
Sebelum benar-benar menanggapi panggilan Raja, terlebih dahulu Rana menggerutu dalam hati. Kenapa lagi cowok ini? Padahal, ia sudah bersikap cuek sekali. Harusnya Raja tak menyapanya lagi, gerutunya tapi kemudian tetap menolehkan kepala pada Raja yang sudah terlewat di belakangnya.
Tanpa kata, cewek itu menatap Raja dengan tanda tanya di matanya.
"Ra, lo ... mens, ya?" tanya Raja terdengar ragu. Juga merasa janggal dengan pertanyaannya sendiri.
Deg!
Cukup satu pertanyaan. Kedua mata Rana langsung membulat dibuatnya. Wajah cewek itu seketika merah padam.
"Aaa....!!" teriak cewek itu kemungkinan berlari pergi dari Raja sesegera mungkin. Sembari berusaha menutupi bagian belakangnya yang mungkin memang menampilkan bercak darah.
Benar-benar memalukan. Waktu itu Arka dan sekarang Raja. Hiks ... hiks ... hiks .... Dimana rahasianya sebagai wanita?
Ditinggal Rana begitu saja, Raja meneguk salivanya paksa. Jadi, pertanyaannya benar?
Cowok itu merutuki diri sendiri karena pertanyaan barusan. Rana pasti sangat malu dibuatnya. Terlihat dari wajahnya yang merah padam.
Cowok itu kemudian melirik jam di tangannya. Sebentar lagi ia akan main. Tapi, bagaimana dengan Rana? Bukankah cewek itu butuh pembalut? Dan ditengah kesibukan ini, siapa yang bisa membantu Rana kalau bukan dirinya?
Tanpa fikir panjang lagi, Raja segera melangkahkan kaki menuju parkiran. Masa bodoh dengan lomba bulutangkis yang nyaris dimulai.
...💕...
Di dalam ruang kecil itu Rana memeriksa rok belakangnya. Dan benar saja, ada bercak merah selebar kelereng di sana. Cewek itu kemudian mengetuk-ngetuk jidatnya pelan. Merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
Hiks, memalukan. Mana gak bawa pembalut lagi. Pantes aja sakit banget....
"Minta tolong Vira aja deh," ucapnya kemudian mengeluarkan ponselnya yang ... syukur alhamdulillah tidak ketinggalan.
Tut ... tut ... tut ....
Berdering. Tapi kemudian... "Panggilan ditolak".
Rana melenguh lemas, sembari menahan perih di perutnya. Tak putus asa, cewek itu kemudian mencoba lagi. Masih dengan nomor yang sama.
"Halo, Ra! Kenapa, sih?! Lo gak tau apa, gue lagi Mabar ini...," omel Vira di ujung sana.
Sembari meringis kesakitan, Rana berkata, "Vir, sini buru! Gue di toilet. PMS, gue. Udah tembus ini. Sakit banget ...."
"Hah? Oh, iya, iya."
Di dalam ruangan kecil itu Rana hanya bisa menunggu. Kalau biasanya ia akan mengantuk jika berlama-lama di ruangan ini, kali ini tidak lagi. Sebab perutnya terasa sakit sekali.
Tok tok tok!
"Ra!" panggil Vira dari luar. "Ini lo, kan?" tanyanya lagi.
Kreek....
Rana segera membuka pintunya. Menyuruh Vira masuk ke dalam ruangan sempit itu.
__ADS_1
"Sakit, Ra?" tanya Vira benar-benar paham.
Rana hanya mengangguk-angguk. Beginilah nasib perempuan. Saking sakitnya, nyerinya terasa sampai di ubun-ubun.
"Emm ... kalah atau menang, Vir?" tanya Rana masih sempat-sempatnya memikirkan Arka.
"Kalah. Gara-gara elo sih," ucap Vira tanpa sungkan.
"Yah ..." Seketika Rana tambah lemas.
Harusnya, gue di sana terus nyemangati Arka. Tuh kan, jadinya begini. Arka pasti langsung gak semangat kalau gak ada gue, dalam hati Rana merutuki diri sendiri.
"Ya udah, pake ini dulu, Ra." Vira segera melepas jaket pink yang dikenakannya, kemudian mengikatkannya pada pinggang Rana.
Rana nurut-nurut saja.
"Gue telpon Arka, ya? Nyuruh dia nganterin lo pulang," tanya Vira. Tapi, tanpa menunggu jawaban segera menekan ikon call pada nomor cowok yang namanya barusan disebutnya.
"Halo, Ka! Lo cepetan ke toilet, ya. Kasian nih, Rana, ... bla bla bla," terang Vira panjang-lebar mengenai keadaan Rana saat ini.
Rana hanya menunduk malu sekali. Disaat cewek-cewek lain sibuk meneriakkan nama Arka menyemangati, ia justru terjebak di tempat ini. Sudah begitu, ia membuat Arka repot lagi.
"Keluar dari sini yuk, Ra. Gak betah gue di sini," ucap Vira kemudian menarik tangan Rana.
"Ra?"
__ADS_1
Tak disangka-sangka, ternyata di luar ada Raja. Berdiri dengan tampang ragu sekaligus canggung, dengan sebuah bungkusan hitam di tangannya.
Rana dan Vira justru saling bertukar pandang. Rana langsung membulatkan matanya begitu mengingat kejadian beberapa menit sebelumnya.