The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Sebut Saja Profesor Baru


__ADS_3

Kedua tangan gadis itu saling menggenggam meyakinkan. Pengumuman kali ini rasanya lebih menegangkan dibandingkan pengumuman inti beberapa menit sebelumnya. Tak perlu dijelaskan lagi tentunya, dengan alasan apa lagi kecuali karena ini adalah pengumuman hasil dari kerja kerasnya. Setidaknya, ia harus jadi salah satu diantaranya.


"Hm... baiklah, agar lebih menegangkan, sebaiknya bapak ubah urutannya saja ya," tutur sang pembawa acara terkekeh namun tetap sopan. Suasana menjadi sedikit lebih santai, tapi tidak dengan getaran udara di sekitar Rana. Masih sama menegangkannya.


"Ok, kita mulai dari juara tengah-tengah dulu yaa..." Pria itu memperbaiki kertas yang dibawanya. " Juara ke-2 kelas 11 adalah siswa dengan nama... Anggi Anggia Husein!!"


Sorak-sorai menggema. Tak heran, gadis itu kini menggantikan Marsha sebagai ketua guild cewek-cewek di sekolah ini yang entah namanya apa dan entah berapa banyak anggotanya.


Dari ujung sana, seorang cewek berdiri dan berjalan dengan kaki jenjangnya yang dibalut sepatu boots. Ya, ketua guild memang harus beda.


Rana menghela nafas. Sedikit melirik pada cowok yang tak berjarak jauh darinya. Tak ada warna di sana. Tapi kenapa dadanya memanas. Argh, tolong jangan sekarang. Marsha hanya mengada-ngada, tapi mengapa ada sisi di dalam dirinya yang menginginkan bahwa sebagian informasi itu adalah fakta.


"Baiklah, selanjutnya kita ke mana dulu nih kira-kira? Juara 1 dulu atau 3 dulu?" tanya sang pembawa acara dengan moto hidup bawa santai aja.


Sorakan ramai semakin menggema. Berdengung di telinga Rana. "Bisa gak sih diumumin aja dua-duanya sekalian?" gumamnya tak jelas, tapi sukses menimbulkan senyum miring tercetak di bibir Arka.

__ADS_1


"Oke, karena saya denger banyak yang bilang juara 1 nya dulu, jadi langsung saja saya umumkan yang juara 3."


"Duh, pasti si bapak belum makan ini mah," gumam cewek itu lagi entah meniru logat siapa.


"Nah, juara ke-3 diperoleh oleh ... siswi atas nama Nadania Salsabila!!!"


Krik ... krik ... krik ...


Ditempatnya, Nada tersenyum kikuk, tapi kali ini ia benar-benar tak apa. Ia tahu akan ada suatu keajaiban yang terjadi. Dan ia sudah mempersiapkan diri untuk hal ini. Bumi perlu berputar untuk mendewasakan penghuninya. Gadis itu beranjak dari tempatnya. Tak terlalu peduli dengan suasana aneh ataupun bisik-bisik yang rasanya terlalu keras untuk disebut sebagai bisik-bisik.


Arka melirik cewek itu dari ujung matanya. Rasanya ia ingin mengatakan, bukan, Rana. Bukan begitu hasil menurut prediksinya.


"Dan ini dia yang kita tunggu-tunggu. Siapa nih, kira-kira? Bye the way... ini memang ada sedikit perubahan ya, tapi ini sudah terjamin kebersihan nilai ujiannya."


Sorakan semakin menggema. Bagaimana tidak? Nada juara 3, Ingga juara 2, profesor manakah kira-kira yang sanggup mengalahkan keduanya?

__ADS_1


"Juara pertama kelas 11 IPA diraih oleh siswi atas nama.... " Senyum pembawa acara itu tercetak lebar sekali. " ... Rana Puspakarina!!..."


Punggung Rana spontan terjingkat. Bibir mungilnya membentuk huruf o hingga beberapa detik selanjutnya. Suara tepuk tangan dan sorak sorai menggema di telinganya. Ia tidak salah dengar, kan?


"Iya, Rana, kamu yang bapak panggil barusan," ulang pembawa acara seolah mengerti isyarat tanda tanya pada wajah polos Rana.


"Maju, Sayang. Tante bangga sama kamu," ujar Tante Sarah menyentuh lengan Rana.


Rana menggelengkan kepalanya. Karena tak ingin terus-terusan menjadikan wajah polosnya menjadi pusat perhatian, jadi ia memutuskan untuk berdiri dan berjalan menuju ke depan pentas.


Hadiah diberikan. Di tengah-tengah kegiatan, Arka merasakan getaran. Bukan pada hatinya, tapi pada saku seragamnya. Ternyata sebuah handphone.


"Ini tentang Rana, Ka. Gue tunggu di Rooftop."


Alis Arka mengernyit membaca pesan itu. Pandangannya kemudian tertuju pada gadis mungil yang akhirnya berhasil memegang piala di depan semua orang. Gadis itu kini tersenyum penuh bahagia, dan ia tak ingin lagi menjadi penyebab tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2