The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Ujian Semester


__ADS_3

"Arka lama banget ya, Ra," ucap Sarah pada Rana. Keduanya kini tengah mempersiapkan sarapan di meja makan. Berbagai macam makanan dihidangkan, termasuk semur jengkol resep rahasia Mami Rana.


"Tau tuh, Tan," ujar Rana berusaha biasa saja, walaupun sebenarnya otak kecilnya masih terngiang-ngiang kejadian tadi.


"Chat gih, Ra. Suruh sarapan bareng. Itu Om Rangga udah siap-siap mau ke sini." Sarah mengarahkan dagunya pada suaminya yang tengah meletakkan segala senjata bersih-bersihnya kembali.


"Ha?" Mulut Rana spontan menganga. Setelah kejadian barusan, rasanya ia akan sulit bersikap biasa saja pada Arka. Malu banget sumpah!


"Gak papa. Gih, kan chat doang." Sarah kemudian menampilkan senyum terlebarnya.


Glek..., Rana meneguk ludah meyakinkan. Gadis itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan pada Arka.


Arkanya RanaπŸ˜†


^^^Anda^^^


^^^Ka...^^^


^^^Turun. Sarapannya udah siap.^^^


Baru saja Rana hendak menaruh kembali ponselnya, tapi tiba-tiba benda itu sudah bergetar saja. Sebuah pesan dari nomor yang barusan ia kirimi pesan.


Iya, Sayang.


Rana mengulum senyum. Menggigit bibir bawahnya gemas. Aaa ... Mamii! Rana baper!


"Udah bangun, Ka?" ucap Sarah membuat Rana tersadar.


Cewek itu buru-buru memasukkan ponselnya lagi. Sejenak, pandangan matanya bertabrakan dengan cowok itu. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia lantas berpura-pura sibuk; kesana-kemari entah memindahkan apa saja ke meja makan.


"Iya, Ma," ucap cowok berkaos putih itu sembari menaruh ponsel yang barusan dipandanginya ke atas kulkas. Tangan kanannya lantas membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air di sana. Dibukanya tutup botol itu dan meneguk air dari dalamnya.


Glek ... glek ....


Di ujung sana, Rana yang tengah membawa semangkok sayur langsung menghentikan langkahnya. Pandangannya tertuju pada satu titik; jakun Arka yang .... Oh, lama-lama ia jadi ingin nikah muda.


"Gimana, Ka, enak tidurnya?" tanya Rangga seraya mendudukkan dirinya di kursi makan.


Arka menaruh kembali botol air minumnya dan menutup pintu kulkas. "Enak, Pa," jawabnya, sedikit melirik ke arah Rana.


"Ra, ayo makan," ajak Sarah, sembari mendudukkan dirinya di samping suaminya.


"Eh, iya? A-apa, Tante?" Rana gelagapan sendiri. Masih mematung di tempatnya.

__ADS_1


Rangga dan Sarah seketika tertawa kecil. Sedang Arka, coba itu akhirnya melepaskan senyum yang semendari tadi tertahan dari bibirnya.


"Duduk, Ra," ucapnya seraya menarik sebuah kursi untuk kemudian diduduki Rana.


"I-iya," jawab Rana kemudian menundukkan kepala, berjalan menuju meja makan, dan menaruh mangkok sayur yang semendari tadi dipegangnya. Kemudian, gadis itu menduduki kursi yang dipersilahkan Arka sebelumnya, walau dengan kecanggungan yang ada.


"Selamat makaaan!!" Suara cempreng Sarah mengawali sesi sarapan hari ini.


Arka duduk di tempatnya, tepatnya di samping Rana. Cowok itu kemudian mengamati menu yang ada. Pandangan matanya terhenti pada semangkok menu yang sebelumnya belum pernah ada di meja makan rumahnya. Cowok itu mengernyit.


Seolah paham dengan ekspresi Arka, Sarah dengan antusias berkata, "Oh ya, itu ada semur jengkol dari Mami Rana, Ka. Kamu pasti suka!"


"Oh ya?" Arka langsung menyunggingkan senyumnya. Ternyata dari calon mertua.


"Boleh, deh." Cowok itu kemudian memindahkan makanan berbentuk pipih itu ke piringnya.


"Coba aja. Mama aja suka banget." Sarah kemudian mengambilkan suaminya juga. "Pokoknya Mas Rangga juga wajib coba," ucapnya tersenyum lebar pada lelaki itu.


Rangga balas tersenyum dan mengiyakan istrinya itu.


"Kamu juga suka jengkol, Ra?" Arka menoleh pada Rana yang semendari tadi diam, terlihat sekali masih canggung.


"Hhh ...," Rana tersenyum canggung. "Iya," jawabnya kemudian balas menoleh pada Arka.


...πŸ’•...


Hari ini adalah hari pertama di mana ujian semester satu dilaksanakan. Tanpa bisa menghentikan kakinya untuk terus berjalan mengelilinginya kelas, Pak Hendra mengawasi dengan detail setiap pergerakan murid-muridnya. Ada yang garuk-garuk tengkuk tidak jelas. Ada yang sibuk menghitung dengan kertas cakaran di hadapannya. Dan ada juga yang ....


"Dio!" tegur Pak Hendra lantaran melihat salah satu muridnya yang alih-alih mengerjakan ujian, justru sibuk dengan penghapus putih berbentuk dadu yang ditulisi huruf-huruf abjad menggunakan tinta pulpen.


"He ... he ... he ..," Dio meringis tanpa dosa. Mengadahkan kepala menatap Pak Hendra. "Pak," ujarnya sedikit menganggukkan kepala.


"Ngapain kamu? Bukannya ngerjain soal, malah main lempar dadu."


"Hehehe,,, saya mengundi keberuntungan, Pak. Siapa tau bisa juara satu."


"Hahaha,,," Pak Hendra malah tertawa. "Dio ... Dio .... Tidak usah jauh-jauh. Kamu bisa naik kelas saja, Bapak sudah bangga sekali sama kamu," kelakar guru itu mencairkan suasana.


Semuanya lantas tertawa, terkecuali empat orang cewek yang semendari tadi pagi diam membisu tanpa saling menyapa. Padahal, biasanya mereka jugalah sumber keributan yang ada.


"Hahaha,,, Bapak bisa aja. Padahal, Pak, saya masih betah lho, menjadi salah satu murid kesayangan di kelas ini."


"Yakin, Yo, betah? Kalau temen-temen kamu yang kelas tiga sudah lulus, memangnya kamu masih tetap mau di sini.

__ADS_1


"Eh, iya juga ya, Pak. Lagian, kalau mentok gak lulus-lulus, berarti saya gak nikah-nikah dong, Pak?"


Terdengar gelak tawa lagi dari kelas itu. Pak Hendra hanya bisa geleng-geleng kepala heran.


Di depan, Rana menggigit-gigit jempolnya bingung. Pusing juga. Diliriknya Vira, Rena, dan Nada yang masih menetap di tempat duduk asli mereka. Untungnya, walaupun perang dingin di antara mereka nyatanya benar-benar terjadi, tapi mereka tak lantas berpindah tempat duduk. Tapi entah kalau saja perang dingin ini terus berlanjut.


Rana menghela napas berat. Jujur, ternyata begini lebih menyiksa. Jangankan mengajak bicara, bertemu pandang saja mereka rasanya sudah tak sudi.


...πŸ’•...


Istirahat sudah tiba. Di kantin Bu Ratih, Rana menelungkupkan kepalanya pada meja di hadapannya. Rasanya otaknya seolah mau jebol saja.


"Pusing, Ka," gumamnya lirih, tapi masih dapat didengar oleh cowok di sampingnya.


"Sabar ... gak papa." Arka mengelus rambut cewek itu. "Ujiannya gak lama, abis itu kita seneng-seneng."


"Bener?" Rana menolehkan wajahnya tanpa menegakkan kepalanya yang tertelungkup pada meja.


"Iya, Sayang," jawab Arka lengkap dengan senyum menawannya.


Di tempatnya, Alea terpaksa harus menelan kepahitan dalam. Mencintai seseorang yang tak tergapai memang menyakitkan. Tahu begini, ia tak perlu jauh-jauh ke Jakarta kalau endingnya akan ditolak mentah-mentah. Mana baru murid baru sudah ujian lagi.


"Gak laper lo, Vir?" tanya Dio lantaran memperhatikan Vira yang semendari tadi hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa nafsu.


Vira menghembuskan napas panjang. Ujung matanya tanpa permisi melirik sekilas keberadaan Rana di ujung sana.


"Nggak nih, Yo. Buat lo aja," ucapnya menyadarkan makanannya pada Dio. "Gue lagi pengen diet."


"Gila lo, Vir. Sekurus itu masih pengen diet?" tanya Dio, tapi tangannya tanpa ragu segera memindahkan mangkok itu ke hadapannya. Ah, dasar Dio.


"Gimana ujiannya, Rey?" tanya Andra setelah baru saja mendudukkan dirinya di sebelah Rena yang tengah dalam proses menghabiskan makanannya malas.


"Ya gitu," jawab Rena tanpa semangat hidup.


"Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan-sungkan. Gue bisa bantu lo apa aja; catetan, buku paket, materi, belajar bareng juga bisa."


Di meja andalan Marsha and the geng, Marsha hanya bisa memandangi cowok itu nanar. Cowok yang statusnya sudah menjadi mantannya itu, kini sedang mendekati cewek baru. Anak walikota yang modelannya kayak miss Indonesia. Gadis itu melenguh. Ternyata ia salah sasaran. Yang dibully Rana, eh Andra kepincutnya sama Rena. Dasar cowok!


"Gimana, Sha? Mau ganti ngebully dia?" tanya Linda yang duduk di sebelahnya. "Pas-pasan, kemarin abis ada isu hot tentang bokapnya."


"Iya, Sha, siapa suruh dia berani ngambil Andra dari lo," timpal Shalisha, sebal juga lama-lama melihat kesongongan anak walikota itu.


Marsha menghembuskan napasnya lagi, kemudian menelungkupkan wajahnya di meja.

__ADS_1


"Kayaknya gue mau tobat aja, deh. Capek gue lama-lama. Harusnya gue sadar, Andra pergi dari gue ya gara-gara kesalahan diri gue sendiri. Cowok mana yang betah sama cewek pembuat onar kayak gue?


__ADS_2