
Pagi hari sudah datang. Tirai kamarnya terbuka lebar menampilkan matahari yang cerah dan hangat, tapi ia tak bisa melihat sinarnya, juga tak bisa merasakan kehangatannya. Berbaring di ranjangnya sendirian. Memeluk lutut kesepian. Ia bagaikan gadis tanpa harapan untuk hari kedepan. Mimpinya hilang, cintanya tenggelam. Ia malu menampakkan diri pada dunia. Dunia yang menjatuhkannya dengan teganya.
"Rana, makan dulu, Sayang ... Mami udah masakin makanan kesukaan kamu," ucap seorang wanita, duduk di tepi ranjangnya dan mengelus rambut berantakannya.
"Mi ..., emang Rana nggak pantes ya, buat Arka?" tanya gadis itu lirih. Dari sudut matanya, mengalir bulir bening, lagi.
"Ranaa ...." Puspa hanya bisa geleng-geleng kepala tanpa jawaban. Hatinya serasa diiris-iris melihat Rana yang sehancur ini. Ia juga tak mengerti, apa yang ada di pikiran Arka hingga tega menyakiti Rana. Dalam pandangannya, Arka terlalu baik untuk menjadi alasan Rana patah hati.
"Apa Rana kurang cantik?" tanya Rana lagi, lalu terisak sekaligus berusaha menahan isakan itu sendiri.
"Nggak, Sayang ... Rana yang paling cantik." Puspa berusaha menahan genangan di matanya agar tak lantas turun di depan Rana.
"Ah, bukan, bukan karena itu," Rana menggantung katanya. "Itu karena pasti karena Rana bodoh ... Arka pasti ninggalin Rana karena itu. Cewek itu pasti mantan Arka yang pinter banget ...," cewek itu kemudian semakin terisak. Punggungnya naik-turun, air matanya juga terus mengalir, walau ia tahu tetesannya akan semakin memerihkan hatinya.
Dan Puspa bagai wanita terlemah sedunia. Ia tak lagi bisa menahan air matanya. "Jangan kayak gini, Sayang ...," ucapnya di antara sedu tangisnya.
...💕...
Kamar itu dipenuhi oleh remaja dengan seragam SMA. Sedang di tengah-tengahnya, seorang Arka duduk dikelilingi oleh tatapan tanya mereka. Cowok itu duduk bersandar, berfikir keras bagaimana menghadapi teman-temannya.
"Ka, jawab! Kenapa lo bisa kayak gini?" desak Dio, ada suatu firasat dalam hatinya sejak Arka mengangkat telfonnya tadi. Nama yang disebutkan Arka walau tak lengkap, mengingatkannya pada seorang cewek yang entah kemana perginya.
Arka memejamkan matanya sejenak, meyakinkan diri sendiri. Kemudian membuka mata dan menatap teman-temannya satu per satu.
"Gue ninggalin Rana," ucap cowok itu singkat.
"Ka? Maksud lo gimana?" Arsya mengernyit penuh tanda tanya. Terlalu banyak pertanyaan yang belum dijawab Arka sedari tadi.
Arka masih diam.
__ADS_1
"Ka, lo ... ketemu sama Ingga?" tanya Dio, membuat semua mata terpusat padanya. Satu nama yang sebelumnya menjadi obrolan terlarang bagi mereka.
Arka menatap Dio sejenak, sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan. "Gue cinta sama Ingga," ucap cowok itu seolah tanpa beban.
"Ka! Lo gila?!" Dio berdiri dari duduknya. Ia kini benar-benar tersulut emosi. Rana terlalu baik untuk disakiti seperti ini.
"Ka ... lo sadar kan, sama keputusan lo?" tanya Arsya, mencoba bertindak bijak walau ia sendiri tengah tersulut emosi.
Arka menoleh pada Arsya. "Gue sadar, dan gue gak akan menyesal," ucap cowok itu tanpa sekelebat pun keraguan tampak dari kilatan matanya yang tajam.
"Gila lo, Ka ...." Dio geleng-geleng."Bubar!" teriaknya kemudian. Dan benar saja, semua cowok yang berada di sana segera berdiri walau dengan gerakan yang lemas.
Arka terdiam menatapi punggung teman-temannya yang satu per satu berdiri dan keluar dari kamarnya. Tapi ia masih tetap seangkuh biasanya, jangankan melarang, memberi penjelasan lebih saja ia tidak.
"Kecewa gue sama lo, Ka. Lo nggak seharusnya giniin Rana," ucap Arsya sebelum berbalik dan pergi mengikuti teman-temannya.
"Ka ...." Kini giliran Dio yang justru masih tersisa. "Kalau lo bukan temen gue, pasti lo udah gue habisin gak peduli keadaan lo udah kayak apa," ucapnya kemudian berlalu. Meninggalkan Arka sendiri, sepi, bahkan bayangannya pun seolah ikut pergi.
...💕...
Tapi entah mengapa, ada satu kepercayaan dalam diri mereka. Kepercayaan yang mengatakan Arka bukan sosok sejahat itu. Dan meski bagaimana pun, Arka tetaplah teman mereka.
"Om," sapa mereka, saat bertemu seorang pria yang merupakan ayah Arka. Duduk di ruang tamu dengan sebuah majalah di hadapannya. Penuh wibawa walau tanpa setelan jas mengkilap nan mahal.
"Duduk dulu," ucap Rangga dengan suara berat penuh wibawanya. Terlalu berwibawa untuk mereka tolak titahnya.
Mereka duduk di ruang tamu itu dengan kepala yang tak setegak biasanya. Siapapun tahu, dari mana Arka mewarisi sikap sekeras bajanya.
Rangga melipat majalahnya dan meletakkannya di atas meja. "Gimana Arka? Gila, kan?" tanya pria itu tanpa raut bercanda.
__ADS_1
"Iya, Om," jawab mereka polos saja, sebab mereka memang jarang berhadapan dengan ayah Arka.
"Iya, bocah itu memang gila. Tapi kalian tenang saja, dia sudah saya hukum habis."
Dio dan yang lainnya manggut-manggut, tapi saling bercuri pandang. Ternyata, sebab inilah Arka lebam tak keruan.
"Tapi kalau kalian juga mau memberi pelajaran, saya persilahkan. Habisi saja semua kalian," ucap ayah satu anak itu lagi.
"Oh ya, gimana Rana? Kalian sudah ketemu sama dia? Dia sekolah, kan?"
"Nggak, Om," jawab Dio.
Rangga menghembuskan napas panjang. "Nanti salamkan saja sama Rana permintaan maaf saya atas perbuatan Arka. Saya tahu dia kecewa, tapi saya juga tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi," ucap Rangga, bersamaan dengan itu bel rumahnya menimbulkan bunyi nyaring. Bunyi yang berhasil memfokuskan pandangan mereka ke arah pintu itu.
"Siapa? Temen kalian ada yang nyusul?" tanya pria itu pada remaja-remaja yang duduk di hadapannya.
"Em ... biar saya bukakan, Om," ucap Kibo kemudian berdiri dari duduknya tanpa menunggu persetujuan dari ayah Arka.
Kreek..., Pintu terbuka. Seorang cewek berseragam SMA mereka, berdiri dan tersenyum ramah pada mereka. Rambutnya lurus sebahu dan digerai sempurna. Kulitnya sawo matang, sesuai dengan bentuk wajahnya yang manis dan elegan.
Mata semua orang yang berada di sana seketika terbuka lebar. Inilah perempuan yang disebut-sebut semendari tadi. Ingga Anggia Husein, cewek pintar multi talent, cinta pertama Arka.
"Pagi, Om," sapa cewek itu, langsung melewati Kibo begitu saja. Berjalan masuk dan tersenyum pada ayah Arka.
"Pagi," balas Ayah Arka tanpa ekspresi.
"Saya mau njenguk Arka, Om," terang gadis itu, mengabaikan tatapan tak suka semua pria di ruangan itu.
"Jenguk saja sesukamu," ketus ayah Arka, kemudian memalingkan pandangannya pada teman-teman Arka di hadapannya.
__ADS_1
"Makasih, Om," ucap Ingga sedikit menundukkan kepala. Tetap tersenyum ramah, walau ia tahu respon ayah Arka sama sekali jauh dari dugaannya. Gadis itu kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar Arka. Dengan langkah elegan satu per satu menaiki anak tangga.
"Perempuan gak bener ...," lirih ayah Arka tak suka.