
Bastian masih berusaha mengejar Sisi yang sudah keluar dari tempat itu,rasa sesak di dadanya sungguh sangat terasa untuk sekarang dia tidak mau bicara atau sekedar bertemu Bastian lebih baik dia menenangkan diri biar bisa berfikir jernih dan tidak salah mengambil keputusan nanti.
"Bukan Sisi ngak percaya sama kamu hanya saja rasa sesak ini ngak bisa di hilangkan begitu saja."
Sisi terus melangkah menghiraukan panggillan Bastian yang meminta dia berhenti.
"Sakit banget rasanya hah sungguh ini menyiksa sekali."
Sisi sudah sampai di tepi jalan menunggu taksi lewat buat bisa di tumpangi balik kos.
Melihat Bastian yang sudah mendekat Sisi berniat menyebrang jalan supaya menghindari Bastian tapi baru setengah jalan Bastian sudah berteriak kencang menyuruh Sisi ke tepi,dengan langkah cepat Bastian mendorong Sisi ke pinggir jalan hingga dia tidak sempat menghindari tabrakan itu.
BBRRAAKK...
Badan Bastian terlegeletak di tengah jalan dengan darah yang mulai mengalir keluar,Sisi yang melihat kejadian itu syok tidak menyangka bahwa Bastian mengorbankan nyawanya buat menyelamatkan dia.
"Bastian"
Teriak Sisi memanggl Bastian yang kesadaran sudah mulai berkurang tapi masih bisa mendengar suara Sisi memanggilnya.
"Bangun kamu ngak boleh tidur hiks bangun jangan tidur hiks maafkan Sisi yang ngak percaya sama kamu.Bangun jangan tutup mata mu hiks kalau kamu tutup mata mu Sisi beneran akan pergi ninggalin kamu."
Memangku kepala Bastian yang terus mengeluarkan darah membuat Sisi makin takut jika sesuatu terjadi pada Bastian.
"Tolong... tolong telpon ambulan."
Teriak Sisi pada siapa saja yang mendengar berharap pertolongan segera datang dan Bastian bisa di selamatkan.
Tidak lama ambulan datang membawa Bastian menuju rumah sakit terdekat agar mendapat penanganan awal dan memberhentikan darah yang terus keluar.
Sisi menunggu Bastian di depan ruang UGD dengan perasaan cemas dia tidak ingin sesuatu terjadi pada Bastian.
Hampir satu jam dokter belum juga keluar untuk memberi tau bagaimana kondisi Bastian.
Cckklleekk...
Pintu terbuka dokter keluar Sisi segera menghampiri dokter ingin tau keadaan Bastian sekarang.
"Dokter bagaimana kondisi teman saya?."
"Dia baik baik saja,tidak ada luka serius setelah di pindahkan ke ruang inap pasien sudah bisa di jenguk,permisi"
Sisi bisa bernafas lega mendengar Bastian baik baik saja setidaknya apa yang dia kwatirkan tidak terjadi,Sisi berjakodi mana ruang Bastian di rawat ingin memastikan sendiri jika ubah yang di katakan dokter tadi benar.
Sisi masuk di lihatnya Bastian terbaring dengan perban di kepala dan sedikit goresan di lengan.
"Kenapa kamu melakukan ini,kamu ngak perlu mengorbankan nyawa mu buat Sisi."
Sisi duduk di samping Bastian yang terbaring belum sadarkan diri.
"Maafkan Sisi yang ngak percaya sama kamu,Sisi cuma syok aja Sisi juga ngak percaya kalau kamu bakal lakukan itu tapi rasa sakit itu menguasai diri Sisi.
Sisi pergi bukan benci tapi ingin menenangkan diri supaya Sisi nanti ngak mengucapkan kata yang akan membuat Sisi menyesal makanya Sisi pergi.
Maafkan Sisi janji akan selalu percaya dan ngak akan ninggalin kamu sebelum dengar penjelasan kamu.
Bangun ya jangan tidur terus emang ngak capek apa tidur gini."
__ADS_1
Mengenggam tangan Bastian yang belum memberikan respon apa pun.
Rasa penyesalan itu menghampiri diri Sisi kenapa dia begitu bodoh mudah percaya saja sama orang tanpa mendengar penjelasan dulu.
"Kamu bangun dong sweety kalau kamu ngak bangun Sisi beneran pergi nih,malas nunggu orang tidur capek tau."
Keluh Sisi senantiasa memandang Bastian yang masih betah memejamkan mata.
"Ya udah."
Sisi berdiri hendak pergi.
"Mau kemana?."
Bastian membuka mata di lihatnya Sisi sudah berdiri hendak melangkah pergi.
"Ke toilet."
Jawab Sisi pergi masuk toilet,mana mungkin dia akan meninggalkan Bastian sendirian di sana tanpa ada yang menemani.
Lagi ada dia saja masih ada orang yang berani mendekati Bastian bagaimana kalau dia tidak ada bisa bisa beneran di ambil orang.
"Gengsi tinggi banget ngak mau kehilangan tapi ngak mau juga mendengar penjelasan.Untung sayang kalau ngak ya bagaimana pun harus bisa menyayangi dia.
Gini aja udah nangis nangis gitu seakan dunia mau runtuh lama lama ngak bisa jauh lagi dari dia."
Menatap pintu toilet yang masih tertutup rapat,tadi Bastian sudah bangun hanya saja mata dia berat untuk terbuka apa lagi mendengar Sisi bicara jadi dia ingin mendengar sampai selesai.
Bastian mengambil hp mengabari Kevin jika dia sekarang berada di rumah sakit dan memberi alamat dia.
Sisi keluar dengan wajah basah setelah mencuci wajah tidak mungkin menunggu Bastian dengan wajah kusut bukannya sembuh malah tambah sakit melihat wajah kusut Sisi.
Pamit Sisi dia sudah lapar tadi tidak sempat makan dan keburu pengganggu datang.
"Iya jangan lama lama nanti aku rindu sweety."
Balas Bastian tersenyum nakal,mau rindu bagaimana orang pergi cuma sebentar saja sudah bilang rindu.
Sisi keluar tidak menanggapi ucapan Bastian yang terkesan berlebihan belum pergi sudah rindu.
Seusai Sisi pergi Kevin datang bersama yang lain.
"Assalamu'alaikum."
Mereka semua masuk kedalam ruangan Bastian.
"Wa'alaikumsalam."
Balas Bastian melihat siapa saja yang datang.
"Rame banget kalian mau demo datang rame kesini."
Melihat siapa saja yang datang Bastian kira yang akan datang Kevin sama Eva saja namun nyatanya tidak mereka semua datang juga.
"Lo kenapa bisa baring disini,emang kasur di rumah lo ngak ada lagi."
David menghampiri Bastian yang terbaring di atas kasur pasien,jika biasa kalau menjenguk orang sakit pasti mendoakan cepat sembuh jangan seperti David yang hanya meledek saja.
__ADS_1
"Makasih bang mending abang pulang ngak guna ada di sini."
Sinis Bastian pada David jika sakit dia akan diam jangan harap itu akan terjadi mana mau dia di tindas saat tidak berdaya.
"Bocil lo kenapa bisa gini,udah bosan hidup sampai mau bunuh diri.Ingat sebelum meninggal biar adek gue cari ganti lo biar dia ngak sedih pas lo pergi."
Ini satu lagi bukan mendoakan hanya meledek saja,kini Bastian menyesal lupa memperingati Kevin agar tidak membawa dua makhluk yang beda dari yang lain.
"Re ngak boleh gitu,kalau kamu ngomong gitu kayaknya aku juga harus jaga jaga siapa tau kamu pergi aku udah punya ganti."
Nasehat Efi memperingati Renal yang asal bicara alhasil Renal terdiam mendengar ucapan Efi dan sekarang dia merutuki ucapan yang senjata makan tuan.
"Gimana bang enak senjata makan tuan."
Ledek Bastian puas melihat Renal terdiam tidak tau mau bicara apa jika Efi sudah mengeluarkan suara.
"Cepat sembuh ingat kasur di rumah lebih empuk dari ini."
Kevin menepuk baju Bastian pelan dia tidak tega melihat sahabatnya menginap disana lama lama.
"Iya kasurnya ngak ada empuk empuknya."
"Sudah tau ngak empuk malah mau nginap di sini."
Timpal David santai lalu duduk di sofa dalam ruangan itu.
"Perlu gue telpon papa mama?."
Tanya Kevin ingin mengabari orang tua Bastian yang lagi di luar kota.
"Ngak usah Vin cuma luka kecil ini."
Cegah Bastian tidak mau membuat orang tuanya cemas dan pulang saat itu juga,walau dia sering meninggalkan Bastian di rumah tapi bukan berarti dia tidak memantau kondisi Bastian.
Kalau dia tau Bastian masuk rumah sakit mungkin akan langsung pulang.
"Udah rame aja kayak mau minta jatah sembako gratis."
Sisi masuk menenteng kantong berisi makanan buat mereka berdua tidak tau kalau yang lain akan datang jika tau maka akan membeli makanan lebih.
"Lo kira kita udah kere sampai minta sembako gratis."
"Duit jajan masih minta saja udah songong."
Dua laki laki itu membalas ucapan Sisi yang menyakitkan telinga itu,apa mereka tidak salah dengar Sisi bilang itu.
Cukup lama mereka berbincang disana hingga menjelang magrib baru mereka pulang dan tinggal di sana Kevin yang menjaga Bastian.
Tidak mungkin Sisi yang menunggu semalaman berdua saja dan Renal tidak akan mengizinkan juga,mereka belum ada hubungan yang sah jika harus di tinggal berdua saja.
\=\=\=\=\=
Sudah beberapa hari ini sinyal susah mau ngetik masuk aplikasi saja susah jadi harap maklum jika telat up maaf yaππ
*Jangan lupa like,komen,rate and vote ya
Makasih
__ADS_1
I LOVE YOU ALLππππππππππ€*
Tbc.