TEMAN BEDA ALAM

TEMAN BEDA ALAM
Flashback Eva-2.


__ADS_3

Sejak saat itu gadis kecil itu mulai bisa melihat sosok tidak kasat mata itu walau tidak mengganggu secara langsung tapi mengganggu secara mental.


Anak kecil itu selalu kefikiran sama apa yang dia lihat bahkan sampai terbayang bayang apa lagi jika malam tiba akan sulit tidur jika bayangan itu terlintas di fikirannya.


"Kenapa aku selalu ingat bayangan tadi ya. "


"Kenapa dia sering muncul gitu, buat aku takut saja padahal aku ngak pernah ganggu dia juga. "


"Bentuknya aneh juga kadang cuma bayangan putih atau bayangan hitam saja "


Waktu terus berlalu sekarang gadis kecil itu mulai tumbuh besar dan sekarang memasuki Sekolah tingkat pertama mulai saat itu dia mulai berjalan kaki ke persimpangan jalan karena Sekolah dekat rumah nya hanya sampai tahap Sekolah Dasar saja dan jika ingin kejenjang selanjutnya harus keluar dari kampung itu dan memakan waktu saat jalan kaki.


Kendaraan pun ada cuma orang yang punya uang lebih saja yang bisa membeli itu juga dengan cara kredit bukan cash.


Sekolah sekarang dia di bilang bisa cukup luas dengan total keseluruhan kelas dari kelas satu hingga kelas tiga berjumlah tujuh belas kelas.


Dengan pembagian kelas satu enam kelas, kelas dua lima kelas dan terakhir kelas tiga dengan enam kelas juga tapi dengan pembangunan teratur cuma bagian tepi saja yang di bikin ruangan kelas sedangkan bagian tengah di biarkan saja cuma ditanami pohon biar sejuk dan juga di buat lapangan bola volly dan lapangan basket atau di buat taman untuk siswa menikmati waktu istirahat.


Pernah suatu malam dia bermimpi di datangi sama sosok perempuan berbaju putih mendekati dia saat tidur, dia terbangun saat sosok itu mulai mendekat mulut terasa kaki untuk di gerakan, mau bicara pun suara tidak mau keluar dan badan sudah untuk di gerakan.


Setelah beberapa lama dia mulai membacakan ayat ayat pendek termasuk ayat kursi supaya sosok itu pergi mesti dia membaca dengan terbata bata dan suara sulit keluar.


Dengan susah payah berusaha akhirnya dia pergi juga dengan melewati jendela (emang nya dia lewat mana tadi kok malah lewat jendela kan ada pintu).


Setelah kejadian itu kantuk pun hilang gadis yang mulai tumbuh remaja itu susah untuk tidur lagi dan keringat membasahi badan.


"Apa maksud dia mengganggu ku, aku ngak punya masalah sama dia. "


Hari terus berlanjut kejadian itu terus juga datang silih berganti pernah juga suatu ketika sosok rambut panjang berada berdiri di depannya saat tidur juga, gerakan nya seperti orang shalat tapi tidak menggunakan mukena dan dia membelakangi jadi wajah dia tidak terlihat sama sekali.


Dan juga dulu dia pernah datang duduk di ujung kaki saat berbaring di kamar dia duduk diam sama dengan menyamping cuma sebelah wajahnya terlihat, dan gadis itu mencoba mengusir dengan cara mendorong tapi rasanya begitu berat dan tidak bergeser sedikit pun atau pun bergerak.


Seiring berjalan waktu kejadian terus berlanjut hingga titik terang itu ada.


Datang seorang kakek kakek dengan jubah putih tapi aneh wajah kakek itu tidak kelihatan sama sekali, cukup lama kakek itu diam berdiri lalu berkata.


"Saya ini roh dari nenek moyang mu dulu dan kemana pun kamu pergi Saya akan selalu mengikuti mu. "

__ADS_1


Setelah mengucapkan kata kata itu kakek jubah putih itu menghilang dari pandangan dan belum sempat untuk bertanya,apa maksud nya untuk selalu mengikuti.


Sejak kejadian itu setiap penampakan itu awalnya sangat takut tapi seiring dengan sudah terbiasa dia tidak terlalu takut lagi tapi makin kesini malah makin menakutkan dan membahayakan juga mengancam keselamatan.


"Jadi gitu Van ceritanya makanya awal aku lihat kamu ngak terlalu takut sekali, cuma kejadian akhir akhir ini buat aku takut. "


Ucap Eva mengakhiri ceritanya yang panjang lebar itu dengan pandangan lurus kedepan.


"Jadi menurut mu itu bisa di hilangkan atau tidak ?."


Apa Evan tidak dengar akhir cerita Eva ya kalau kakek itu sudah jelas bicara tadi.


"Sepertinya tidak deh Van.Kan kakek itu sudah bilang tadi kalau dia selalu ikutin aku. Hhuuffftt"


Eva menghembuskan nafas kasar, kenapa harus dia juga apa tidak ada orang lain.


Hidup dia sudah cukup berat yang dia alami selama ini kenapa di tambah beban lagi seberat ini. Bukan mengeluh dengan apa yang dia terima saat ini cuma merasa tidak sanggup jika harus terancam.


"Aku capek Van selalu seperti ini, lelah, jenuh.Aku mau hidup kayak orang lain tanpa harus mengalami ini semua. "


"Rasanya berat kali Van, hidup ku saja sulit begini belum kejadian ini rasanya aku benar benar ngak sanggup Van. aku mau bebas menikmati hari tenang sama hal dengan orang kebanyakan."


"Kamu tau kan semua ini ngak gampang, begitu berat dan sulit aku jalani.Aku hanya manusia biasa Van ngak punya kekuatan lebih. "


"Aku harus apa Va supaya kamu lepas dari semua ini. "


Evan tidak tega sama Eva apa lagi saat mendengar keluh kesah Eva barusan, seperti Eva mengalami hal sulit itu sendiri jika Evan tidak ada di sisinya.


"Tetap berada di sisi aku Van, temani aku setidaknya aku punya teman cerita seperti sekarang itu sudah cukup kok Van. "


Pinta Eva tulus, dia tidak tau pada siapa akan bercerita kalau tentang masalah satu ini akan sulit mencari teman cerita dengan cerita di luar akal manusia.


"Pasti Va, aku akan selalu temani kamu, jadi kamu tenang saja ya. "


Cuma itu sekarang yang bisa Evan lakukan buat Eva.


Tidak semudah bercerita mengalami kejadian itu akan terasa sangat berat tanpa mencurahkan jika di pendam sendiri.

__ADS_1


"Gimana sekarang sudah mendingan setelah bercerita. "


Tanya Evan pada Eva saat di lihatnya wajah Eva sudah tenang dari tadi .


"Sudah Van, makasih sudah mau dengar cerita aku ini, kamu memang teman terbaik ku Van. "


Ucap Eva melihat Evan dengan senyum manis di wajah cantik itu.


Tapi aku mau lebih dari sekedar teman Va. batin Evan membalas senyuman Eva yang tidak kalah manis.


"Kamu kenapa penasaran sekali sama aku Van?. "


Heran Eva buat apa Evan menanyakan itu atau cuma pengen tau saja.


"Ngak apa Va, siapa tau aku bisa bantu buat keluar dari masalah kamu ini tapi ternyata sulit juga. "


Jawab Evan tenang, memang niat dia membantu Eva supaya bebas tapi setelah mendengar cerita Eva sulit juga untuk terlepas.


"Ngak apa kok Van, makasih kamu sudah peduli sama aku. "


Senyum manis Eva terbit lagi buat Evan.


"Yuk masuk bentar lagi bel masuk. "


Mengajak Eva masuk kelas takut keduluan sama guru yang mengajar.


\=\=\=\=\=


Siang *ini tiga up nya dulu nanti malam kalau ada waktu author tambahin ya.


Jangan lupa kasih dukungan like, rate, komen and vote biar makin semangat nulisnya.


Makasih.


LOVE YOU 😍😘😙😗🤗*


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2