TEMAN BEDA ALAM

TEMAN BEDA ALAM
Kesedihan Para Cucu.


__ADS_3

Jika ada pertemuan maka sebuah perpisahan sudah pasti akan terjadi juga.


Setiap pertemuan pasti di sampingnya ada perpisahan yang menyertai.


Rasa sedih sebuah perpisahan tidak sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan oleh orang yang kita sayangi,maka akan lebih sedih lagi saat melihat orang yang kita sayangi harus lebih lama menahan sakit.


Maka kata dan rasa ikhlas yang perlu di lakukan sekarang supaya orang yang kita sayangi bisa lebih tenang menghadapi kehidupan selanjutnya.


Jangan pernah kita lakukan hal yang bisa menghambat kepergiannya.


Rasa sedih cukup sewajarnya dan jangan berlebihan,jika dia pergi maka tuhan lebih menyayangi dia dan tidak ingin merasakan sakit lebih lama.


Akhir akhir ini kesehatan Kakek sudah mulai menurun,selain usia yang tidak muda lagi di tambah Kakek sampai luka waktu kalau sudah ngobrol sama Efi saat tau akan punya cicit hingga hampir tiap hari Kakek mendatangi rumah mertua Efi yang berada di depan rumah.


Hingga kondisi Kakek semakin menurun pada siang hari ini yang mengharuskan di bawa ke rumah sakit.


Tapi para orang tua belum ada yang mengabari anak anaknya supaya pekerjaan mereka tidak terganggu dan akan di kabari saat jam kerja sudah usai melewati group chat keluarga mereka.


Sejak awal group itu sudah di buat agar mudah mengabari satu sama lain kecuali berita yang di sampaikan bersifat pribadi.


Di rumah sakit para orang tua menunggu Kakek yang belum sadarkan diri saat di bawa kesana,sudah hampir satu jam menunggu dokter keluar ruangan rawat Kakek setelah melakukan pemeriksaan.


"Dokter bagaimana keadaan papa kami?."


Menanyai dokter yang baru keluar dengan wajah gusar,entah apa hasil pemeriksaan di dalam sehingga wajah dokter melihat tidak tenang.


"Ke adaan beliau semakin menurun hanya semangat keluarga serta keinginan sembuh dari beliau yang bisa mempercepat proses penyembuhan.


Kalau tidak ada lagi,saya permisi dulu. Pencet bel saja kalau keadaan darurat."


Dokter undur diri dari sana buat memeriksa pasien lain.


Setelah kepergian dokter mereka semua masuk ke dalam buat melihat ke adaan kakek.


Di dalam Kakek terbaring lemah dengan terpasang berbagai macam alat kesehatan di tubuh Kakek.


Melihat Kakek tidak berdaya air mata mereka lolos tanpa di pandu,rasa tidak tega melihat semua itu tapi apa daya segala yang terjadi sudah ada yang mengatur.


"Papa bangun,papa ngak mau apa melihat cicit papa lahir nanti."


Sarah terlihat sangat sedih melihat Kakek seperti itu,karena di antara mereka yang tinggal berempat hanya dia yang banyak tidak ada waktu buat Kakek.


"Papa ngak mau melihat cicit papa lahir,kalau papa sembuh aku akan suruh David segera menikah supaya cicit papa bertambah dan rumah akan ramai sama suara tangis mereka."


Marta duduk di sisi lain ranjang kakek,di sana cuma ada mereka berempat dan para suami mereka belum ada yang datang setelah di kabari mungkin masih ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal.


"Masa papa udah nyerah aja sih,masa anak Efi tidak bisa melihat wajah Kakek buyutnya yang tidak kalau tampan ini.


Kan selama ini papa sangat ingin bertemu kak Sena,karena kakak tidak ada lagi maka sudah ada Efi dan Eva yang gantikan.


Masa papa tidak mau melihat mereka lagi."


Si bungsu yang tidak kalau sedih,papa yang mereka sayangi kini terbaring tidak berdaya.


"Papa marah ya sama kami,sampai papa ngak mau buka mata,papa bilang sama kami papa mau apa biar kami turuti asal papa bangun ya jangan tidur terus ngak capek apa?."


"Kalau papa bangun kami janji akan menikahkan anak anak yang sudah punya pasangan supaya papa bisa punya banyak cicit sekali gus supaya rumah rame sesuai keinginan papa dulu dan kalau perlu rumah kita bangun lebih besar lagi supaya cucu mantu papa bisa tinggal bersama kita."


Bayangkan saja jika mereka semua tinggal dalam satu rumah besar lengkap dengan para orang tua serta anak menantu mereka sudah bisa di pastikan kalau rumah itu akan mirip asrama dengan banyak kamar yang berjejer rapi serta di hiasi suara tangis anak kecil seperti arena bermain anak kecil.


"Papa mau apa?gimana kalau papa bangun kita ke tempat makam Sena dan suaminya kan kita belum pernah mengunjungi Sena bagaimana papa setuju kan?."


Tidak ada jawaban dari setiap kata yang mereka ucapkan,Kakek masih betah berdiam diri.


Hingga waktu menjelang sore mereka memberi kabar pada anak anaknya tentang kondisi Kakek.


Do kantor perhatian Eva teralih kan saat mendengar suara ponselnya berbunyi padahal dia lagi beres beres bersiap buat pulang.


Saat di bacanya isi chat itu air matanya luluh begitu saja.


"Vin antar aku ke rumah sakit,Kakek lagi di rawat dan belum sadarkan diri."


Secepat mungkin mengemas meja dengan buru.


"Va kita ikut ya?."


Eva hanya menganggukan kepala tanda setuju,kini yang ada fikirannya tertuju pada Kakek.


Kevin segera menyusul Eva yang sudah berjalan dulu ke parkiran jika dia lambat bisa saja Eva berkendara sendiri menuju rumah sakit dalam kondisi sedih dan itu sangat bahaya buat keselamatan dia.


"Sayang tunggu jangan buru,biar aku antar jangan berkendara sendiri.


Sekarang pindah ke samping."


Pinta Kevin saat melihat Eva sudah duduk di kursi kemudi beruntung Kevin cepat datang sebelum hal yang tidak di inginkan terjadi.


Dengan patuh Eva keluar lalu duduk di samping kemudi.

__ADS_1


Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena jalanan sore terbilang cukup rame dan juga Kevin mementingkan keselamatan mereka kalau membawa mobil dalam kecepatan tinggi.


"Sayang cepetan."


Pinta Eva saat di rasanya kecepatan mobil itu pelan dan dia sudah tidak sabar buat segera sampai rumah sakit.


Teman mereka mengikuti dari belakang karena tidak mau kehilangan jejak dan juga tidak tau dimana Kakek di rawat.


"Sayang ini ngak bisa lebih cepat lagi,selain jalan ramai dengan pengendara lain kita juga harus mementingkan keselamatan."


Kevin mengerti kalau tunangannya itu lagi cemas tapi keselamatan mereka jauh lebih penting jangan sampai mereka ikut di rawat juga.


Masa mau menjenguk pasien dan berakhir akan menjadi pasien juga.


"Iya maaf."


Mengerti apa maksud Kevin hingga Eva memilih diam.


"Berdoa supaya Kakek baik baik saja dan bisa menyaksikan pernikahan kita nanti."


Menghibur Eva supaya bisa sedikit lega dari rasa sedihya.


Eva masih ingin mempunyai banyak waktu bersama Kakek mengingat dia bertemu Kakek belum genap dua tahun dan rasa berat jika harus berpisah lagi apa lagi kalau untuk selama selamanya.


"Jangan sedih,Kakek ngak suka kalau melihat cucu nya yang cantik ini sedih."


Beberapa saat mereka sampai rumah sakit hingga Eva mencari ruang rawat kakek,setelah bertemu tampak di sana sudah rame dengan anggota keluarga lainnya.


Eva masuk di sana dapat dia lihat kalau kakek sudah bangun dan lagi terbaring lemah dengan wajah pucatnya.


"Kakek."


Eva mendekat menyalami kakek yang di balas senyum hangat kakek dan seolah lupa kalau dia lagi sakit.


Tampak pancaran rasa bahagia di mata kakek saat melihat semua anak cucu serta menantunya berkumpul di ruangan itu karena saat kakek bangun tadi dia meminta semua orang berkumpul dalam ruangannya hingga kini ruangan itu penuh sesak.


Awalnya dokter melarang mereka semua masuk tapi kakek meminta supaya di izinkan karena satu alasan dan hanya dokter yang tau sebab Kakek membisikkan alasan itu hanya pada dokter.


"Kakek bilang sama aku,mana yang sakit?atau Kakek lagi butuh sesuatu?."


Cerca Eva dengan pertanyaan sebab Kakek tidak menjawab ucapan Eva tadi dan itu cukup membuat Eva cemas.


Semua orang yang melihat itu rasanya sangat sedih tapi tidak bisa berbuat lebih dan hanya bisa berdoa demi kesembuhan Kakek.


"Kakek kenapa diam aja?apa Kakek marah sama aku?."


"Kenapa diam aja?Kakek marah juga sama Nana atau Nana punya salah sama kakek?."


Semua cucu Kakek berdiri mengelilingi brankar ranjang rumah sakit tempat kakek berbaring.


"Kek ngomong ya jangan diam aja,Kakek mau apa bilang sama Kesya."


Cucu kedua di antara mereka yang hanya berselisih satu tahun sama David.


"Kakek lagi mogok bicara ya? atau kakek marah karena nanti cicit kakek ngak ada teman main makanya kakek marah iya kan,ngaku sama abang."


Cucu Kakek yang satu itu malah becanda saat semua orang lagi sedih siapa lagi kalau bukan David.


"Padahal Kesyi udah janji kalau Kakek sembuh maka akan mau nambah cicit Kakek biar banyak dan supaya anak Efi ada teman mainnya."


Kesyi memang sudah bertunangan dan akan segera menikah saat projek tunangannya sudah rampung dan bisa mengambil cuti bekerja.


"Kakek pasti marah sama Lexa ya karena selama ini ngak ada di samping kakek.


Kakek marahnya jangan lama lama ya atau kakek mau Lexa bawa calon Cucu mantu juga,kakek jangan salah gini gini cewek Lexa ngak kalah cantik sama cucu Kakek yang cantik cantik ini."


Lexa sedikit memiliki selera humor sama seperti David yang lebih parah dari yang lain,ya maklum orang tuanya juga gitu jadi tidak perlu di ragukan lagi.


"Atau kakek mau kita nikah masal supaya cicit kakek lahir masal juga biar kakek kelelahan main sama mereka.


Kakek ngak sayang lagi ya sama kita atau marah sama Rani karena Rani sama bang Lexa baru datang menemui kakek.


Kakek tau kan selama ini Rani kangen ingin bertemu kakek tapi Rani kuliah di luar kota makanya ngak pernah datang ke rumah kakek.


Kakek tau ngak setiap hari Rani selalu membayangkan bisa berjumpa sama kakek dan berkumpul seperti sekarang tapi kenapa sekarang malah kakek menghukum Rani dengan diamnya kakek.


Rani tidak bisa membendung air matanya yang sedari tadi dia tahan.


Semua cucu Kakek tidak bisa berpura pura tegar kalau melihat Kakek yang mereka sayangi tidak berdaya,panjang lebar cucu Kakek bicara tapi Kakek belum membuka suara.


"Kak Rani jangan ngajak nikah masal dong ngak lucu tau kalau nikah masal apa kata dunia nanti atau jangan jangan malam pertamanya juga mau masal ya.


Ah Prita ngak mau dan lagian Prita belum tamat Sekolah masa udah mau di nikahkan apa kata dunia ngak sadar apa kalau Prita ini jomblo menahun dari dalam kandungan."


Canda Prita tapi rasa sedih itu tidak bisa dia sembunyikan dari semua orang.


"Naya juga belum mau nikah,biar bang David aja yang lebih tua dari kita kan kasihan sampai sekarang belum nikah padahal dia udah tua dan bentar lagi bau tanah.

__ADS_1


Kakek kan tau Naya LDR sama dia yang bekerja di luar kota sekarang.


Kakek minta yang lain aja ya asal jangan minta nikah sekarang Naya masih kuliah lo kalau kakek lupa."


Dalam suasana sedih mereka masih sempat becanda buat menghilangkan sedikit rasa sedih itu.


"Nay jangan bawa bawa umur ya di sini,ngak lucu tau kalau ada yang dengar."


Balas David tidak terima katai sudah tua walau kenyataan itu tidak bisa di pungkiri sebab memnag dia cucu yang paling tua di sana.


"Lah bang emang udah tua kali lo ngak bisa ngelak lagian mana ada orang mau mengakui diri sendiri tua,sama kayak orang gila yang tidak mengakui dirinya gila."


Ujar Ken yang sedari tadi diam saja memandang wajah kakek tanpa berkedip.


Semua cucu dekat sama kakek walau baru bertemu sekali pun.


"Kalian semua cerewet ya,kakek sampai pusing mendengar ocehan kalian semua tidak capek apa dari tadi bicara.


Minum sana biar tidak seret,lagian kakek tidak apa apa cuma kecapek an aja mungkin karena kakek udah tua kali ya."


Kakek membuka suara setelah lelah mendengar segala ocehan cucunya yang dia rasa sangat menghibur menikmati saat dimana semua anak menantu serta cucu berkumpul di sana.


"Kakek mau apa bilang sama abang tapi jangan mahal mahal ya kan abang lagi nabung buat nikahan nanti."


David bukan tidak serius tapi kalau mengikuti suasana yang ada dia akan menambah suasana sedih itu kian dalam.


"Heh bocah jangan asal biacar,tinggal aja masih numpang di rumah kakek sok an menawarkan sesuatu lagi."


Beruntung punya cucu tidak lempeng atau kaku yang tidak bisa mencairkan suasana jadi kini ruangan itu sedikit di isi suara tawa mereka yang tertahan.


"Yah kakek jangan gitu ngomongnya,kalian ngak tersinggung sama ucapan kakek apa secara ngak langsung udah ngusir kita dari rumah.


Kalau kita pergi terus kita tinggal dimana kek?."


Mereka semua tersenyum mendengar jawaban David yang nyeleneh itu masih sempat becanda lagi.


"Kan cuma lo bang yang di usir kakek biar rumah tenang tanpa suara gaduh abang."


Ledek sang mama tercinta yang tidak bisa David marah.


"Sekarang dengar kakek baik baik ya.


Jangan pernah bertengkar apa pun masalah kalian besar atau kecil selesaikan secara baik baik,apa lagi sampai bermusuhan satu sama lain jadikan kejadian yang menimpa orang tua kalian sebagai panutan dan kalian jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama.


Jalin lah ikatan di antara kalian sampai kapan pun dan sambung silaturahmi jika suatu hari nanti kalian memilih tinggal di rumah masing masing dan juga carilah pasangan yang bisa membimbing kalian ke jalan yang benar."


"Jika ada di antara kalian yang melakukan kesalahan maka yang lain wajib menasehati dan memberi pencerahan jangan jadikan masalah sebagai pemutus hubungan persaudaraan tapi jadikan persaudaraan sebagai pemutus masalah."


"Jika ada di antara kalian yang mengalami kesulitan maka yang lain wajib saling ulur tangan buat membantu jangan pernah sesekali kalian menutup mata dan telinga tentang apa yang menimpa saudara kalian.


Ingat hanya saudara yang tidak bisa di beli dan jangan pernah jauhi mereka karena kekurangan sebab yang kurang itu pasti punya kelebihan juga."


"Kakek bahagia bisa melihat kalian semua berkumpul seperti sekarang dan untuk Efi jaga baik baik calon cicit kakek ya.


Bilang sama dia kalau dia punya kakek buyut yang tidak kalau tampan dari papanya kalau di bandingkan sama foto kakek waktu masih muda.


Udah jangan sedih gitu kayak kakek mau kemana aja pada sedih.


Kakek ngantuk mau tidur dulu kalian juga istirahat ya kan baru pulang kerja dan jangan nginap di sini sebab ini rumah sakit bukan asrama dan juga kalian ke sini seperti orang mau demo."


Kakek memejamkan mata buat tidur karena merasa capek bicara panjang lebar menasehati para cucunya yang tampan dan cantik itu.


Mereka semua menghapus air mata saat melihat Kakek sudah tertidur nyenyak.


Membubarkan diri dengan sedikit paksaan biar mau pulang dan membiarkan orang tua yang menunggu.


Eva dan Efi terlihat sangat sedih di antara mereka antara sadar atau tidak dua kakak beradik itu berpelukan sedangkan yang lain berpelukan bersama orang tua mereka.


Sedih tidak dapat merasakan pelukan hangat sang Bunda dan juga bahagia mempunyai keluarga lengkap sekarang.


Mereka berdua lebih dulu meninggalkan ruangan itu dengan berat hati.


Memilih memisahkan diri buat mencari ketenangan dengan apa yang menimpa dia hari ini dan juga Renal tidak ingin Efi berfikir berat yang akan mengganggu kondisi janin yang masih berada dalam kandungannya.


\=\=\=\=\=


*Jangan lupa


like


Komen


Vote


Makasih*


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2