The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Diantara Guyuran Hujan


__ADS_3

Nada balas menatap manik mata Arsya dalam. Mulai merasa bahwa Arsya benar-benar serius dengan ucapannya.


"Gue tau gue gak sebanding sama lo. Gue sadar diri. Mana ada cewek pinter yang mau jadian sama sampah kayak gue," ucap Arsya menghardik dirinya sendiri.


Nada hanya diam meresapi setiap ucapan Arsya, cowok yang biasanya tak pernah serius dalam melakukan hal apapun termasuk ujian kelulusan.


"Tapi gue suka sama lo. Awalnya gue gak ngerasa PD buat deketin lo secara langsung, makanya gue sering gangguin lo. Tapi makin kesini ... perasaan gue jadi makin gede ke elo, dan gue pengen lo jadi milik gue seutuhnya." Arsya menghela napas setelah menyelesaikan ungkapannya. Sekarang, giliran ia menunggu jawaban dari Nada.


1, 2, 3, 4 detik.


Tak ada kata yang keluar dari bibir Nada. Cewek itu bungkam seribu bahasa. Namun, tak beralih dari posisinya yang dekat dengan Arsya.


"Ya udah, Nad. Kalau gitu gue minta maaf karena selama ini udah sering banget gangguin elo." Arsya mulai lemas, merasa bahwa diamnya Nada adalah tolakan bagi ungkapan perasaannya.


Tapi kemudian ia menegapkan kepalanya lagi.


"Gue emang gak layak buat dapetin elo. Tapi sebelumnya, gue pengen mastiin dulu. Gue bakal ngelakuin hal yang mungkin bakal ngebuat lo marah selamanya ke gue. Lo boleh menghindar, kalo lo emang pengen gue pergi dari hidup lo. Dan lo cukup diem aja, kalo lo masih pengen gue ada di samping lo." Arsya kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Nada, menguatkan mentalnya sendiri sebab ia tak seharusnya seberani ini.


Nada menelan salivanya gugup. Memejamkan matanya rapat. Otaknya menyuruhnya pergi, tapi hatinya jelas menolak keras.


Cup...


Walau ragu, Arsya benar-benar mencium bibir Nada. Tak segera melepasnya, juga sama sekali tak **********, walau jujur... hatinya ingin sekali melakukan hal itu.


1, 2, 3 detik. Nada sama sekali tak menghindar, juga sama sekali tak melakukan perlawanan.


Dengan senyum mengembang, Arsya menjauhkan wajahnya dari wajah Nada, melepaskan bibir Nada yang sebenarnya nyaris menggoyahkan imannya.


"Nada!" Cowok itu kemudian memeluk cewek di hadapannya erat. Benar-benar berterimakasih untuk semuanya.


Nada membuka kedua matanya yang semendari tadi rapat sekali ia pejamkan. Senyumnya juga mengembang bahagia. Benar-benar berbunga-bunga, sebab sebenarnya ia juga mencintai Arsya. Dan mungkin ... rasa itu juga sudah ada sejak lama.


"Berarti kita pacaran?" tanya Arsya setelah melepas pelukannya. Menyentuh kedua bahu Nada.


Dengan senyum yang masih senantiasa ia kembangkan, Nada mengangguk tersipu.

__ADS_1


"Yes!" Arsya memeluk Nada sekali lagi, kemudian berlari-lari dan berteriak riang di bawah guyuran hujan.


"Nadania Salsabila i love you!!" teriaknya penuh semangat.


"Arsya! Jangan hujan-hujanan, nanti sakit," larang Nada, walau senyumnya tentu masih merekah di wajahnya yang sudah memerah tersipu.


Arsya yang teramat senang, tak menghiraukan larangan Nada. Cowok itu masih berlari-lari riang merasakan guyuran hujan. Membiarkan seluruh tubuhnya basah kuyup. Merasa dirinya dianugerahi kebahagiaan terbesar sebab akhirnya perasaan yang ia pendam sekian lama terbalaskan juga.


...💕...


Jam 04.30


Cewek itu mengerjap-ngerjapkan matanya dan merogoh ponselnya yang terletak di atas meja. Barusan, ia merasa benda itu bergetar.


Setelah menyalakan layar ponselnya, netranya langsung terbuka lebar. Sebuah notif pesan dari nomor Arsya sukses menguapkan rasa kantuknya seketika. Tak butuh waktu lama, ia segera membukanya.


Ternyata sebuah pesan suara.


"Paagi ... Sayang! Kalau udah bangun, jangan lupa gosok gigi, cuci muka, mandi. Oh ya ... kalau masuk kamar mandi jangan baca do'a makan, ya...."


"Belum pagi Arsya ... ini tuh masih subuh," ucap Nada lirih, membalas pesan suara Arsya.


Dredd....


Baru saja beberapa detik, sudah ada pesan balasan dari Arsya.


"Hehehe ... iya, abisnya aku gak sabar pengen ngucapin selamat pagi buat kamu."


"Hhh ... emangnya semalem kamu gak tidur?" tanya Nada membalas pesan Arsya lagi, masih dengan senyum mengembangnya.


Di ujung sana, senyum Arsya juga mengembang termehek-mehek, kemudian membalas chat dari Nada. "Enggak. Gak bisa tidur soalnya mikirin kamu," ucapnya kemudian membenahkan selimut yang membungkus rapat tubuhnya. Tersenyum-senyum sendiri layaknya orang gila.


Nada tersenyum-senyum sendiri setelah mendengarkan pesan suara Arsya. Ternyata seindah ini, ya. Pantas saja Rana dan Vira bisa sampai seperti orang gila kalau sedang jatuh cinta.


"Ndok! Sholat, ndhuk!"

__ADS_1


Nada segera menyembunyikan ponselnya, kemudian menoleh pada asal suara. Ibunya tengah berdiri tersenyum di ambang pintu kamarnya.


"Iya, buk."


...💕...


Cepat sekali cewek itu melahap roti Sarapan pagi di hadapannya. Hari ini ia bersemangat sekali berangkat ke sekolah. Empat huruf balasan pesan dari Arka, adalah serpihan cahaya harapan baginya. Kalau benda sekeras batu saja bisa ditaklukkan oleh air, maka bukan hal mustahil hati seorang Arka bisa ditaklukkan olehnya. Kalau pun tidak semudah yang ia bayangkan, maka ia siap mengguyur hati Arka yang sekeras baja dengan berton-ton air mineral.


"Rana ... pelan-pelan dong makannya. Liat tuh Dhira, kan enak dilihatnya kalau kalem gitu. Cewek kok gak ada kalem-kalemnya," tegur Cipto.


Rana tak menghiraukan ucapan ayahnya, buru-buru sekali ia meneguk air mineralnya.


"Ya udah, Mi, Rana berangkat dulu." Diciumnya kedua pipi ibunya cepat, kemudian berlari pergi dengan langkah kecilnya yang riang. Hendak meminta Pak Budi mengantarkannya ke sekolah.


"Rana!" hardik Cipto merasa anak perempuannya itu sedang memancing emosinya, tidak menganggap keberadaannya.


...💕...


Jess ... jess ... jess ...


Seketika wangi parfum khas cowok menguar di ruangan itu. Menimbulkan kesan maskulin sekaligus dingin yang selalu di pancarkan cowok itu.


Seorang cowok berdiri gagah di hadapan cermin, membenahkan kerah jaket jins-nya, yang entah sudah berapa lama berada di tangan seorang cewek bernama Rana Puspakarina.


Dilemparkannya senyum pada pantulan dirinya sendiri di cermin, kemudian sudut matanya melirik sekilas pada sebuah gambar hasil karya milik cewek itu.


Ya, mungkin ia sudah luluh, atau lebih bisa dikatakan positif gila. Benar-benar merasa masa bodoh dengan semua prasangkanya pada Rana. Seolah tak peduli bagaimana sebenarnya gadis itu.


...💕...


Duduk bersandar di balik pintu kamarnya, dengan posisi memeluk kedua lutut, gadis itu terisak menahan tangis.


Hari sudah pagi, tapi rasa sakit hatinya tak kunjung pergi. Membuatnya merasa berat hati untuk berangkat sekolah di hari ini.


Rasanya ia tak mampu melihat Raja memperjuangkan cewek lain. Cewek yang merupakan sahabat karibnya sendiri. Cewek yang justru sedang berjuang untuk orang lain.

__ADS_1


Setelah ditolak mentah-mentah di hari lalu, tentu ia terlampau malu untuk bertatap muka dengan cowok itu. Sudah cukup kecanggungan yang ia alami sejak saat itu. Ia ingin sendiri dahulu. Untuk hari ini saja. Menata hati agar tak terlampau lemah untuk menghadapi semua ini.


__ADS_2