The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Salah paham


__ADS_3

"Rana mutusin gue, Reg," ucap Daniel saat baru saja sampai di tongkrongan, kepalanya mengadah menatap langit mendung yang tak berhiaskan bintang sama seperti hatinya saat ini.


"Kok bisa?" spontan semua teman-temannya memokuskan perhatian ke arahnya.


"Dia mergokin gue jalan sama Gea," jawab Daniel lemas.


"Terus, lo gak jelasin ke dia? Kan, Gea cuma temen curhat lo."


"Dia gak mau dengerin penjelasan gue."


"Ya lo tahan lah, Brooo," Regy geleng-geleng kepala, "Perempuan tuh emang gitu, dia lari tapi pengen dikejar, dia marah tapi pengen dibujuk, dia bilang gak mau padahal dia mah mau, dia bilang gak papa padahal dia kenapa-napa. Gue aja ngerti, masa lo yang udah pacaran lama gak ngerti-ngerti," dia mulai mengeluarkan kata-kata mutiaranya. Maklum saja, cowok ini terkenal sekali dengan sebutan buaya daratnya.


"Udah gue kejar, tapi tiba-tiba ada cowok lain yang ikut campur."


"Siapa? Ikut campur gimana?"


"Rana nangisnya ke dia, katanya namanya ... Arka, Arka Airlangga."


"Arka?" tanya Regy memastikan pendengarannya.


Daniel hanya mengangguk lemas, tangan kanannya kemudian meraih ponselnya dari dalam saku, ditekannya tombol power. Sejak Rana memblokirnya, ia jadi malas sekali membuka benda gepeng ini.


Baru dinyalakan, tiba-tiba ada pesan masuk. Dari Rana? Daniel langsung saja membuka pesan itu.


โคRana q


Nieel


Nieel


Maap,


Bukan Rana yang blokir nomor Niel.


Daniel langsung saja memencet tombol call. Tak terhubung. Ahh, sial! Jelas-jelas ia melihat ponsel Rana hancur gara-gara terjatuh saat kejadian tadi.


Tak butuh waktu lama, Daniel langsung menyambar kunci motornya.


Ternyata, ini semua hanyalah salah paham, Rana tak benar-benar mencampakannya dan ia tak pernah benar-benar menghianati Rana.Tidak, ia tidak boleh membiarkan hubungannya hancur hanya karena sebuah kesalahpahaman.


"Gue cabut," ujarnya sembari menyalakan motornya.


"Eh, mau kemana?"


"Rana," jawabnya kemudian melesat begitu saja.


"Woy! Gue kenal Arka! Anak Tunas Bangsa!"


teriak Regy. Lagipula, siapa yang tak mengenal seorang Arka Airlangga?


...๐Ÿ’•...


"Hiks ... hiks ... hiks ...." sambil menangis, Rana mengetuk pintu kamar adiknya. Mami belum sampai di rumah, sedang ia butuh tempat cerita, jadi ia memutuskan untuk mendatangi Dhira, bodoh amat walau Dhira masih kelas 5 dan tak mengerti urusan cinta. Yang penting Dhira punya telinga yang bisa mendengarkan, walau entah mulut Dhira bisa diajak kompromi atau tidak.

__ADS_1


Kreek, pintu terbuka menampilkan wajah garang Dhira lengkap dengan tatapan tajamnya. Jam berapa sekarang? kenapa kakaknya ini tak bisa membiarkannya tidur nyenyak sebentar saja.


"Dhiraaa!! Hiks ... hiks ... hiks ...." Rana langsung saja masuk dan berbaring di tempat tidur Dhira.


Dhira menatap kakaknya malas, kenapa lagi orang ini? Jangan-jangan, drakor yang ia tonton endingnya menyedihkan lagi.


"Kenapa lagi?" tanya Dhira setelah menutup pintu dan ikut berbaring di samping kakaknya.


"Niel selingkuuuuh, hiks ... hiks ... hiks ...."


"Niel, pacar kak Rana?" tanya Dhira malas.


"Iyaaaa ... oh ya, yang blokir nomor pacar kakak, kamu ya?"


"Iya, habisnya ribut, nelpon terus," aku Dhira terang-terangan tanpa rasa bersalah.


"Dhiraaaaa! Hiks ... hiks ... hiks .... pasti gara-gara itu pacar kakak selingkuh."


"Kalau emang setia, ya gak bakal selingkuh."


"Tapi kan ...."


"Udah, cowok bukan cuma kak Daniel, walaupun kak Rana aneh dan nyebelin yang mau sama kakak banyak kok."


"Siapa?" tanya Rana spontan saja.


"Pak Budi," jawab Dhira tak acuh.


"Biarin!"


Tok! tok! tok!


"Siapa, Ra?" Rana bertanya.


"Mana gue tau," jawab Dhira tak acuh sembari berjalan mendekati pintu dan membukanya.


Di depan kamar, Cipto berdiri dengan tatapan menyelidik.


"Kenapa kakakmu? Habis nonton drakor lagi?" tanya Cipto penasaran.


"Bukan, pacarnya selingkuh"


...๐Ÿ’•...


"Halo, Pak Budi!" suara Pak Cipto di ujung sana.


"Halo! Siap, Pak!" sahut pak Budi spontan berdiri dengan posisi tegap. Padahal, majikannya itu sedang ada di dalam rumah dan sama sekali tak mengawasinya.


"Nanti atau besok dan seterusnya kalau ada Daniel datang, jangan bolehin masuk! Apalagi sampai ketemu Rana," titah Cipto tegas.


"Siap! Laksanakan, Pak!"


"Ya udah, gitu aja, tapi ingat ya, Pak Budi, saya gak mau denger sampai Rana ketemu sama Daniel."

__ADS_1


"Siap, Pak!"


Tuuut, sambungan telepon mati.


Brum ... brum ... sett ....


Baru saja Pak Cipto mematikan telefonnya tiba-tiba orang yang dimaksud sudah muncul saja.


"Pak Budi, Rananya ada, Pak? Saya mau ketemu sama Rana," terang Daniel sejurus setelah ia turun dari motor dan membuka helmnya.


"Maaf, Mas Daniel, berdasarkan perintah dari Pak Cipto, saya tidak diperkenankan mengizinkan Mas Daniel masuk dan ketemu dengan non Rana," jelas pak Budi dengan posisi tegap dan pandangan lurus, lagi.


"Ayolah, Pak, ini penting banget, Pak, hubungan saya bakal ancur kalau saya gak nemuin Rana sekarang," Daniel berusaha membujuk.


"Gak bisa, Mas, ini perintah."


"Pak Budi, tolonglah, Pak, sekali ini aja," Daniel mulai memohon, sorot matanya terlihat gelisah sekaligus memelas. Harap-harap cemas.


Pak Budi menatap cowok di hadapannya ini lama, tak biasanya mas Daniel sampai memohon-mohon begini. Sepertinya, keperluan Mas Daniel sangat penting, sampai terlihat segelisah ini. Atau jangan-jangan, ini ada hubungannya dengan non Rana yang menangis tadi. Tak mungkin Non Rana menangis tanpa sebab yang kuat, anak majikannya itu adalah cewek yang selalu ceria dan hiperaktif. Ah, atau ada kesalahpahaman antara Non Rana dan Mas Daniel.


"Ayolah, Pak, saya harus jelasin semuanya sama Rana sekarang, Pak."


Pak Budi mengelengkan kepala tegas. Tidak, ia tak boleh luluh! Profesinya sedang dipertaruhkan saat ini. Ia kepala keluarga, ia tak boleh kehilangan pekerjaan begitu saja.


"Gak bisa, Mas. Mulai sekarang dan selanjutnya, Mas Daniel gak boleh datang ke sini dan ketemu non Rana, ini perintah langsung dari pak Cipto," tegas Pak Budi menumpas habis rasa ibanya.


Daniel mengacak-acak rambutnya frustasi, bagaimana caranya ia bisa bertemu dan menjelaskan semuanya pada Rana? Sekarang, cewek itu pasti sudah sangat membenci nya. Ahh, sial! Siapa pula Arka itu? Kenapa ia jadi gelisah begini?


Kamar Rena_Minggu pagi


Rena mengamati Pantulan dirinya di cermin. Raja sudah menunggu di ruang tamu, tapi ia masih sibuk disini. Rasanya selalu saja ada yang tidak pas dengan outfitnya, dari mulai sepatu, celana, kaus, bahkan gaya rambutnya pun, terasa tak meyakinkan.


"Gini kali, ya? Ah, udahlah! Orang cuma joging juga," ia kemudian segera turun lantai satu.


"Udah siap, Ren? Lama banget dandannya," seloroh Raja setelah melihat Rena turun dari tangga. Senyumnya mengembang, ramah sekali.


"Maklumlah, Ja, namanya juga cewek," kekeh Rena tersenyum juga.


"Yaudah, yuk! Keburu siang nih, entar kulit lo gosong lagi," ajak Raja.


"Hhh, tau aja lo, Ja."


Joging pun dimulai, sambil melakukan aktivitas itu keduanya juga banyak berbagi cerita.


"Ren, lo biasa joging gak? Takutnya entar lo kecapean, terus pingsan. Siapa juga yang repot coba?"


"Pandang enteng lo, Ja, joging gini mah sering gue. Gak liat lo, body gue atletis gini?" ucap Rena kemudian menertawakan perkataannya sendiri.


"Sering?"


"Iya."


"Sendiri, sama temen, atau pacar?" tanya Raja.

__ADS_1


__ADS_2