
Walau kejadian itu sudah lama berlalu tapi ingatan tentang kejadian itu kadang masih suka terlintas dalam fikiran Eva juga itu sangat mengganggu aktifitasnya.
Kejadian yang sulit dia lupakan serta itu merupakan ke jadian terberat yang pernah ada selama dia lalui dari banyak kejadian.
Rasa sayang yang dia miliki terhadap laki laki itu hingga segala ke janggalan dia abaikan dan menganggap itu hanya kebetulan dal yang biasa.
Jika saja dia lebih waspada kala itu mungkin kejadian itu bisa di antisipasi atau di cegah sebelum terjadi.
Malam menjelang Eva duduk melamun di dalam kamarnya seorang diri biasanya ada saudara perempuan yang menemani sebelum mereka tidur tapi malam ini mereka pada sibuk dengan rutinitas sendiri hingga Eva memilih masuk kamar setelah makan malam tadi dan berkumpul sebentar bersama yang lain.
"Kenapa kejadian itu masih suka terlintas dalam fikiran ku,aku ingin sepenuhnya melupakan kejadian itu dan ingin hidup damai seperti yang lain.
Rasanya itu seperti beban berat yang harus aku pikul sendiri kadang aku berfikir lagi rasanya ngak mau harus mempunyai"
Membaringkan badan ke atas ranjang dengan pandangan menatap langit langit kamar yang sengaja Eva hias dengan bintang,bulan serta benda langit lainnya yang jika di matikan lampu tempelan itu akan bercahaya seperti menatap langit sungguhan.
"Aku masih ingat di mana dulu harus berjuang sendiri buat melarikan diri dari mereka yang ingin menangkap ku serta saat kakak dan Kevin datang aku malah menghindar takut itu hanya sebuah jebakan saja."
Malam ini sulit sekali Eva buat tidur hinnga dia yang suka datang tiba tiba ikut duduk di samping Eva yang lagi tiduran.
Eva abaikan karena dia lagi larut dalam lamunan jadi tidak tau kalau sekarang tidak sendiri dalam kamar itu.
"Mikirin apa?."
Sunyi kamar itu tidak ada suara.
"Mikirin aku ya?."
Memang dia makhluk paling percaya diri di antara sesama jenisnya.
Tapi dengan kehadiran dia selama ini cukup membuat Eva terhibur karena dia ada saat Eva lagi butuh atau lagi sendiri seperti sekarang.
"Kamu bicara sama aku Van?."
Iyalah sama dia sama siapa lagi coba kan cuma mereka berdua yang ada di kamar itu.
"Bukan aku bicara sama lampu itu."
Siapa yang tidak kesal coba,cuma ada mereka berdua malah bertanya bicara sama siapa,bayangkan saja masa iya bicara sendiri walau Evan bukan manusia seperti Eva dia juga bisa mikir mikir lagi buat apa bicara kalau tidak ada teman yang bisa di ajak bicara.
"Emang lampu bisa bicara ya?kok aku ngak tau."
Boleh tidak Eva di sleding Evan sedikit saja buat meluapkan rasa kesalnya terhadap gadis cantik itu.
Bukan marah tapi gemas sama jawaban tanpa dosa itu,ingin jitak takut marah,ingin peluk takut kena gampar ya udah diam saja jalan satu satunya.
"Va."
__ADS_1
Menekan nama Eva supaya sadar kalau dia lagi bicara dan mau di anggap juga.
"Maaf maaf aku tadi lagi ngak di sini fikiran ku."
Sadar Eva kalau temannya itu mulai kesal karena Eva tidak fokus sama dia.
Bisa juga dia kesal Eva kira yang dia bisa bikin orang kesal.
"Mikirin apa?."
Mengulangi pertanyaan yang tadi karena belum dapat jawaban.
"Mikirin kejadian dulu yang waktu aku hilang tapi kamu ngak ada."
Sindir Eva pada temannya yang dulu pernah berjanji akan selalu ada buat dia tapi nyatanya dia malah pergi tanpa pamit serta tidak ada saat Eva butuh dia waktu itu.
"Maaf waktu itu aku ngak sempat pamitan sama kamu karena memang aku lagi buru buru dan juga udah urgent.
Kejadian yang lalu jangan di fikirkan lagi itu hanya masa lalu dan sekarang sudah ada aku yang akan jaga kamu di sini.
Mulai sekarang aku akan jaga kamu selalu dan terima kasih udah mau terima aku kembali,aku senang bisa sama kamu lagi Va."
Senang kembalinya Evan bisa Eva terima walau sampai sekarang Evan belum bisa cerita kenapa dulu dia pergi gitu saja dan Eva maklumi lagian tidak semua masalah harus di cerita kan dan membiarkan itu jadi rahasia Evan sendiri kalau dia mau cerita maka dengan senang hati Eva akan dengarkan.
"Itu kejadian terberat yang pernah aku lalui sendiri.
Flashback.
Melihat perubahan wajah pada wajah Kevin Eva berusaha lepas dari dia,sebisa mungkin keluar dari mobil itu.
Hingga saat Eva keluar dan berlari sejauh yang dia bisa serta tidak melihat jalan kemana dia akan pergi yang ada dalam fikiran Eva hanya bisa menjauh dari dia.
Sesekali Eva melihat ke belakang apakah dia masih mengikuti Eva atau tidak.
Mobil itu perlahan juga menghilang dari sana,dia mengikuti Eva dengan berjalan saja dengan seringai yang terbit pada wajah yang menyeramkan itu.
"Larilah sejauh yang kamu bisa,maka aku akan dengan mudah menemukan mu lagi.
Ini wilayah kami maka kamu tidak semudah itu bisa sembunyi."
Mengikuti Eva dari belakang dengan langkah santai menurut dia tapi besar langkahnya melebihi langkah Eva jadi jarak di antara mereka berdua tidak terlalu jauh.
"Bagaimana ini,kenapa dia semakin dekat aja?padahal dia cuma jalan sedangkan aku lari tetap aja dia dekat.
Ya Allah lindungilah hamba,belum mau berakhir di sini dan juga masih ada keluarga yang menunggu aku di rumah.
Jika hidup ku harus berakhir maka aku ngak mau berakhir dengan cara seperti ini setidaknya pertemukan aku dulu sama keluarga aku baru setelah itu terserah engkau."
__ADS_1
Doa Eva dalam larinya bukan dia takut sama ajal tapi caranya Eva tidak mau harus berakhir di sana tanpa akan ada keluarga yang bisa menemukan dia.
Takdir seseorang tidak ada yang tau dan hanya bisa berharap kita mempunyai takdir yang baik serta berakhir dengan cara yang baik juga.
Tapi tidak semua yang kita ingin bisa terwujud atau kita dapat kan ada kalanya takdir suka mempermainkan kita.
Dia masih setia mengikuti Eva sedangkan Eva berlari semampu yang di bisa,rasa lelah perlahan Eva rasakan langkah dia juga sudah terasa berat.
Semua tenaga yang ada Eva kerahkan supaya bisa lepas dari dia.
"Au harus cepat dan cari tempat sembunyi kalau lari terus rasanya tenaga aku udah mau habis."
Jangan lupa dengan menggunakan gamis Eva sedikit sulit berlari dan harus mengangkat bagian bawah baju nya sedikit tinggi supaya bebas melangkah dan juga Eva menggunakan daleman panjang jadi tidak perlu takut kalau mengangkat bajunya sedikit tinggi.
Eva fokus sama jalan yang di lewati takut terjatuh dan malah ke tangkap.
Terus lari hinnga masuk ke dalam sebuah hutan rindang bahkan cahaya matahari susah buat menembus celah daun pohon besar itu.
Dari luar pohon itu tampak biasa sama seperti hutan pada umumnya tapi jika sudah masuk ke dalam sana kita akan di buat bingung karena bentuk tempat yang ada di dalam hampir sama dan juga tidak ada jalan hanya ada semak semak.
"Ini dimana?kenapa pohon di sini begitu besar dan juga bentuknya hampir sama.
Dia masih mengikuti lagi."
Eva melihat dia sedikit jauh dari jaraknya hingga ada sebuah pohon yang di tumbuhi semak yang rimbun Eva memutuskan mendekat lalu sembunyi di sana.
"Semoga aku ngak ke tahuan,aku masih ingin bertemu yang lain dan juga hidup aku masih panjang.
Lagian kalau aku ingin meninggalkan dunia ini bukan harus di tangan dia juga.
Aku percaya tuhan masih sayang sama aku dan aku juga percaya kalau aku bisa keluar dari sini dengan selamat dan berkumpul lagi sama keluarga ku."
Doa Eva serta melafalkan surat surat yang dia bisa sambil menunggu ke adaan aman baru akan keluar.
Cukup lama Eva menunggu sambil terus berdoa supaya dia cepat pergi meninggalkan tempat itu dan Eva bisa keluar dari sana mencari jalan keluar dari hutan itu.
Sekarang disana hari masih siang tapi karena cahaya matahari tidak bisa menembus celah daun hingga ke adaan sekitar seperti sudah sore tapi kalau di lihat ke atas maka nampak terang langit dari balik daun.
Eva larut dalam dalam doanya hingga tidak sadar sudah hampir satu jam dia di sana antara sadar atau tidak sadar ada sebuah tangan yang membekap mulut dia dari belakang hingga membuat dia kaget meronta ingin minta di lepaskan.
\=\=\=\=\=
*Detik detik eps akhir ya..
Kalau banyak dukungan serta tembus like and komen lebih dari seratus aku akan buatkan extra part nya.
Makasih*
__ADS_1
Tbc.