
Setiap waktu yang telah berlalu tidak bisa buat di ulang lagi,kita hanya bisa mengenang semua itu.
Di mana masa yang paling jauh adalah masa lalu karena masa lalu itu di bilang jauh sebab satu menit yang lalu itu sudah di katakan masa lalu walau kita masih berada di waktu yang sama tapi di menit yang berbeda tapi masa depan adalah hal yang belum kita tau akan seperti apa tapi setidaknya kita bisa merencanakan masa depan seperti apa.
Maka dari itu kita harus bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebab penyesalan datang belakangan kalau di depan namanya resepsionis atau pendaftaran.
Setiap waktu yang sudah kita lalui pasti akan ada yang namanya penyesalan sebab tidak semua yang kita lakukan benar dan tidak akan lepas dari kesalahan baik besar atau kecil.
Jika waktu terus berlalu maka kini tiba saat Eva dan teman teman memasuki masa magang yang mana sudah memilih tempat di kantor papa Kevin yang mana semuanya ingin selalu bersama walau hanya di kantor.
Sebelum berangkat Eva mampir ke rumah Sisi dulu buat bertemu kakaknya yang tadi menelpon kalau lagi tidak enak badan.
Firasat Eva memang sudah tidak enak mengingat kakaknya dan ternyata benar lagi kurang sehat.
"Kakak kenapa bisa sakit sih?ngak di kasih makan sama bang Re?."
Tanya Eva menghilangkan rasa cemas namun mendapat tatapan tajam dari Renal yang mengatai dirinya tidak memberi makan istrinya,memang dia sebagai suami apa setega itu sama istri.
"Kakak ngak apa tadi udah di periksa dokter hanya butuh istirahat dan juga kamu bakal jadi aunty."
Efi tersenyum sambil mengusap perutnya yang masih rata karena bahagia sebentar lagi akan menjadi orang tua.
"Kamu kadang kadang minta di jitak ya Va,mana ada suami yang tega aniaya istri sampai ngak ngasih makan.
Kadang jadi adik ipar minta di ruqiyah tuh isi kepala."
Gerutu Renal mendengar ucapan adik iparnya yang bicara tanpa saringan.
Padahal dulu Eva tidak pernah bicara gitu apa karena kelamaan temanan sama Sisi di tambah satu rumah dengan David jadi otak Eva jadi ikutan terkontaminasi sama mereka.
"Wah beneran kak?jadi ngak sabar nunggu dia lahir.
Sehat selalu ya kak sampai lahiran."
Bodo amat sama ocehan Renal yang penting sekarang Eva lagi bahagia mendengar kehamilan kakaknya.
"Udah sana berangkat nanti telat lagi,ini kan pertama magang."
Usir halus Renal yang punya alasan biar Eva pergi dari sana sebab Efi butuh istirahat.
"Kok ngusir sih bang,tega amat,kak aku pamit dulu nanti mampir lagi."
Memasang wajah cemberut sambil keluar dari kamar pasutri itu.
Di luar Sisi sudah menunggu buat berangkat bersama dengan mobil masing masing .
Hari pertama magang Eva tidak ingin jadi pusat perhatian nanti saat sampai kantor kalau datang sama anak pemilik perusahaan.
Setelah berpamitan mereka berangkat menuju kantor papa Kevin tempat magang beberapa bulan ke depan.
Tidak lama setelah itu mereka sampai dengan selamat setelah memakirkan mobil Eva dan Sisi masuk ke dalam buat menemui kepala bagian yang akan menjelaskan nanti apa saja yang akan menjadi tugas mereka.
"Baru hari pertama udah banyak ya Va tugasnya."
Sisi melihat file yang di pegang sambil berjalan menuju meja yang sudah di sediakan.
"Jika ingin sesuatu maka untuk mendapatkan harus berusaha keras juga Si,ngak ada yang instan di dunia ini,mi instan aja harus di masak dulu baru bisa di makan."
Jelas Eva dengan sabar,sahabatnya itu suka bergumam tidak jelas padahal sudah tau kalau semua itu akan terjadi dan pasti semua itu salah satu syarat agar bisa ikut wisuda.
"Va nanti kalau Sisi ngak kuat bantuin ya."
Sisi ada ada saja belum mulai udah cari bantuan saja.
"Kerjakan dulu Si,soal itu gampang nanti yang jelas kerjakan sesuai kemampuan dulu,kalau ada kesulitan kan ada senior buat kita minta bantuan."
Sekarang mereka berdua fokus sama kerjaan masing masing dan kemana dua lelaki tampan itu tidak kelihatan dari pagi karena mereka berdua ikut senior mereka yang lagi butuh bantuan.
"Va ini gimana sih dari tadi di coba cuma mutar mutar hasilnya."
Sandra memperlihatkan kerjaannya yang sedikit kesulitan dan tidak tau kalau Eva juga sibuk dengan kertas kertasnya.
Sebagai sahabat Eva tidak mungkin membiarkan sahabatnya dalam kesulitan.
Dengan tenang Eva bantu dan meninggalkan sebentar pekerjaan dia walau tau nanti dia sendiri yang harus kebut mengerjakan tugas yang ketinggalan.
"Makasih Va dan gara gara aku kerjaan kamu jadi numpuk."
Sesal wajah Sandra yang baru sadar kalau kerjaan Eva yang jadi tidak cepat selesai.
"Ngak apa San,ini masih ke kejar buat di selesaikan."
Eva ingin cepat menyelesaikan pekerjaan sebelum makan siang tiba,tidak enak meninggalkan pekerjaan sebelum selesai maka dari itu Eva ingin cepat selesai.
Saat asik bekerja lagi dan lagi dia nongol menganggu Eva bekerja.
"Sibuk amat ya?mau aku bantuin ngak?."
Berdiri di samping Eva yang lagi fokus hingga memilih cuek dari pada membalas dan juga diam cara terbaik dari pada di sangka tidak waras sama orang.
__ADS_1
"Ya aku di cuekin."
Lesu dia memasang wajah buram karena Eva diamin.
Lupa mungkin kalau bukan hanya mereka berdua yang ada di sana.
"Va."
Pengen rasanya Eva nimpuk dia kalau tidak ingat ada orang lain di sana.
Mau apa coba ganggu Eva lagi kerja.
Tunggu bukan sekarang Eva membalas tapi nanti saat sudah pulang kerja dan sudah tidak ada orang yang bisa melihat.
Waktu istirahat sebentar lagi dan kerjaan mereka sudah selesai sebelum waktu makan siang jadi sekarang hanya tinggal menyerahkan pada kepala bagian yang membimbing mereka.
"Kita makan siang di mana?."
Kini mereka bingung mau makan siang di mana karena tidak tau tempat makan yang pas dan juga mereka hanya bertiga yang cowok belum kelihatan batang hidungnya.
"Di kantin aja yuk,nanti kalau ada waktu kita cari tempat makan yang lain."
Memutuskan makan siang di kantin kantor buat hari pertama magang.
Suasana kantin cukup ramai jika di jam makan siang seperti ini.
Dan sekarang harus mengantri buat mendapat makanan setelah dapat makanan mereka duduk di kursi yang lebih dulu di cari Sisi sebelumnya.
"Maaf ya sayang aku baru sampai."
Biisk Kevin ke telinga Eva yang lagi asik menyantap makan siangnya kaget mendengar suara bisikan itu yang sama seperti biasa Evan lakukan sama dia.
"Iya ngak apa!udah makan?aku ambilkan dulu ya."
Langkah Eva terhenti kala Kevin memegang tangannya.
"Aku udah makan tadi sama yang lain,sekarang lanjut lagi makannya aku tungguin."
Duduk di depan Eva yang melanjutkan lagi kegiatan makan yang tertunda sebentar.
"Nempel mulu kayak perangko bertemu kertas dan kayak cicak ketemu dinding."
Celoteh Evan yang di cuekin Eva karena bukan waktu yang pas buat nyahut ucapan temannya itu.
Dalam fikiran Eva andai saja Kevin tidak bisa mendengar suara hatinya mungkin sudah mendumel karena kesal sedari tadi Evan bicara terus walau tidak dapat tanggapan.
"Eva kan (Eva menganggukkan kepala) ini ada titipan."
Setelah itu dia langsung pergi belum sempat Eva bertanya siapa yang memberi dia kado di hari pertama magang.
"Wah Va kayaknya bakal ada pengagum rahasia nih."
Sandra membalak balikkan kado yang tidak ada nama pengirim itu.
"Iya dan bentar lagi bakal ada juga kebakaran jenggot karena tunangannya ada pengagum."
Melirik Kevin yang sudah mulai kesal bukan pada Eva tapi pengirim itu yang seenaknya memberi sesuatu sama Eva dan hanya Kevin yang boleh melakukan itu.
Apa perlu Kevin umumkan pada satu kantor kalau Eva tunangannya biar tidak ada yang ganggu.
Sungguh Kevin tidak suka saat miliknya di usik orang.
"Udah jangan jadi kompor."
Eva tidak ingin punya masalah sama Kevin apa lagi harus bertengkar hanya karena orang yang tidak di kenal.
Kevin pergi dari sana tanpa bicara satu patah kata pun sebagai tunangan pasti cemburu tapi tidak ingin melihatkan maka memilih pergi.
"Biar gue yang susul kalian lanjut makan aja,maklum aja lagi cemburu dia."
Bastian menyusul Kevin yang sudah berjalan duluan dengan langkah cepat mengiringi langkah Kevin.
"Sabar napa Vin jangan kesal gitu dan juga itu bukan kemauan Eva kan dan ingat jangan cemburu buta gitu."
Menasehati sahabatnya yang lagi di landa kecemburuan dan mungkin ini yang pertama sebab selama ini hubungan mereka jauh dari kata problem makanya saat masa itu tiba ada rasa marah yang tidak bisa di sembunyikan.
"Kesal aja gitu Tian sama orang yang ngak tau malu,liat yang bening dikit langsung garcep ngak cari tau dulu."
Dengan masih memasang kesal sepanjang jalan menuju ruang kerja.
"Berarti mata dia masih normal dan tau mana cewek cantik dan lo sebagai tunangan harus bisa menjaga dengan baik Eva.
Siapa tau masih ada yang kedua ketiga atau seterusnya secara Eva kan cantik,baik ramah lagi jadi siapa coba yang ngak tertarik."
Ucapan Bastian bukan menenangkan Kevin malah membuat sahabatnya itu malah makin naik darah.
"Jadi secara ngak langsung lo muji tunangan gue juga,keterlaluan lo ya terus Sisi mau lo apain."
Bastian malah salah bicara emang kadang mulut dia suka lepas kontrol gitu bukannya nenangin malah nyiram bensin pada api yang lagi nyala.
__ADS_1
"Udah lah bicara sama lo ngak akan menyelesaikan masalah yang ada nambah masalah."
Kevin duduk di kursi samping Eva kenapa Kevin bisa tau itu kursi Eva karena ada barang Eva di atas meja itu.
Dari pada bosan Kevin mulai mengerjakan pekerjaan walau waktu makan siang belum selesai.
Tidak lama ketiga cewek cantik nan anggun itu datang selesai makan siang.
"Cie yang lagi cemburu lampiasannya sama pekerjaan."
Ledek Sisi pada kursi tadi mereka bisa bebas bicara karena cuma ada mereka di sana.
"Brisik."
Balas singkat Kevin yang lagi tidak mau di ganggu.
"Orang cemburu bukannya di bujuk ini malah cuek aja."
Gumam Kevin pelan tapi Eva masih bisa mendengar.
Mana ada orang cemburu bilang bilang
Lagian aneh aku ngak salah kenapa malah ngambek sama aku
Kalau ada orang suka sama aku berarti itu bukan salah aku kan.
Eva tidak mau menjawab langsung cukup Kevin saja yang bisa mendengar apa jawaban Eva.
"Terserah deh."
Lirih Kevin fokus pada kertas yang ada di tangannya.
Waktu berputar terlalu cepat kini waktu pulang kantor usai,masing masing membereskan meja siap buat pulang.
Eva sampai pulang belum menyapa Kevin lagi karena dia merasa tidak ada salah lagian orang itu juga ngapain ngasih kado sama Eva yang notabennya anak baru di sana.
Tanpa Kevin tau ternyata Kevin sudah menunggu di mobil Eva.
Heran sejak kapan Kevin sudah nagkring di sana perasaan tadi Eva tinggal di dalam.
"Sini biar aku bawa."
Menyodorkan tangan meminta kunci mobil Eva.
"Terus mobil kamu gimana?di tinggal."
"Ya di tinggal,lagian ngak akan ada yang nyuri juga.
Selama ini kan aku cuma sekali kecolongan."
Mengambil kunci dari tangan Eva lalu masuk dii ikuti Eva.
"Kecolongan apa?."
Selama ini Kevin tidak pernah cerita sama Eva kapan dia pernah kecolongan.
"Kecolongan perasaan aku yang udah kamu curi."
Melajukan mobil menuju K'caffe yang hampir sejak Eva keluar dari sana belum pernah berkunjung lagi.
"Hah kirain apa tadi."
Makin hari tunangannya itu makin jago gambal dan Eva beruntung serta berharap gombalan itu cuma buat dia seorang,dia tidak mau terbagi apa lagi di bagi sampai kapan pun tidak akan pernah rela.
Kevin tidak bisa marah terlalu lama sama Eva dan tadi juga sudah berfikir sambil kerja kalau itu bukan salah Eva juga.
Lagian yang salah siapa yang kena dampak siapa.
Jika Kevin marah terlalu lama maka akan memberi celah pada orang lain buat masuk di antara mereka maka sebelum terjadi lebih baik di cegah dengan menunjukkan kalau hubungan mereka tidak akan goyah hanya karena sebuah angin.
\=\=\=\=\=
*Yang bilang ceritanya kurang nyambung.
Ada juga yang bilang tulisannya berantakan.
Ada juga yang bilang ngak serem lagi.
Maaf ya author nulis apa yang ada dalam fikiran aja.
Dan awalnya dulu ngak pernah berfikir buat cerita horror hanya ingin berbagi pengalaman pribadi aja dikit di tambah imajinasi juga makanya jadi cerita ini.
Dan mungkin akan memasuki eps eps terakhir.
Kalau banyak peminatnya lagi author akan buatkan lanjutannya*.
Makasih buat dukungan selama ini.
Tbc.
__ADS_1