
"Kenapa, Ka?" Rana jelas dibuat bertanya-tanya.
"Maaf aku baru ngasih tau kamu sekarang," ucap Arka duduk di samping Rana, kemudian menyalakan benda yang barusan dibawanya.
"Awalnya aku pengen ngasih tau kamu setelah ujian aja, biar kamu gak kepikiran. Tapi setelah dipikir lagi, kayaknya aku bakal terlambat banget," jelasnya sembari mencari video hasil perjuangannya dan Rian selama ini.
"Ngasih tau apa, Ka?" tanya Rana was-was. Paham betul Arka sedang serius kali ini.
"Ini adalah alasan aku kenapa sampe bela-belain nyamperin Rian tepat setelah dia dateng ke Jakarta. Aku yang minta dia ke sini. Dia hacker yang bisa diandelin," jelas Arka sebelum akhirnya memulai video yang ditampilkan oleh layar laptopnya.
Baru semenit saja Rana menyaksikan rekaman CCTV yang sempat dihapus itu, cewek itu sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan, benar-benar tak menyangka.
"Ka," panggilnya terdengar parau. Tanpa bisa dibendung lagi, air matanya mengalir perih sekali.
"Maaf," hanya kata itulah yang bisa keluar dari bibir Arka. Untuk kesekian kalinya, dadanya serasa dicabik-cabik kala melihat Rana menangis di hadapannya.
__ADS_1
"Bawa aku ke rumah Rena sekarang juga, Ka."
...💕...
Rumah mewah itu kini sudah sepi kembali tak seperti keadaan di hari lalu. Benar saja, Om Wijaya benar-benar lincah membolak-balikkan keadaan. Buktinya, sudah tidak ada lagi rombongan wartawan yang datang. Mungkin, hanya menunggu beberapa waktu saja, kabar itu pun akan hilang entah terbang ke mana.
Kedua remaja itu berjalan menuju pintu rumah itu. Pagar sudah dibuka, sebab sebelum mereka ke sini tadi Rana sengaja mengirim pesan pada Rena.
Ting tung ....
"Ka, kamu tunggu di sini aja, ya," ucap Rana menoleh pada cowok di sampingnya. Dari matanya, siapapun akan tahu bahwa gadis itu tidak sedang baik-baik saja.
"Iya, aku bakal nungguin kamu di sini," ungkap Arka setuju. Sebab ia tahu, Rana butuh berbicara empat mata dengan cewek yang entah masih bisa dikatakan sahabat atau tidak itu.
Setelahnya, Rana lantas melangkahkan kaki memasuki rumah itu. Menyusuri tangga menuju kamar Rena. Masih belum bisa ia bendung, tetesan demi tetesan terus saja membasahi pipinya.
__ADS_1
Sesampainya di ruangan luas itu, dilihatnya Rena tengah duduk memunggunginya. Menatap jendela kamarnya yang tirainya sengaja dibuka lebar, menampilkan susunan megamendung yang berkabut.
"Rey," ucap Rana setelah berdiri tepat di samping tempat gadis itu terduduk.
Bangkit dari lamunannya sebab mendengar suara parau itu, Rena lantas menolehkan kepalanya dan terkejut lantaran melihat keadaan Rana yang sudah bercucuran dimana-mana.
"Ra? Lo kenapa?" tanyanya segera berdiri dan menghapus air mata cewek di hadapannya.
Rana semakin terisak. Lidahnya terasa kelu. Bahkan, sentuhan yg dulunya selalu mendatangkan ketenangan, kini justru membuat hatinya semakin perih. Membuat rongga dadanya semakin terasa sesak.
"Rey, gue sayang sama lo ...," ucap gadis itu seraya melepas kedua telapak tangan Rena dari pipinya. "... Tapi kenapa lo ngelakuin ini semua ke gue?" tanyanya setelahnya, dengan suara parau.
"Apa yang lo maksud, Ra?" tanya Rena, menepis semua kemungkinan yang tiba-tiba menghantui pikirannya.
Rana semakin terisak lagi. Gadis itu menjatuhkan dirinya di lantai dan menutupi wajahnya sesenggukan.
__ADS_1
"Gue salah apa sama lo, Rey?" tanyanya diselingi isakan. "Setega itu lo sampe nempelin kertas ulangan dan rapor gue di mading .... Apa lo gak pernah nganggep gue sahabat?"