
Eva masih berusaha mengejar Evan setelah apa yang barusan dia dengar sungguh itu sangat membuat dia marah apa sebagai teman dia sudah tidak di anggap lagi atau ada maksud lain dengan tidak berterus terang.
Beraninya dia diam diam kembali setelah sekian lama pergi dan kembali tanpa memberitahu. Dan pantas saja waktu Eva melihat mata nya saat pertama bertemu merasa tidak asing dengan tatapan itu ternyata dia sudah kembali.
"Aku benci Van, aku benci, sini kamu biar aku kasih pelajaran kamu. "
Terjadilah kejar kejaran antara dua makhluk beda alam itu dengan tawa bahagia dari Evan.
Rasanya dia puas sekali mengerjai Eva hari ini ada bahagia tersendiri buat dia.
Dapat ide dari mana dia sampai mempunyai fikiran seperti itu.
"Berhenti Van, biar aku kasih pelajaran kamu.
Beraninya kamu ngerjai aku dua kali, puas kamu hah puas. "
Teriakan Eva lebih kencang dari tadi saking marah, dia lupa kalau sudah janji tidak akan marah tapi semua itu sirna dengan apa yang dia dengar.
"Va kamu sudah janji tadi ngak akan marah. "
Peringatan Evan menghindari amukan Eva.
"Itu tadi bukan sekarang, bodo amat sama janji itu yang jelas aku mau kasih kamu pelajaran dulu. "
Masih kuat mengejar Evan dengan emosi yang masih di ubun ubun.
Kalau dalam film kartun pasti sudah keluar tanduk di kepala dia.
"Sama saja Va, kalau janji itu ya janji mana bisa ingkar janji. "
Dia tidak tau kalau marah tidak diluapkan rasanya sesak kalau tidak di lepas.
Bayangkan saja sudah pergi tanpa pamit dan kembali tanpa kabar juga dan parahnya di ikuti tiap hari.
"Aku kesal, marah, emosi, benci sama kamu Van aaahhhhhh!!. "
Teriak lantang Eva terduduk di tanah karena tadi dia sampai kejar kejaran keluar hingga agak jauh.
Eva terdiam duduk di tanah dengan kepala menunduk nafasnya memburu tampak jelas dengan bahunya naik turun mengatur nafas.
__ADS_1
Tidak kuat lagi mengejar Evan dengan tenaga kecilnya itu berbanding terbalik dengan tenaga Evan dia cukup punya tenaga jika hanya lari jauh.
"Va kamu kenapa?. "
Evan heran kenapa Eva diam saja menunduk disana menyembunyikan wajahnya dari pandangan Evan.
Eva masih diam walau mendengar pertanyaan yang dia dengar Evan. Bukan tidak mau jawab tapi sudah kehabisan tenaga buat sekedar jawab iya atau tidak saja. Dan satu lagi punya rencana buat balas Evan balik.
"Va kamu ngak apa?. "
Berjalan mendekat ke Eva memastikan keadaan Eva takut terjadi apa apa atau malah pingsan lagi karena lelah berlarian.
Perasaan bersalah muncul dalam diri Evan takut Eva kenapa napa.
Dia makin dekat tapi Eva masih belum mengangkat kepalanya walau nafasnya sudah teratur.
"Va ?. "
Panggil Evan menyentuh pundak Eva pelan takut Eva akan kaget atau apalah.
Belum ada reapon dari pemilik nama. Dia hanya diam saja entah apa yang dia rencanakan sampai tidak menjawab pertanyaan Evan.
"Va kamu ngak apa?. "
"Jawab Va ?. "
Duduk berjongkok di depan Eva mensejajarkan dengan posisi duduk Eva memegang kedua pundak Eva dengan pelan.
Eva mengangkat kepala dengan pelan setelah memastikan Evan di depannya.
Pandangan tenang tidak ada lagi raut wajah marah lagi tapi tidak ada senyum pula disana. lalu
Buk,,, Buk,,, Buk,,, Eva memukul Evan meluapkan emosi yang dari tadi dia pendam.Dia terus memukul tanpa memikirkan keadaan Evan yang sudah jatuh ketanah dengan Eva di atasnya, yang ada dalam fikiran Eva sekarang amarah dia diluapkan.
"Va stop berhenti kamu sudah gila ya main pukul aja. "
Memberhentikan aksi pukul Eva tapi dihiraukan saja tetap terus memukul Evan.
"Apa kamu bilang aku gila, oke aku tunjukin apa itu gila, rasakan ini. "
__ADS_1
Pukulan Eva makin kuat dari tadi setelah mendengar kata gila dari Evan.
Gila biar saja dikatakan gila yang penting dia bebas meluapkan amarah nya lagi pula amarah itu dari Evan jadi harus di kembalikan lagi pada yang punya.
"Ok OK stop Va aku ngaku salah sekarang berhenti ya. "
"Kamu tega nyakitin aku Va. "
Tega kata dia tegaan mana dia dari pada dirinya.
"Apa kata kamu ini nyakitin kamu, lebih nyakitin mana dari aku yang kamu kerjai setengah mati tadi Van.
Aku hampir mati karna kata becanda kamu tadi sampai rasanya dunia aku berhenti berputar. "
Masih memukul dengan kekuatan mulai melemah dengan sisa tenaga.
"Maafkan aku Va, aku tau aku salah sama kamu. "
Memegang tangan Eva meredamkan sisa amarah yang masih ada.
"Kamu tau kamu jahat Van?. "
Ucap Eva lirih ambruk ditanah dengan posisi duduk
.
"Iya aku jahat, maaf in aku ya. "
Berkali kaki minta maaf tiada henti meyakinkan Eva kalau dia menyesal melakukan itu.
"Van,,?. "
"Van,,?. "
\=\=\=\=\=\=\=
Kasih senangat author dengan like, rate, komen and vote.
Makasih.
__ADS_1
LOVE YOU 😘😘😘
Tbc.