
Malam terus berlalu kini di gantikan sang surya menyambut pagi menyinari bumi.
Pagi ini terasa berbeda di rasakan Eva entah kenapa saat bangun tidur dia merasa senang seperti mendapatkan hadiah besar tapi tidak tau entah itu apa yang jelas dia merasa bahagia saja.
"Kok perasaan aku bahagia gini ya saat bangun tidur. "
Hal pertama yang Eva rasakan lalu duduk mengunci semua kesadarannya sebelum mandi.
"Mungkin karna ada aku bersama kamu Va. "
"Yang ada kalau ada kamu bawaannya marah mulu Van. "
Bukan selalu juga seperti itu tapi cuma bagian kecil saja tidak terlalu di ambil pusing juga anggap saja sebagai candaan dan sebab hidup tanpa candaan itu tidak ada warnannya.
"Tapi suka kan ?. "
Pagi pagi paling bisa menghilangkan aura positif dalam diri.
"Pala mu aku suka yang ada darah tinggi. "
Pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk balik ke Sekolah.
Cuma butuh waktu dua puluh menit Eva keluar kamar mandi dengan pakaian lengkap.
Merias diri sedikit lalu mengemaskan barang bawaan lalu keluar kamar untuk sarapan dan siap pulang.
"Mau kemana Va ?. "
Heran dengan Eva membawa semua barangnya dan meninggalkan kamar itu.
"Pulang lah kalau kamu mau nginap sini silahkan. "
Terus berjalan dengan Evan yang mengikuti dari belakang tanpa harus bertanya lagi.
"Iya ya kan lombanya sudah selesai. "
Menggaruk belakang kepala yang tidak gatal merasa bodoh saja harus bertanya gitu kalau sudah selesai ya balik.
"Ngak mau main disini dulu Va ?. "
Mengajak menikmati waktu disana mumpung ada kesempatan bermain tanpa harus memikirkan pelajaran Sekolah.
"Ngak ada waktu Van kalau main dulu kamu kan tau kesini bareng ya balik harus bareng juga. "
Ada hal lain juga yang harus Eva fikirkan yaitu kakaknya yang sendirian di rumah cuma tiga hari dia pergi tapi sudah lama sekali.
"Pas liburan aja gimana. "
Tawar Evan lagi pasti tidak akan ada gangguan saat libur Sekolah yang sebentar lagi.
__ADS_1
"Lihat nanti aja Van. "
Selain tidak mau meninggalkan sang kakak dia juga memikirkan soal biaya tidak mungkin pergi tanpa ada uang mana mungkin jalan kaki atau makan angin mana bisa kenyang yang ada kembung.
Semua sudah berkumpul untuk sarapan Evan cuma jadi penonton saja selama acara sarapan berlangsung kenapa tidak ikutan makan , ya jelas tidak ikut dengan alasan tidak ada yang mengajak dia ke sana dan yang kedua tidak ada yang bisa melihat dia selain Eva.
Kasian juga kamu Van cuma liatin aja kita lagi sarapan, apa kamu lapar juga ngak ya tapi mana mungkin kamu lapar orang tak kasat mata gitu. Eva melihat Evan yang berdiri dekat dia.
"Lanjut saja sarapan nya jangan liatin aku gitu, aku tau aku tampan. "
Bisik Evan di telinga Eva sambil tersenyum manis semanis gula tapi lebih manis gula sih sudah manis bisa di nikmati lagi.
Selesai sarapan semua menuju mobil lalu masuk siap memulai perjalanan yang melelahkan lagi tapi dengan membawa hasil memuaskan untuk pihak Sekolah.
Beberapa jam perjalanan semua sampai Sekolah dengan selamat semua turun lalu duduk bersantai sebelum pulang kerumah masing masing.
"Va kamu langsung masuk saja ke ruangan kepala Sekolah ya. "
Mengingatkan Eva lagi takut lupa karena lelah dan langsung pulang.
Melangkah menuju ruangan kepala Sekolah dengan perasaan cemas. Sampai disana.
Tok,,, Tok,, mengetuk pintu lalu masuk setelah diizinkan masuk oleh yang punya ruangan.
"Maaf Bapak ada apa manggil aku ?. "
"Ada hal penting yang Bapak sampaikan tapi pertama Bapak ucapkan selamat karna kamu menang lagi dalam lomba kali ini. "
Basa basi dulu sebelum memulai pada tujuan awal.
Semuanya senang mendengar kabar kalau Sekolah mereka menang walau tidak semua dalam mata pelajaran tapi setidaknya ada nama dalam lomba kali ini.
"Makasih pak, aku cuma melakukan yang terbaik buat Sekolah ini dan juga sebagai bentuk bakti aku pada Sekolah karna sudah bisa Sekolah gratis disini. "
Balas Eva sopan memang benar jika dia harus membayar Sekolah disana mungkin tidak akan sanggup dan juga sudah berhenti sejak lama karena kendala biaya.
"Dan satu lagi ini buat kamu. "
Menyerahkan sebuah amplop putih tanpa nama buat Eva membuat Eva bingung.
"Ini apa pak ?. "
Walau bingung Eva masih menerima amplop itu dengan ragu.
"Buka saja kamu akan tau isinya. "
Mempersilahkan membuka amplop itu dengan senyum.
Perlahan Eva membuka dengan pelan dengan rasa penasaran semakin tinggi, tangannya sedikit bergetar takut jika isinya buat dia sedih atau bisa saja beasiswa nya di cabut dari Sekolah.
__ADS_1
Mata Eva memanas menahan tangis, air matanya sudah menganak sungai yang siap tumpah, bibir dia bergetar tidak tau harus bilang apa setelah membaca kata demi kata dalam lembar kertas itu seakan tidak percaya apa yang barusan dia baca.
Rasanya dia lagi mimpi mendapatkan itu apa ini hasil yang dia tanam selama ini tapi dia tidak pernah berfikir sampai sejauh ini bisa Sekolah Gratis sampai tingkatan menengah atas saja dia sudah bersyukur di tambah lagi ini.
"Bapak ini beneran aku dapat ini?. "
Masih belum percaya juga dan memastikan lagi bisa saja itu hanya mimpi.
"Iya kamu pantas dapatkan itu , sekarang kamu boleh pulang istirahat biar besok bisa Sekolah lagi. "
Semua keputusan itu sudah di setujui oleh semua pihak Guru tanpa ada bantahan atau keberatan salah satu pihak sebab selama ini mereka sudah bisa melihat kemampuan Eva selama Sekolah yang tidak perlu di ragukan lagi dan juga itu sudah di putuskan sebelum keberangkatan mereka dua hari lalu.
Keluar dengan mata merah masih berusaha menahan tangis tidak tau bicara apa dan tidak tau juga bagaimana caranya menunjukan ekpresi wajah cuma air mata yang bisa Eva keluarkan.
"Va kamu kenapa keluar ruangan kepala Sekolah malah sedih gitu?. "
Membuat Evan khwatir melihat wajah sedih Eva seperti orang menangis.
Bukan sepertinya Van memang beneran nangis itu gimana sih kamu.
"Aku ngak apa Van, nanti juga kamu tau yuk balik. "
Bukan tidak mau cerita tapi dia mau kakaknya orang pertama yang tau akan berita ini
Susah senang Efi lah yang tau dia luar dalam tidak mungkin dalam kondisi sekarang dia jadi orang kedua yang tau rasanya tidak adik saja menurut Eva sebab selama ini Efi yang bekerja keras buat dia
"Beneran ngak apa nih Va ?. "
Makin penasaran saja dengan jawaban Eva barusan dan sekarang malah diam melanjutkan jalan tanpa menjawab pertanyaan Evan.
"Jawav Va jangan diam saja, jangan bikin aku cemas Va. "
Eva makin diam dengan dengan senyum sebagai balasan dari pertanyaan Evan tapi bukan itu yang Evan mau tapi jawaban kata biar jelas dan dia tidak khawatir lagi.
"Lebih baik diam Van nanti juga kamu akan tau kok. "
Malah menyuruh Evan diam juga bukannya menjawab.
Kadang diam itu mempunyai dua artian yang berbeda, yang pertama dia menandakan kalau semuanya baik baik saja dan yang kedua kalau diam itu sebagai tanda bahwa semua yang terjadi tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata lagi jadi memilih diam.
\=\=\=\=\=
*Jangan lupa like rate komen and vote
Makasih
LOVE YOU ALL 😍😘😍😘❤*
Tbc.
__ADS_1