The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Tawuran


__ADS_3

"Daniel kenapa?" tanya Rana segera.


"Cepetan, Ra. Cuma lo yg tak bisa ngatasin ini. Mereka udah bentrok di lapangan."


"Beneran lo, Yo?" Rana langsung bergegas. Berdiri dari duduknya.


"Beneran. Please banget, Ra." Dio menelungkupkan kedua tangannya memohon.


"Ayok! Anterin gue ke mereka."


Selanjutnya, kelima orang itu bergegas lari menuju lapangan SMA Tunas Bangsa. Koridor sekolah terasa penuh sekali. Semua orang dibuat ketakutan menyaksikan aksi tawuran yang tengah terjadi. Bahkan guru dan kepala sekolah pun kebingungan mengatasi kejadian anarkis ini.


Rana berdiri menatap kericuhan di hadapannya. Daniel benar-benar keterlaluan. Masalahnya, mereka datang tidak dengan tangan kosong.


"STOOOOOP!!!" suara melengking Rana ternyata sukses membuat para pelaku tawuran menghentikan aksinya.


Rana menghela napas. Tanpa rasa takut, ia melangkah maju berjalan di tengah-tengah kerumunan mereka. Untung saja cowok-cowok mengerti dan langsung memberinya jalan. Ia kemudian berhenti di belakang punggung seorang cowok yang benar-benar ia kenali. Berdiri tegak membelakanginya, sekaligus berhadapan langsung dengan mantan pacarnya, Daniel.


"Lo balik aja, Ra. Biar gue yang ngatasin mereka," ujar Arka tegas. Tahu betul Rana sedang berlindung dibalik punggungnya.


Rana hanya diam sembari mengintip wajah Daniel dari belakang punggung Arka. Cowok itu pasti tak dalam kesadaran. Matanya memerah dengan tatapan mata seperti hendak menerkam segalanya.


Mencoba menelan semua ketakutannya, Rana keluar dari perlindungannya. Menampakkan diri secara langsung pada mantan pacarnya yang sepertinya sedang dalam keadaan mabuk berat.


"Ra?" Daniel langsung menjatuhkan balok besinya begitu saja. "Aku mau ngomong sama kamu, Ra. Tolong dengerin penjelasan aku." Daniel hendak maju dan menggapai tangan Rana, tapi kemudian Arka langsung menahan pergerakannya.


"Maju satu langkah, gue abisin lo di sini sekarang juga," ancam Arka tanpa ampun.


"Raa ..." Daniel memelas. Ia tak bisa membiarkan Rana pergi bagitu saja dari hidupnya.


"Okay, gue dengerin penjelasan lo, tapi jangan di sini. Ya?" ucap Rana kemudian hendak melangkah pergi.

__ADS_1


"Ra." Arka langsung menahan tangan cewek itu. "Lo yakin?"


"Keep calm, Ka. Gue bisa jaga diri kok." Tangan kiri Rana kemudian melepas tangan Arka dari tangan kanannya.


"Jangan jauh-jauh, Ra." Akhirnya, hanya kata itulah yang keluar dari bibirnya.


Rana hanya tersenyum singkat menanggapi ucapan Arka, kemudian melangkah diikuti Daniel di belakangnya.


"Ra, aku bisa jelasin semuanya," ucap Daniel setelah ia dan Rana berdiri berhadapan di bawah pohon rindang yang cukup jauh dari kerumunan kaum bentrokan.


"Nil, lo mabuk ya?" tanya Rana menyentuh pundak cowok itu.


Daniel tertegun, walau ia sedikit tak terbiasa dengan kata lo-gue yang digunakan Rana, tapi setidaknya cewek itu masih mempedulikannya.


Tangannya kemudian menyentuh tangan Rana, memindahkan tangan itu ke pipinya.


"Aku gak mau kehilangan kamu, Ra. Aku sama dia tuh cuma temen curhat, gak pernah lebih dari itu. Aku gak pernah ada niat buat duain kamu," ujar Daniel menatap mata Rana. Hilang sudah keganasannya di hadapan cewek ini.


"Gak papa, aku udah maafin kamu kok," ucap Rana kembali pada kata aku-kamu. Jemarinya kemudian mengelus pipi Daniel singkat kemudian menarik tangannya perlahan.


"Berarti kamu mau balik lagi sama aku, kan?" tanya Daniel girang, menahan tangan Rana agar tak pergi begitu saja.


Rana terdiam, sedikit tertunduk, kemudian menoleh pada Arka yang ternyata masih setia mengawasi pergerakan mereka.


"Maaf, Nil, kita udah gak bisa kayak dulu lagi," ujar Rana melepas tangannya dari genggaman cowok itu.


"Kenapa, Ra? Karena sekarang udah ada dia?" tanya Daniel tak bisa menahan. Matanya mengisyaratkan pada Arka yang ia tahu semendari tadi memperhatikan mereka.


Rana menoleh pada Arka, tersenyum pada cowok itu, dan kemudian memberi senyum pula pada cowok di hadapannya.


"Bukan gitu, Nil. Aku cuma baru sadar aja seandainya kamu bener selingkuh pun, itu semua bukan murni kesalahan kamu. Aku juga salah. Gak pernah bisa hargain kamu sebagai pacar aku. Aku egois, cuma mikirin kepentingan diri aku sendiri. Gak pernah ngasih timbal balik buat bahagiain kamu selama ini."

__ADS_1


"Ra, tapi aku gak masalah sama semua itu. Aku bakal belajar lagi buat nerima semuanya asalkan kamu jangan pergi dari aku."


"Gak bisa gitu, Nil. Aku udah hambar sama kamu. Mulai sekarang, kita udahan tapi dengan cara damai. Aku bakal nyari orang yang bener-bener aku cintai dan kamu bakal bahagia sama orang yang bener-bener cinta sama kamu. Sekeras apapun, gak ada kebahagiaan yang bisa tumbuh dari hal yang dipaksain. Kamu ngerti kan, maksud aku?"


"Tapi, Ra...."


"Nil." Rana menyentuh pergelangan tangan cowok itu. "Aku gak bakal pergi dari hidup kamu. Sebelum pacaran kita sahabat dan setelahnya pun, kita tetep sahabat. Aku peduli sama kamu, lain kali jangan gini lagi, ya. Daniel-nya aku tuh, gak bakal pernah mabuk-mabukan sampai tawuran gini," ujar Rana kemudian tersenyum menampilkan sederet giginya.


"Hhh,,, janji deh, gak bakal gini lagi," ucap Daniel kemudian menggandeng tangan Rana berjalan menuju tempat kerumunan tawuran berada.


"Jangan janji-janji. Takutnya kamu gak bisa tepatin lagi," prenges Rana menengadah menatap cowok itu.


"Hhh,,, iya deh," ucap Daniel sembari mengacak-acak pucuk kepala gadis yang sedang berjalan di sampingnya ini.


Sesampai di tempat kerumunan, Daniel lantas melepaskan genggamannya dari tangan Rana dan kembali berdiri di depan kloni-nya.


"Gue sebagai ketua geng, dengan segenap kerendahan hati meminta maaf atas segala kerusuhan yang terjadi. Setelah permintaan maaf ini, gue berharap gak ada lagi dendam di antara kita." Daniel dengan tegas menyampaikan permintaan maafnya.


Arka tak memberi tanggapan, justru sinis menatap cewek di sampingnya. Lihatlah cewek ini, benar-benar tak punya rasa takut.


"Okey, kalau gitu gue cabut." Merasa tak mendapat tanggapan yang positif, Daniel jengah. Ah, dasar Arka. Sombong sekali cowok ini. Diajak bicara malah sibuk menatapi wajah Rana.


"Cabut, Bro!" titah Daniel berteriak tegas pada kloni-nya. Rombongan itu kemudian berlalu menuju motor mereka.


"Daniel!!" teriak Rana ketika cowok itu sudah menaiki motornya. "See you!" teriaknya lagi.


Daniel balas tersenyum.


"Sini lo! Gue mau bicara sama lo," ucap Arka menarik tangan Rana mengikuti langkahnya.


"Lo tuh, bener-bener gak ada rasa takut, ya!" sentak Arka setelah ia dan Rana benar-benar menjauh dari kerumunan.

__ADS_1


Rana tak menanggapi apa-apa. Justru menengadah menatap wajah cowok di hadapannya. Beberapa lebam menghiasi wajah cowok itu. Pandangannya kemudian beralih pada tangannya yang masih dicengkeram oleh Arka. Arka ini ... dalam keadaan sudah seburuk ini, masih galak sekali memikirkan keselamatannya.


__ADS_2