang di lihat di depan matanya,bangunan itu sungguh sangat kokoh dari yang lama dan jangan lupa bangunan itu jauh lebih besar serta terdapat dua lantai di sana sudah bisa di pastikan sekarang jauh lebih luas dan sangat nyaman buat di tinggali.


Namun masih bingung itu rumah siapa karena Sarah juga tidak pernah membahas rumah itu lagi setelah dia ratakan dengan tanah atau ingin mendirikan dengan bangunan baru.


"Bi ini rumah siapa?."


Cuma satu kata itu yang terlontar dari mulut Efi karena cuma ingin memastikan siapa pemilik bangunan itu.


"Kamu akan tau kalau sudah masuk ke dalam,ayo."


Bibi membuka pagar rumah itu.


Ya rumah itu lengkap dengan pagar sekeliling rumah hingga tampak mewah walau berdiri di daerah perkampungan.


Pintu besar itu terbuka memperlihatkan isi apa saja yang ada dalam rumah itu.


Semua sudah lengkap mulai dari sofa di ruang keluarga,foto lama Efi yang tertinggal dulu kini di pajang lagi dengan figura baru.


Di tambah juga foto lama Bunda Sena masih muda dulu tidak lupa foto pernikahan Sena yang terpajang besar tepat di depan ruang keluarga.


Hingga sampai foto masa kecil Efi dan Eva.


Melangkah lagi ke dapur di sana sudah ada meja makan,kompor gas wastafel kamar mandi serta lemari pendingin.


Efi membuka lemari pendingin itu di lihat isinya penuh lengkap bahan masakan.


"Bi ini siapa yang melakukan semua ini?.


Kenapa ngak bilang dulu sama aku biar bagaimana pun ini peninggalan Ayah Bunda.


Dan ini (memperhatikan isi lemari pendingin yang dia buka) kenapa isinya penuh semua?


Siapa yang tinggal di sini hingga lengkap semua?."


Efi heran rumah itu bersih terawat tapi tidak melihat siapa yang tinggal di sana.


Melangkah masuk kamar di lantai bawah,desainnya masih sama dengan rumah lama hanya ukuran yang beda.


Efi masuk kamar tempat dia tidur selama ini,kasur,lemari,kamar mandi semua lengkap dan juga ada foto Efi di dinding dengan ukuran besar tidak lupa foto pernikahan Efi dan Renal.


"Ini(memegang foto pernikahannya) siapa sebenarnya yang melakukan semua ini Bi?."


Air mata Efi tidak bisa dia bendung lagi kini tumpah dengan sendirinya tanpa bisa di cegah.


Renal yang sedari tadi mengikuti Efi memegang pundak Efi biar tidak ambruk duduk di lantai.


Termasuk semua orang yang mengikuti sedari tadi hanya jadi pendengar serta penonton yang setia.


Terharu apa yang mereka lihat sungguh pemandangan yang sangat menyentuh hati apa lagi bagi yang sudah mendengar cerita bagaimana rumah lama itu rata dengan tanah.


"Kamu akan tau secepatnya Fi.


Dia tau kamu akan ke sini jadi menyediakan semuanya biar ngak susah selama di sini."


Bibi sudah berjanji pada orang itu kalau dia tidak akan memberi tau siapa yang melakukan itu semua.


Efi duduk di ranjang di tuntun Renal.


Efi tidak mampu berkata apa apa lagi,sungguh itu kejutan terindah dalam hidupnya.


Di saat dia lagi giat mengumpulkan uang buat membangun rumah itu lagi tapi tanpa dia sadari rumah itu sudah berdiri kokoh lagi hingga rasa haru tidak bisa dia sembunyikan.


"Sekarang kalian semua istirahat dulu pasti masih capekkan,Bibi tinggal dulu kalau ada yang di perlukan tinggal datangi rumah Bibi."


Bibi undur diri buat balik lagi ke rumahnya meninggalkan mereka semua menikmati hari libur itu.


Eva gadis itu berlari keluar kamar kakaknya dan masuk ke kamar dia juga.


Bahkan yang lain mengikuti langkah Eva meninggalkan pasutri itu dan memilih mengikuti Eva.


Eva tertegun melihat isi Kamar yang hampir sama dengan Efi tapi bedanya kamar Eva lebih banyak foto yang terpajang sepanjang dinding..


Mulai dari foto Eva Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas serta kuliah.


Semua lengkap tapi satu foto yang menarik perhatian Eva hingga dis mendekat buat memastikan kalau dia tidak salah lihat.


Perhatian Kevin juga teralihkan pada foto yang Eva tuju dapat dia lihat kalau wajah orang yang ada dalam foto itu sama dengan dia hanya saja tempat objek foto itu yang Kevin tidak tau.


"Kenapa foto ini ada di sini juga?."


Itu yang menjadi tanda tanya Eva sekarang,siapa gerangan yang menaruh foto itu dalam kamarnya.


Bahkan jika dia ingat tidak ada yang tau tentang orang yang ada dalam foto itu lalu kenapa foto itu juga ada di antara foto yang banyak itu.


"Ternyata sangat mirip."


Ucap Kevin tepat di telinga Eva hingga Eva menoleh pada suara Kevin hingga wajah mereka berjarak sangat dekat.


Dengan cepat Eva memberi jarak wajahnya dengan Kevin.


Lalu Eva menaruh foto itu dalam lemari takut banyak yang melihat orang yang ada dalam foto itu dan menanyakan alhasil Eva akan sulit menjawab.


"Kenapa di simpan?."


Heran Kevin kenapa Eva menyimpan foto itu apa ada yang Eva sembunyikan dari dia.


"Aku cuma ngak mau banyak yang liat dan mereka banyak tanya lalu menanyakan di mana dia sekarang atau mungkin mereka akan beranggap dia spesial buat aku.


Dan juga aku ngak tau kenapa foto ini ada kan kamu tau cuma kamu yang aku ceritakan tentang dia."


Jelas Eva setelah menyimpan foto itu,mungkin nanti dia bisa mencari tau siapa yang menaruh foto itu.


"Juga kalau aku bilang itu foto kamu,mereka ngak akan percaya sebab kita kenal bukan dari dulu dan kamu bisa liat latar foto itu dimana pasti ngak tau kan.


Dari pada banyak pertanyaan nanti lebih baik mereka ngak lihat."


Yang lain hanya sibuk memperhatikan foto Eva yang lain jadi belum menyadari keberadaan foto itu.


"Bukan karena kamu menyimpan rasa sama dia."


Pertanyaan macam apa itu yang Kevin ajukan.


"Itu pertanyaan macam apa sayang,kamu kan tau kalau kita beda kalau kita sama mungkin bisa aku pertimbangkan."


Jawaban Eva membuat hati Kevin terbakar tapi tidak ada apinya.


Rasanya mendidih tapi bukan air panas.


"Oh gitu jadi kalau dia sama dengan kita kamu akan memilih sama dia."


Kevin pergi meninggalkan kamar Eva dengan perasaan cemburu dalam dada.


Secara tidak langsung Eva sudah mengatakan kalau dia memiliki sedikit rasa pada sosok itu.


"Cemburu dia."


Eva hanya menggeleng kepala melihat Kevin pergi keluar.


Membiarkan saja tidak ada niat mengejar lagian Eva tidak serius sama ucapannya tadi hanya menguji Kevin saja.


"Va Kevin kenapa kok keluar dengan wajah kesal gitu?."


Sandra menghampiri Eva yang maaih berdiri di sana.

__ADS_1


"Cemburu dia sama ini."


Eva melihatkan foto itu sama Sandra hingga ekpresi kaget tidak bisa bohong.


"Ini kenapa bisa ada di sini?dan juga sejak kapan kamu punya foto dia?bukannya dia ngak tau kabar di mana."


Eva menyimpan foto itu lagi cuma melihatkan sebentar saja.


"Aku juga ngak tau San,makanya aku simpan aja biar ngak ada yang liat lagi.


Kamu kan tau dia hilang bak di telan bumi,aku juga ngak tau kenapa foto nih foto ada di sini."


Jelas Eva yang tidak tau apa apa tentang keberadaan foto itu.


Mereka semua keluar kamar menuju ruang keluarga,berkumpul disana tapi lebih tepatnya para lelaki saja sedangkan yang cewek lagi memasak di dapur.


Kevin cowok tampan itu masih memasang wajah kesal sebab Eva tidak menghampiri atau membujuk dia sama sekali.


Menjadikan mood dia jelek saja di hari pertama di sana.


"Vin wajah kenapa kayak cucian kotor?perasaan tadi baik baik aja.


Kayak orang kurang jatah aja."


Gurau David mencairkan suasana kan tidak lucu jauh jauh datang kesana tapi wajah di tekuk.


"Ngak apa bang,mungkin hanya kecapekkan aja.


Aku mau istirahat aja ya."


Kevin masuk kamar yang berada telat di samping kamar Eva,sengaja atau tidak Kevin langsung masuk kamar itu.


"Aneh dia,tampang bukan seperti orang capek tapi lebih tepat kesal."


Bodo amat sama Kevin mungkin benar dia lagi capek.


Membiarkan Kevin istirahat sendiri mereka lebih memilih berbincang dengan yang lain di temani cemilan sambil menunggu masakan matang.


Mereka asik mengobrol hingga masakan selesai tapi makanan itu tidak di tata di atas meja melainkan di atas tikar,Efi rindu duduk lesehan yang sudah lama tidak dia rasakan.


"Va panggil Kevin sana,tadi dia istirahat katanya capek.


Dia ada di kamar samping kamar kamu."


Suruh David agar bisa makan bersama.


Sebelum nanti sore Efi dan Eva akan pergi ke makam orang tuanya buat ziarah,tidak mau menunda karena tujuan utama yaitu ziarah jadi tidak mau menunggu hari esok.


"Iya,semuanya makan duluan aja ngak usah tungguin aku sama Kevin."


Eva pergi ke kamar yang Kevin tempati buat istirahat.


Masuk ke sana pandangannya mengarah pada orang yang berbaring di atas tempat tidur.


Mendekat lalu menggoyang badan Kevin pelan.


"Sayang bangun,kita makan dulu nanti lanjut lagi istirahatnya."


Tapi Kevin tidak melihatkan pergerakan akan bangun,tidak terusik sama sekali atas guncangan yang Eva berikan pada badannya.


"Bangun dulu sayang,aku tau kamu tidur ngak akan susah di bangunin.


Jangan kayak gini,kamu marah sama aku?.


Ayolah jangan ambekan ngak jelas gini.


Udah lah mungkin kamu masih capek lanjutin istirahatnya ya aku mau makan dulu."


Tapi baru satu langkah tangan Eva sudah di cekal sama Kevin.


Hingga tidak mau Eva membalikkan badan tapi mata Kevin masih terpejam.


"Kalau mau marah lanjut aja sana.


Sekarang liat apa yang ada di depan mata aja,kalau aku ngak sama kamu sekarang belum tentu aku memilih dia juga di masa lalu kamu tau apa alasannya karena hati ini yang memilih bukan aku sendiri.


Jadi sampai sini aku harap kamu paham.


Sekarang bangun kita makan siang bersama."


Ujar Eva panjang lebar,dia juga tidak mau membiarkan masalah berlarut larut.


Lebih cepat lebih baik menyelesaikan masalah lagian ini cuma masalah kecil.


"Maafin aku sayang,aku hanya cemburu aja.


Kalau menyangkut kamu aku ngak bisa berfikir jernih,kamu terlalu berharga buat aku dan juga udah lah pokoknya maafin aku ya."


Kevin duduk dari pembaringan dengan masih memegang tangan Eva.


Mengakui kalau dia cemburu.


"Ingat cemburu ngak baik buat kesehatan terutama hati.


Dan juga cemburu kamu membuat aku makin sayang aja.


Yuk makan yang lain udah makan duluan."


Dengan senang Kevin Mengikuti langkah Eva keluar.


Jawaban Eva tadi sudah membuat hati dia tenang dan lega.


Kenapa juga dia bisa cemburu pada orang yang entah dia mana dan juga berbeda dari mereka,memang ya cemburu itu tidak memandang pada siapa.


"Cih di datangi Eva aja tuh muka udah berseri lagi.


Kamu kasih mantra apa Va?."


Tanya Bastian heran sama sahabat oroknya itu,gampang sekali berubah mood hanya dengan Eva saja.


Kevin tidak menjawab namun menunggu Eva mengambilkan makanan buat dia.


Siang ini sungguh beda dari siang lainnya mereka semua seperti pasutri baru pergi bulan madu.


Tapi cuma satu pasutri beneran dan yang lain masih belum tau kapan.


Selesai makan siang dan santai sebentar Efi ingat akan pergi ke suatu tempat.


"Aku sama Eva akan pergi ke makan orang tua kami.


Kalian mau ikut atau menunggu di sini aja?."


Efi mengerti keadaan mereka yang lelah akibat perjalanan jauh.


Tidak mungkin mereka mau ikut bersama juga.


"Kita di sini aja ya,ngak ikut ngak apa kan kak?."


Ucap Sisi tidak ikut bersama ingin memilih istirahat di rumah saja.


"Ngak apa kalau mau istirahat,pakai kamar mana yang suka aja.


Kita pergi dulu."


Efi pergi bersama Eva,Kevin dan Renal.


Cuma dua orang itu yang ikut Efi.


Jarak tempuh ke sana tidak terlalu jauh hanya berkisar lima menit dari rumah dengan jalan kaki.

__ADS_1


Letaknya agak masuk ke dalam hutan belakang rumah itu hingga hanya dengan jalan kaki untuk bisa sampai sana.


Sampai tempat tujuan di sana dapat di lihat beberapa gundukan tanah yang berjejer rapi.


Terdapat dua gundukan tanah yang sudah hampir tetutup rumput yang menutupi permukaan.


Efi mendekat pada dua gundukan itu lalu bersimpuh melihat secara seksama.


Perlahan Efi dan Eva membersihkan secara perlahan hingga gundukan tanah itu bersih tidak ada satu rumput di atas sana.


"Assalamu'alaikum Ayah Bunda maafin kami yang baru datang mengunjungi Ayah dan Bunda.


Bagaimana kabar Ayah Bunda di sana kami harap bisa tenang ya,jangan cemaskan keadaan kami lagi.


Kami sudah bertemu keluarga Ayah Bunda mereka semua baik menerima kehadiran kami.


Kenalkan ini (memegang tangan Renal) menantu Ayah Bunda dia juga dosen Eva di kampus.


Ganteng ya yah tapi masih gantengan Ayah kemana mana kok,ngak ada yang bisa menandingi kegantengan Ayah."


Efi tidak bisa membendung air mata di pipi hingga dengan gerakan pelan Renal mengusap air mata Efi.


"Ngak nyangka aja anak Ayah Bunda dapat jodoh orang kota,tau ngak Yah Bun Renal juga tetangga kakek mungkin Ayah sama Bunda tau keluarga Renal.


Bunda tau ngak mama Sarah udah kumpul lagi sama keluarga lain dan memilih merawat kakek."


Sungguh hati Efi perih jika bercerita sama orang tuanya walau tidak ada jawaban tapi setidaknya bisa mencurahkan isi hati.


"Assalamu'alaikum Ayah Bunda,kangen ngak sama si bungsu?si bungsu Ayah Bunda udah besor loh,ngak kecil lagi seperti saat di tinggal dulu,udah ngak ingusan lagi,udah ngak cengeng lagi.


Si bungsu ini udah kuliah dan bentar lagi udah mau magang lalu wisuda.


Andai Ayah Bunda masih sama kita pasti aku akan jadi orang paling bahagia karena saat wisuda nanti ada Ayah Bunda yang menemani."


"Ayah sama Bunda baik baik ya di sana jangan cemaskan kami lagi,sudah ada keluarga yang selalu menyayangi serta melindungi kami.


Kenalkan ini Kevin calon menantu Ayah Bunda restui hubungan kami ya,doakan semoga semua rencana kami berjalan lancar."


Sudah Eva tidak bisa bicara panjang lebar lagi hanya air mata yang mewakilkan bagaimana perasaan dia sekarang.


"Assalamu'alaikum om taste aku Renal istri Efi,maaf sebelum menikah tidak meminta restu dulu.


Aku janji akan selalu menjaga Efi serta memastikan kebahagian dia bersama aku."


Ucap Renal tidak bisa banyak bicara,perasaan dia larut sama suasana yang tercipta di sana.


"Assalamu'alaikum om tante aku Kevin insha Allah jika Allah mengizinkan dan om tante merestui aku ingin mempersunting Eva untuk di jadikan istri serta Ibu buat calon anak kami kelak.


Makasih udah melahirkan peri cantik seperti Eva serta takdir yang mempertemukan kami hingga bisa bersama hingga sekarang.


Kalau tuhan memberi umur panjang buat kami maka hubungan ini akan segera aku halalkan di jalan Allah.


Mohon restui hubungan kami aku janji selama nafas ini masih di raga,selama jantung masih berdetak,maka selama itu kebahagian Eva aku jamin selalu menyertai dia."


Ujar Kevin panjang lebar,bicara pun sangat lancar seperti orang lagi membaca buku tidak ada keraguan.


Semua terdengar tulus apa adanya tidak ada jeda atau berfikir dulu buat bicara.


Apa sebelum itu sudah ada persiapan atau terucap begitu saja,entah hanya Kevin dan tuhan yang tau.


"Ayah Bunda kami pamit dulu,lain waktu kami datang lagi ya.


Istirahat yang tenang Assalamu'alaikum."


Ke empat orang itu meninggalkan makam orang tua Efi dan Eva mengingat waktu sudah mau sore, matahari sudah rendah juga.


"Berbahagia lah sayang kami selalu mendoakan yang terbaik buat kalian dan bahagia bersama pilihan kalian.


Kami merestui setiap langkah dan pilihan kalian.


Selamat berbahagia."


Setelah itu bayangan itu menghilang bersamaan dengan semakin jauh mereka pergi.


Eva menoleh ke belakang dapat melihat sekilas ada sosok yang berdiri di belakang mereka sebelum menghilang.


Bunda itu Bunda tadi.


Beneran Bunda kan aku ngak salah lihat.


Tidak bisa memberi tau pada yang lain sebab hanya dia yang bisa melihat sendiri jadi hanya bisa diam saja.


Kevin hanya dia yang tau apa kata yang Eva ucapkan hingga melihat ke belakang juga tapi tidak melihat apa apa ada di sana.


Hingga Kevin menarik tangan Eva untuk memisahkan diri dari Efi dan Renal.


Kini mereka berdua lagi duduk santai di sudut belakang rumah yang ada kursi tapi masih dalam perkarangan rumah Eva.


"Kamu tadi liat Bunda sayang?."


Penasaran tentu saja sudah pasti karena dengan bodohnya juga tadi Kevin menoleh ke belakang padahal nyatanya tidak bisa melihat apa juga.


"Iya tapi cuma sekilas terus menghilang lagi."


Lesu Eva andai tadi bisa melihat lebih lama setidaknya bisa mengobati rasa rindu selama ini bisa melihat langsung.


"Kamu bisa anggap mama seperti Bunda kok kan bentar lagi bakal jadi menantu mama."


Hibur Kevin biar Eva tidak larut dalam kesedihan karena cuma sebentar bisa melihat bundanya.


"Iya aku tau tapi aku kan pengen liat Bunda langsung tapi keburu menghilang tadi."


Rasa rindu seorang anak pada orang tua tidak mudah di obati apa lagi orang itu sudah tiada di tambah ada jarak yang memisahkan mereka.


Walau ada orang lain ingin menggantikan tapi rasanya sudah pasti berbeda dan juga rasa dekapan beda juga.


"Jangan sedih dong nanti Bunda ikutan sedih kalau liat anak gadisnya bersedih.


Ingat harus bisa menerima semuanya dan juga masih banyak yang menyayangi kamu sayang.


Mana Eva aku yang kuat dan ceria masa gini aja lemah."


Eva menunduk masih ada sedikit rasa sedih di hatinya walau kejadian itu sudah terjadi belasan tahun lamanya.


"Kamu jelek tau sedih gitu."


Bisiknya tepat di telinga Eva.


"Kamu bilang apa sayang?Kamu bilang aku jelek kalau sedih."


Mendongak melihat Kevin tapi yang di tanya menyerngit heran mendengar ucapan Eva dan tampak Eva tidak terima di katai begitu.


"Kapan aku bicara perasaan aku diam deh sayang."


Kevin juga bingung kapan coba dia bilang kata kata itu.


Lagian mana berani dia bilang Eva jelek jika kenyataannya Eva sungguh cantik di mata Kevin dalam ke adaan apa pun.


\=\=\=\=\=


*Jangan lupa


like


komen


vote


Makasih

__ADS_1


I LOVE YOU ALL 😍😘😍😘❤😍😘😙😗🤗*


Tbc.


__ADS_2