
Malam hari setelah acara syukuran kecil kecilan itu di adakan dan tamu yang di undang sudah pulang,kini tersisa keluarga inti saja termasuk Efi yang memilih menginap di sana karena rindu sama kamar dia yang ada di sana.
Sebagai suami Renal ikut saja tidak ada salahnya sesekali menginap di rumah mertuanya itu walau rumah orang tuanya hanya di depan rumah itu saja.
Cukup lama berbincang satu persatu dari mereka memasuki kamar masing masing tapi tidak dengan Eva.
"Ma aku boleh ngak masuk kamar kakek sebentar?."
Izin Eva entah mengapa tiba tiba dia rindu sama sosok kakeknya itu yang sudah beberapa bulan ini meninggalkan mereka semua.
"Boleh Va,siapa saja boleh masuk kamar kakek.
Kamar itu sengaja mama kosongkan supaya saat masuk kamar itu kita merasakan kehadiran kakek."
Satu kali seminggu Sarah selalu membersihkan kamar itu sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga.
Kegiatan sudah lama Sarah jalani sejak pindah lagi ke rumah itu.
Dengan merawat kamar itu rasanya Sarah masih seperti merawat kakek maka dari itu dia ingin melakukan sendiri saja.
"Makasih ma."
Setelah dapat izin Eva masuk kamar kakek dengan perasaan senang.
Di bukanya pintu itu secara perlahan tampak suasana kamar itu redup hanya satu lampu yang hidup karena kakek tidak terlalu suka cahaya terang dengan alasan sakit mata karena cahaya lampu maklum faktor umur juga mempengaruhi.
Di dalam kamar Eva mengelilingi setiap sudut kamar itu memang terasa seperti masih ada kakek dalam kamar itu tidak ada yang berubah.
Eva hanya pernah beberapa kali masuk kamar itu sejak tinggal di sana.
Foto foto kakek terpajang rapi mulai dari dia muda bersama nenek hingga sampai dia tiada semua lengkap.
Mungkin kakek sengaja mengambil foto itu sebagai kenangan buat anak cucunya nanti dan terbukti sekarang Eva bisa melihat foto itu saja.
"Kek apa kabar,aku rindu sama kakek.
Rasanya baru kemarin ya kita jumpa dan kini kita sudah berpisah lagi.
Kenapa kakek ngak nunggu cicit kakek lahir dulu dan bisa memanggil kakek dengan sebutan kakek buyut.
Kalau mendengar dia manggil kakek gitu udah ngak bisa di pungkiri kalau kakek beneran udah tua ya."
"Dari sekian banyak kasih sayang yang kakek berikan kenapa ini yang aku rasa kurang adil.
Kakek tau kenapa karena saat kak Efi nikah kakek ada di sana tapi kenapa saat aku nikah kakek ngak ada.
Kakek tau kan impian aku berkumpul sama keluarga itu sudah ada sejak dulu hanya saja aku ngak pernah mengatakan pada siapa pun.
Dan saat semua itu sudah terwujud malah kakek mengingatkan aku pada sebuah rasa sakit akan perpisahan."
__ADS_1
Walau sudah ikhlas melepas kepergian kakek tapi belum sepenuhnya sebab apa lagi seperti Eva yang tidak lama merasakan semua itu sudah pasti berat melepas.
Rindu ya rasa rindu itu kerap kali Eva rasakan pada sang kakek.
Tapi di balik semua itu Eva masih beruntung kadang sesekali masih bisa melihat sang kakek walau tidak lama beda dengan yang lain tidak bisa.
"Kakek yang tenang ya disana di sini aku akan selalu mendoakan kakek supaya dapat tempat terbaik di sisinya."
Eva keluar dari kamar itu setelah mematikan semua lampu yang dia hidupkan lagi.
Melangkah menuju kamar namun sebelum sampai kamarnya dan melewati kamar yang di tempati Efi dia mendengar suara orang seperti menahan rasa sakit.
"Mas Re ini sakit banget aku ngak tahan."
Efi mengeluh sakit pada perutnya itu tidak tau apa penyebabnya.
**tok,,,
tok,,,
tok**,,,
"Kak,kakak kenapa?."
Eva mengetuk pintu pelan supaya tidak ada yang terganggu karena ini juga sudah tengah malam.
Evan yang di samping Eva membuka suara,walau dari tadi sama Eva tapi hanya diam saja.
"Ngak tau Van,aku takut terjadi sesuatu sama kakak."
Cemas memikirkan kakaknya dan juga pintu belum ada yang membuka.
"Kak buka pintunya,aku mau liat ke adaan kakak."
Beberapa saat kemudian pintu di buka oleh Renal dengan raut wajah buram.
Eva langsung lari ke arah Efi berbaring dengan wajah pucat dan keringat membanjiri wajah.
"Kakak kenapa?apa yang kakak rasakan?."
"Perut kakak sakit dek dan seperti ada yang mencubit lalu di tariknya setelah itu di lepas,rasanya sakit banget kakak ngak kuat."
Jelas Efi pelan karena sudah tidak punya tenaga lagi sedangkan Renal memegang tangan Efi buat memberikan kekuatan.
"Iya Va dan itu akan terulang setiap sepuluh menit sekali."
Tambah Renal dan kasihan melihat istrinya menahan rasa sakit itu kalau bisa ingin dia menggantikan saja jangan istrinya itu.
Perut Efi sudah kelihatan buncit karena ini sudah memasuki bulan kelima.
__ADS_1
"Va kayaknya ada yang mau ganggu kakak deh dan sekarang dia lagi ngak di sini."
Bisik Evan ketelinga Eva tapi tunggu kenapa Evan harus bisik bisik kan tidak akan ada yang bisa mendengar dia bicara.
Eva terus mengajak kakaknya bicara dan sesekali melafalkan ayat ayat pendek buat menenangkan juga.
Tidak cukup lama Efi menjerit kesakitan sambil memegang dan memukul perutnya dengan tangan seperti mengusir sesuatu yang ada di atas perut itu.
"Kak jangan di pukul terus ya kasihan dedek bayinya."
Eva dapat melihat sosok besar dan hitam yang berada dekat kakaknya dan hal sama apa yang di ceritakan Efi tadi beneran terjadi.
Dia saja yang melihat merasa ngilu bagaimana dengan Efi yang merasakan langsung.
Evan sebisa dia juga mengusir sosok itu dari sana,bukan hal mudah bagi Evan sebab kekuatan Evan dan dia hampir sama jadi membutuhkan waktu juga.
Eva terus melantunkan ayat ayat buat membantu di sana di ikuti Renal.
Satu jam berlalu Efi sudah mulai tenang dan tertidur,mereka bernafas lega karena Efi dalam satu jam ini tidak menjerit kesakitan lagi.
"Bang sejak kapan kakak seperti ini?."
Bisa Eva lihat bagaimana Efi kesakitan tadi.
"Baru kali ini Va dan abang juga ngak tau apa sebabnya tadi sebelum tidur ngak apa,baru setengah jam dia mengeluh sakit dan makin lama makin kuat sakitnya."
Efi tidak pernah mengalami ini sebelumnya saat di rumah orang tuanya.
"Bang Re kalau bisa untuk seterusnya sampai kakak melahirkan ngak usah nginap di sini dulu ya ngak baik buat kandungan kakak.
Dan juga kalau bisa putar terus audio orang baca surat surat kalau misalnya abang ngak sempat."
Nasehat Eva pada Renal karena kejadian ini tidak ingin terulang lagi.
"Iya Va makasih ya udah bantuin abang tadi."
Lega karena di saat seperti ini ada Eva yang menolong dia kalau tidak,Renal sendiri tidak tau akan samapi kapan Efi akan merasakan sakit.
"Santai aja bang,sudah jadi tugas aku bantuin kakak sendiri.
Kalau gitu aku ke kamar dulu ya bang.
Abang juga tidur aku jamin kakak ngak akan bangun kesakitan lagi."
Eva keluar kamar setelah memastikan kalau Efi benar benar sudah tidur.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1