The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Remuk Redam


__ADS_3

Arka melesat dengan motor KLX-nya menuju sebuah lapangan yang dimaksud oleh Daniel. Pikiran cowok mengembara. Banyak sekali beban yang harus dipikulnya. Terlalu banyak janji yang mengikatnya. Dan ia bagaikan mahluk Tuhan yang maha kecil, yang bahkan tak bisa mengikuti kata hatinya. Ia remuk redam, tapi ia tak bisa menyalahkan siapa-siapa, sebab ini adalah pilihan yang diambilnya.


"Nil," ucap cowok itu, setelah turun dari motornya dan mendapati sosok Daniel yang berdiri memunggunginya. Berdiri tegak di tengah lapangan luas tempat mereka berpijak yang basah dan masih diguyur hujan.


Daniel menolehkan kepalannya samar tanpa membalikkan badannya. Kedua tangannya mengepal. Dadanya bergemuruh, seolah tak bisa lagi menahan amarah yang semendari tadi diembannya.


"Gue nitipin Rana ke lo bukan buat lo sakitin, Ka," ucap cowok itu terdengar jelas di antara guyuran hujan yang membasahi mereka. Cowok itu kemudian membalikkan badannya, menatap Arka dengan tatapan nyalangnya. "Gue nitipin ke elo, karena gue percaya sama lo. Gue percaya kalo lo bakal bisa bahagiain dia, lebih dari yang gue bisa."


Arka terdiam oleh ucapan Daniel. Di setiap kata cowok itu, ada kemarahan yang ia rasakan. Dan ia tak akan mengelak.


"Sebenernya lo niat gak sih, sama Rana?!" tanya Daniel, sebab satu sisi dalam dirinya masih meyakini bahwa Arka tak akan melakukannya.


Arka masih diam. Antara jawaban iya dan tidak, ia sendiri tak dapat menemukannya.


"Jawab, hah!" teriak Daniel, kemudian berlari ke arah Arka mengumpulkan semua amarahnya pada kepalan tangan kanannya. Dan kemudian....

__ADS_1


Bugh! Bruak!!


Pukulan itu tepat mengenai pipi kiri Arka dan membuatnya jatuh terperosok ke lantai dengan Daniel yang mendudukinya dan menarik kerahnya kasar.


"Jawab, Ka! Jangan bikin kepercayaan gue luntur ... Elo, yang bikin Rana nangis gara-gara ngeliat lo ciuman sama cewek lain?!" tanya Daniel, tangan kanannya sudah bersiap melayangkan serangan lagi. Serangan yang lebih kuat lagi.


Kali ini, mata Arka melebar sebab pertanyaan Daniel. Jadi, Rana melihat semuanya?


"Jawab, bangsat!" hardik Daniel lalu menerjangkan pukulannya tanpa aba-aba lagi.


Bugh!


"Iya ..., gue. Dan gue emang nggak pantes dapetin maaf dari siapa pun," ucap cowok itu. Dari sudut bibirnya, mengalir cairan berwarna merah segar.


Dan Daniel bagaikan monster yang dimakan amarah. Cowok itu melayangkan serangannya pada wajah Arka tanpa henti, seolah dengan begitu kesakitan yang dialami oleh Rana akan berkurang.

__ADS_1


Bugh!


Bugh!


Bugh!


"Argh ...," gerang Arka untuk kesekian kalinya, tapi cowok itu tak beranjak dari posisinya, seolah mempersiapkan dirinya untuk mati di tangan Daniel. Luka ini ... rasanya sakit, tapi ia tahu .... yang Rana rasakan lebih sakit.


Ra, jangan simpen gue di hati lo lagi .... Lupain gue ....


"Lo bejat, Ka!" hardik Daniel tanpa menghentikan serangannya. Ia seperti seorang petarung yang kelaparan mangsa.


"Anjing! Tau begini lo gue habisin dari dulu!" Cowok itu menghentikan pukulan bertubi-tubinya, kemudian menekan dada Arka keras.


"Lo boleh ciuman sama cewek mana pun, gue gak peduli. Tapi kenapa harus di depan Rana, goblok! Kenapa juga lo biarin dia pulang malem sendirian dalam keadaan kehujanan?! Punya otak itu dipake, anj*ng! Rana itu cewek, kalo bukan gue yang lewat, gue gak bisa pastiin dia bisa pulang dengan selamat."

__ADS_1


Arka hanya bisa menggerang menahan kesakitan tanpa suara. Dalam pikirannya sekarang, terbenam sebuah pertanyaan yang tak mungkin ia ungkapkan; Rana baik-baik aja, kan?


__ADS_2