TEMAN BEDA ALAM

TEMAN BEDA ALAM
Perlahan Membaik.


__ADS_3

Beberapa hari sejak Eva sudah di temukan kini kondisi Eva mulai membaik,bisa menerima orang di sekitar termasuk Sisi sahabatnya sejak masuk kuliah.


Hari saat Eva mulai tenang bertemu orang Sisi orang pertama yang sangat kesenangan karena sahabatnya itu sudah tidak takut lagi sama dia begitu juga dengan Kevin yang setiap hari menemani Eva dan akan pulang saat Eva sudah tidur.


Sejak kejadian itu selesai shalat isya Eva langsung tidur dengan di temani Kevin dan Efi.


"Aku senang kamu sudah baikan aku harap kamu bisa jaga diri lebih baik lagi sebelum aku kembali."


Pagi ini Eva sudah tampak ceria lagi keluar kamar dengan wajah berseri dari hari hari kemarin yang masih suka terlihat murung kadang juga melamun.


"Sini dek kita sarapan dulu."


Panggil Efi saat melihat Eva keluar kamar dengan pakaian rapi tidak tau mau pergi atau tidak.


"Iya kak,kakak buat sarapan apa?."


Eva mendekat lalu duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


"Kakak buat sarapan kesukaan kamu,nih di habisin ya."


Menyodorkan piring yang telah terisi sarapan lengkap dan di temani teh hangat sebagai pendamping.


"Makasih kak."


Eva langsung saja memakan sarapannya dengan lahap kini tampak sangat semangat memakannya karena sejak hari itu Efi selalu memasakkan makanan kesukaan Eva hingga memastikan habis tiada sisa.


"Iya,di habisin jangan ada sisa."


Tegur Efi biar Eva menghabiskan sarapan dia karena Eva butuh asupan makan lebih buat kondisi Eva lebih baik lagi.


Dua kakak beradik itu sarapan dengan tenang seperti biasa tidak ada yang mengeluarkan suara selama sarapan berlangsung.


"Sisi mana kak?kok ngak kesini?."


Pagi ini Sisi tidak menampakkan diri buat sarapan bersama hingga menjadi tanda tanya buat Eva.


"Kakak juga ngak tau,nanti selesai beresin ini kita lihat ya."


Efi juga tidak mengetahui kemana Sisi sampai tidak ikut sarapan bersama,biasanya akan datang saat sebelum sarapan di mulai,ini sudah selesai belum juga datang atau ada terjadi sesuatu.


Efi membereskan piring bekas mereka makan sedangkan Eva masih di larang buat mengerjakan pekerjaan rumah walau hanya sekedar cuci piring saja.


Semua itu tidak bisa Eva tolak jika sudah kakaknya sendiri yang melarang sebab jika membantah akan dapat siraman kalbu ber episode.


Kenapa ber episode karena akan di lanjut Efi lagi pada waktu yang berbeda dengan judul yang sama.


Hanya pada Eva saja Efi mampu bicara panjang lebar sampai berjam jam itu semua demi kebaikan Eva sendiri.


"Yuk dek udah selesai."


Mengajak Eva melihat ke adaan Sisi yang tidak seperti biasa yang tidak datang ikut sarapan kecuali dia lagi pulang ke rumah orang tuanya pasti akan mengasih tau.


Eva ikut melangkah keluar saat tiba di depan kos Sisi ternyata pintu tidak terkunci jadi mereka berdua bisa langsung masuk ke dalam.


"Assalamu'alaikum Si."


Ucap mereka berdua sudah berada dalam kos Sisi.


"Wa'alaikumsalam."


Jawab Sisi keluar dari dapur dengan penampilan sedikit berantakan dan tangan penuh bumbu.


"Kamu ngapain Si berantakan gini?ini lagi buat apa pegang bumbu."


Mereka bingung melihat penampilan Sisi yang jauh dari biasa yang sangat memperhatikan penampilan dan kini berbanding terbalik.


"Sisi lagi belajar masak karena selama ini liatan kakak masak gampang aja makanya Sisi pengen coba ternyata susah juga ya."


Keluh Sisi mencoba belajar masak ternyata melihat itu lebih mudah dari pada praktek langsung dan ini hasilnya berhasil tidak berantakan iya dan pasti buang bahan masakan.


"Kalau belajar masak bilang sama kakak biar kakak ajarin apa lagi kakak ngak ada kegiatan juga sejak berhenti kerja."


Sejak Eva hilang dan di temukan lagi Efi sudah berhenti kerja dan itu karena Renal yang mendatangi tempat kerja Efi serta bilang pada bosnya bahwa Efi sudah tidak bisa bekerja di sana lagi.


Awalnya Efi sempat membantah keputusan sepihak Renal yang seenaknya mengambil keputusan melarang Efi bekerja padahal Efi sudah janji akan berhenti pada akhir bulan.


Sungguh calon suaminya itu bertindak sesuka hati tanpa harus bertanya dulu apakah Efi setuju atau tidak.


Efi sempat mendiami Renal selama satu hari serta tidak mengangkat telpon atau membalas chat Renal menandakan kalau dia lagi marah.


Hingga Renal memberi pengertian lebih baik menjaga Eva dari pada mementingkan pekerjaan yang tidak seberapa itu dan lebih baik menjaga Eva yang lebih dari segalanya hingga akhirnya Efi luluh juga.

__ADS_1


"Sisi kan mau belajar sendiri kak."


Keluh Sisi berjalan ke dapur lalu di ikuti mereka berdua dan Eva hanya akan jadi penonton saja.


"Jangan pernah mencoba belajar sendiri selain membuang bahan juga bahaya buat kamu siapa tau nanti terluka atau terbakar siapa yang akan menolong kalau seandainya ngak ada orang sekitar sini."


Efi tidak mau hal buruk menimpa Sisi juga,kasih sayang pada adik dan sahabatnya tidak pernah Efi bedakan.


Efi begitu menyayangi mereka bertiga maka akan sebisa mungkin memberi yang terbaik juga.


"Iya kak maaf."


Sisi tersentuh mendengar ucapan Efi bagaimana bisa Efi yang hanya orang baru dalam hidupnya bisa begitu menyayangi dia apa lagi nanti sudah menikah dengan abangnya.


"Sekarang biar kakak yang ajari,sini liat caranya."


Mengajarkan Sisi memasak mulai dari memotong sayur,bawang,daging sampai apa saja yang perlu di masak dulu jangan sampai salah atau kebalik.


Sisi dengan senang di ajari Efi hingga sedikit sedikit sudah mulai bisa dari masakan pertama mereka sudah selesai dan tertata di atas meja.


"Keliatannya enak tapi gimana rasanya ya."


Eva melihat hasil masakan perdana Sisi sudah menggugah selera tapi tidak bisa langsung di puji mana tau rasanya masih perlu di perbaiki.


"Jangan ledekin Va,namanya juga baru belajar."


Sisi tidak mau usahanya gagal jadi sekarang harap harap cemas bagaimana hasil masakan yang dia buat.


"Dek ngak boleh gitu,seharusnya kita senang Sisi udah mau belajar."


Tegur Efi takut semangat Sisi pudar dan tidak mau belajar lagi.


"Becanda Si,aku yakin pasti enak karena udah tercium dari aromanya,jadi lapar lagi."


Eva memegang perutnya yang terasa lapar lagi dengan hanya mencium aroma masakan Sisi.


"Ya udah kita makan,Sisi ambil piring dulu."


Beranjak mengambil piring buat mereka bertiga lalu tidak lupa mengambil gelas minum.


"Ayo di coba jangan malu malu ini masakan khusus dari chef Sisi."


Tok...


Tok**...


Belum juga mereka mulai makan sebuah ketukan pintu menghentikan kegiatan mereka mengambil nasi.


"Assalamu'alaikum kak."


"Waalaikumsalam,sini masuk makan bareng Sisi lagi belajar masak kita coba sama sama."


Yang datang itu Kevin dan Bastian padahal masih pagi tapi sudah bertamu saja tapi itu sudah jadi kebiasaan Kevin dan kini Bastian juga ikutan.


"Iya kak."


Mengikuti Efi masuk ke dalam.


"Loh kok di ajak masuk kak?."


Kaget Sisi tidak mungkin membiarkan dua cowok itu mencicipi masakan dia yang belum tau apa rasanya.


"Kenapa emangnya,biar mereka nilai juga hasil masakan kamu."


Efi tidak masalah ada mereka hanya Sisi yang kurang nyaman sekarang bagaimana kalau masakan dia tidak enak kan bisa malu.


"Ngak apa,apa pun rasanya aku akan tetap hargai karena udah mau usaha."


Bastian tidak mau melihat wajah Sisi yang murung.


"Ayo di coba tapi kalau ngak enak anggap enak aja."


Bergantian mengambil makanan yang di masak Sisi,dengan perlahan mereka sudah mulai menyendokkan makanan ke dalam mulut masing masing.


"Rasa ngak terlalu mengecewakan Si,hanya perlu di tambah sedikit garam aja biar ngak hambar."


Puji Efi saat satu sendok dia coba ternyata hasilnya cukup baik perlu dicoba lagi saja sebelum di sajikan.


"Iya benar kak,semangat terus Si belajarnya ini udah enak kok.


Ternyata kamu sebenarnya bisa masak hanya saja ngak mau melakukan aja."

__ADS_1


"Enak kok Si."


"Iya sweety beneran ini enak kok."


Semua orang memuji hasil masakannya sedangkan yang masak belum mencoba sedikit pun masakan dia takut mengecewakan tapi malah mendapat pujian.


Akhirnya Sisi ikutan makan juga setelah mendengar semua orang memuji masakan dia yang ternyata enak.


Walau asalnya sedikit pesimis tapi hasilnya lumayan memuaskan tidak terlalu mengecewakan.


Selesai sarapan mereka semua berkumpul di luar karena selain enak bersantai juga lebih nyaman berada di luar.


"Sayang ikut aku yuk pergi."


Kevin mengajak Eva keluar karena sejak pulang belum ada sama sekali pergi dari kos.


"Kita mau kemana sayang?."


Tidak biasanya Eva menyakan kemana Kevin akan membawa biasa juga ikut saja atau lagi waspada saja.


"Ke suatu tempat kamu pasti suka deh."


Kevin tidak mau bilang kalau dia akan mengajak Eva bertemu kedua orang tuanya biarlah saat sudah di jalan baru di kasih tau.


"Tapi aku."


Sedikit berat Eva untuk mengiyakan ajakan Kevin atau masih troma.


"Kak kau boleh kan ajak Eva keluar."


Izin Kevin kalau Eva menolak maka Efi yang akan mendukung.


''Iya boleh jangan pulang malam ya."


Efi mengizinkan kalau Eva keluar sama Kevin karena percaya sama Kevin akan menjaga Eva sebab Kevin tidak mungkin akan membiarkan Eva dalam bahaya atau terluka.


Semua itu sudah terbukti saat Eva hilang kemarin Kevin yang begitu gigih mencari Eva hingga mengabaikan keselamatan dirinya demi buat mencari Eva.


"Ya udah tunggu bentar aku ganti baju dulu."


Eva menurut jika Efi sudah buka suara sebab apa yang Efi bilang berarti sudah terbaik buat Eva.


Tidak membutuhkan waktu lama Eva keluar dengan pakaian rapi tidak lupa tas selempangnya.


"Kak aku pergi dulu assalamu'alaikum."


"Iya hati hati waalaikumsalam."


Kevin dan Eva pergi meninggalkan kos menggunakan mobil,sekarang tinggal mereka bertiga dengan Efi yang menjadi orang ketiga di antara dua sejoli itu.


"Sweety kita jalan juga yuk."


Bastian tidak mau ketinggalan sama Kevin yang sudah pergi berdua sama Eva.


"Eh maksud kalian apa mau ninggalin kakak sendiri."


Tegur Efi masa dia mau di tinggal sendirian sedangkan para adiknya mau pergi semua.


"Siapa yang mau ninggalin kak,no bang Re masih sama kan ya udah hubungi aja kak biar ada temen.


Tungguin ya."


Sisi masuk kos buat siap siap lalu keluar lagi dan tidak lupa mengunci kos.


"Bye kak assalamu'alaikum."


Pamit mereka berdua meninggalkan Efi sendirian di sana yang masih duduk meratapi nasib di tinggal pergi.


"Waalaikumsalam,iya juga lebih gitu dari pada merana gini."


Efi juga menghubungi Renal buat mengajak jalan dari pada bosan sendiri di kos sambil menunggu adiknya pulang yang ada dia aja jamuran menunggu.


\=\=\=\=\=


*Author ngak minta banyak cukup di like,komen and vote aja udah.


Makasih..


I LOVE YOU ALL 💕💞💖💗💝😍😘😙😗🤗*


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2