The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Selebrasi Jantung


__ADS_3

"Ini, Bi, Rana disuruh nganterin ini. Dari Mami."


"Oowh ...." Bi Ijah segera mengambil alih tas yang dibawa Rana dengan sumringah. "Ayo, Non, silakan masuk. Nyonya lagi di dapur. Pasti seneng banget, deh."


Kemudian, kedua perempuan itu pun melangkahkan kaki berpindah tempat ke dapur. Di sana, ditiliknya Tante Sarah tengah sibuk dengan kegiatan memasaknya. Ya, sekarang, walaupun masih sedikit-sedikit, Tante Sarah sudah bisa memasak.


"Tantee!!" sapa Rana dengan suara cemprengnya, sembari menghampiri Tante Sarah dan memeluknya dari belakang. Sudah seperti ibu dan anak.


"Hai, Raa! Liat nih, hari minggu gini sibuk banget kan, Tante?" ujar Sarah sembari menoleh kepada Rana yang sudah berpindah ke sampingnya. Menopang dagu, seperti menikmati sekali memandangi perkembangan potensi memasaknya.


"Hmm ... iya deh, Tan. Oh ya, Om Rangga mana?" tanya cewek itu.


"Itu." Dagu Sarah mengisyaratkan Rana untuk melihat ke arah taman belakang yang hanya terpisah oleh kaca jernih dengan dapur. "... lagi bersiin kolam, biasalah," jelas Tante Sarah sembari melempar senyum ke arah sana.


Rana kemudian menoleh. Dan benar saja, Om Rangga tengah tersenyum ke arah mereka dengan alat pembersih di tangannya serta kaos putih polos yang melekat di tubuhnya. Rana menggeleng-geleng tersenyum. Anak sama bapak sama saja. Sama-sama gantengnya.


"Oh ya, Tan. Itu tadi Rana disuruh nganterin semur jengkol sama Mami, makanya Rana pagi-pagi ke sini."


"Oh ya?!" tanya Sarah langsung antusias. "Pasti enak banget. Udah berapa tahun ya, Tante gak makan jengkol?" Wanita itu terlihat sedang mengingat-ingat. Padahal, tidak terlalu lama juga.


Rana tertawa pelan. "Emangnya, Bi Ijah gak pernah masakin?" tanya Rana sedikit menoleh pada Bi Ijah yang justru menampilkan prengesan kepadanya.


"Gak pernah, Ra!" Sarah menggeleng keras.


"Hmm ... kalau gitu, Arka suka gak ya, Tan?" Rana sedikit memiringkan kepalanya menimbang.


"Udah, suka pasti. Kan, dari Camer," goda Sarah mengerlingkan matanya.


Rana meringis malu.


"Sana gih, bangunin! Hobi banget kalau hari Minggu molor," gerutu Sarah sudah 100% menjadi emak-emak.


"Gak papa, Tan?" tanya Rana agak ragu. Kan, itu artinya, ia harus memasuki kamar cowok itu sendiri.


"Udah ... gak papa." Sarah kembali fokus dengan pekerjaan setengah berantakannya.


"Tapi inget, nanti kalau dia macem-macem, di sebelah pintu ada tongkat baseball. Getok aja biar kapok. Pintunya juga jangan ditutup. Takutnya Arka kalau bangun tidur jadi hilaf," rentet Sarah membuat Rana menelan salivanya paksa.

__ADS_1


Tok tok tok!


"Arka! Arka!!" panggil Rana dengan suara cemprengnya.


Satu detik ... dua detik ....


"ARKAA!!" Rana mengulang panggilannya lebih keras.


"Hm .... Aku sarapannya entar aja, Ma," terdengar suara gumaman tak jelas itu dari dalam kamar.


Rana menghela napas pelan. Sepertinya, tidak ada pilihan lain. Ia harus turun tangan langsung. Dipegangnya kenop pintu walau sedikit ragu.


Kreek ....


Pintu akhirnya terbuka lebar.


Satu detik ...


Dua detik ....


Rana mematung di tempatnya dengan bola mata membulat sempurna. Dan sedetik kemudian, gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tapi membuka sedikit celah bagi matanya untuk melihat pemandangan langka yang langsung membuat jantungnya dag dig dug tak keruan.


Glek ... Rana menelan salivanya susah payah. Diturunkannya kedua tangannya lalu beralih mengambil tongkat baseball yang benar saja ada di sebelah pintu. Untuk jaga-jaga saja. Mendengar penuturan Tante Sarah tadi, ia jadi ngeri sendiri. Apalagi melihat keadaan Arka yang seperti ini.


Aaa ... Mamii! Rana masih pengen sekolah!


Dilangkahkannya kakinya perlahan. Kini, ia sudah berdiri di samping tempat tidur Arka. Ditatapnya wajah itu sejenak. Bahkan, dalam kondisi terlelap pun, Arka masih tak kehilangan pesonanya.


"Ka ... Arka ...," panggilnya. Tiba-tiba saja suara cemprengnya menjadi lirih. Masalahnya, roti sobek itu sedari tadi terus memecahkan fokusnya.


Alih-alih bangun atau setidaknya menjawab panggilan Rana, Arka justru menggeser tubuhnya dan mengubah posisi terlentangnya menjadi miring menghadap ke arah Rana.


"Arkaa!!" panggil Rana lebih keras, sembari membungkukkan tubuhnya agar Arka segera mendengar panggilannya.


"Hmm ...," gumam Arka justru terlihat semakin memuaskan tidurnya.


Rana berdecak sebal. Tangan kanannya kemudian memegang tangan Arka yang terkatung-katung di atas ranjang.

__ADS_1


"Bangun, Arkaa ...." Ditariknya tangan cowok itu. Tapi yang terjadi kemudian adalah ....


Glontang glontang glontang!


Tongkat baseball yang dibawanya lepas kendali ke lantai. Tenaganya yang tak seberapa kalah telak dengan tenaga Arka. Dalam hitungan detik, sebab ditarik oleh tangan kekar Arka, tubuh mungilnya sudah dalam pelukan cowok itu di atas ranjang.


Glek ....


Rana mematung menatap wajah dengan mata terpejam Arka yang hanya terpaut 5 Cm dari wajahnya. Jantungnya seolah-olah sedang mengadakan pesta ledakan tak beraturan. Masalahnya, kali ini, ia merasakan kulit tubuh Arka yang memeluknya erat.


Satu detik ....


Dua detik ....


"ARKAAA!!" pekik cewek itu mengalahkan nyaringnya terompet sangkakala. Membuat seisi rumah langsung bergegas menaiki tangga menuju lantai atas.


Dahi Arka mengernyit. Cowok itu kemudian mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. Di depannya, samar, wajah Rana hanya terpaut 5 Cm dengan wajahnya. Ia harap ... ini bukan mimpi. Tapi seandainya ini mimpi, ia ingin mengecup bibir ranum itu untuk sekali saja.


Arka semakin mendekatkan wajahnya, sedang Rana hanya bisa memejamkan matanya rapat. Merasakan keringat dingin membasahi telapak tangannya. Gadis itu bak mayat hidup. Jangankan bergerak, bernapas saja sukar. Napas Arka serasa begitu membekukan dirinya.


"Arka?!" Terdengar suara bariton keras yang langsung mengejutkan keduanya.


Menyadari ini bukan mimpi, Arka langsung menjauhkan diri dari Rana dan bangun dari posisinya.


"Kamu apain aja Rana, Ka?!" Rangga berdecak pinggang menatap kejam anak semata wayangnya. Sedangkan Rana, cewek itu baru bisa bangkit duduk setelah menetralkan degup jantungnya. Arka membuatnya benar-benar seperti mayat hidup.


"Eh, e-e-nggak, Pa ...," jawab Arka gelagapan. ".... Aku gak hamilin kamu kan, Ra?" tanyanya pada Rana, benar-benar kalut.


Mendengar pertanyaan Arka, Rana langsung membulatkan matanya. Wajahnya merah padam. Dalam sekejap mata, gadis itu turun dari ranjang dan melangkah keluar kamar secepat kilat dengan langkah-langkah kecilnya.


"Eh, Ra!" panggil Arka benar-benar gelagapan.


Rangga dan Sarah lantas saling bertukar pandang, menggeleng kepala pelan, dan sama-sama mengedikkan bahu tak tahu.


Selepas kepergian kedua orang tuanya dari kamarnya, Arka lantas mengacak-acak rambutnya bingung sendiri. Diliriknya tubuh atletisnya yang hanya mengenakan celana puntung. Pantas saja Rana salah tingkah setengah mati.


Cowok itu kemudian membiarkan punggungnya bersandar. Tangannya lalu menyentuh dada bidangnya. Merasakan dentuman keras yang masih tersisa di dalamnya.

__ADS_1


Sudut bibirnya terangkat. Mengingat wajah Rana yang kepalang malu. Menggemaskan sekali.


__ADS_2