
Parkiran SMA Tunas Bangsa
Mobil itu sudah terparkir mulus dari beberapa menit lalu, tetapi keempat cewek yang berada di dalamnya tak kunjung keluar juga. Sedang sibuk membicarakan kejadian janggal yang terjadi di hari lalu. Benar-benar kejadian yang mustahil sekaligus menakjubkan.
Apakah Rana dan Arka benar berpacaran? Jawabannya adalah tidak. Dari kemarin Rana sudah meyakinkan ini padanya. Terhitung sudah 25x ucapan sanggahan keluar dari bibir mungil temannya itu.
Apakah tante Puspa benar menitipkan Rana pada Arka? Nah, itu dia. Ini adalah poin pentingnya. Barusan saat menjemput Rana di rumahnya, ia sudah mengintrogasi ibu temannya itu secara mati-matian. Dan jawabannya adalah tidak.
Wahh ... benar-benar menakjubkan. Kenapa Arka sampai berbohong dengan sedemikian rupa bahkan sampai membawa-bawa nama tante Puspa segala? Hmm ... Vira mencium ada benih-bwnih asmara di sini.
"Lo jangan ngaco,Vir. Masa iya Arka pake ngomong gitu segala ke Daniel," tuduh Rana masih tak percaya dengan kesaksian sahabatnya, Vira, yang notabandnya adalah ratu ghosip ini.
"Astaga nagaaaaa ... sumpah deh, Ra. Ngapain juga gue boong? Coba deh, lo tanya ke anak-anak. Beritanya udah viral kali. Lo meragukan keakuratan ghosip ter-hot dari gue?" celoteh Vira membara. Ahh, beruntung sekali temannya ini. Baru saja putus dari most wanted-nya SMK Karya Nusantara, tiba-tiba sudah membuat rumor baru dengan premannya SMA Tunas Bangsa yang cueknya gak ada obat.
Rana hanya terdiam tak menanggapi, sedang di kursi kemudi, Rena sedang mengecek ponselnya. Ada pesan masuk beberapa belas menit lalu. Pesan dari Raja. Hhh,,, dasar kepedean, oloknya dalam hati sembari mengetik balasan singkat untuk cowok itu. Benar yang diketik singkat, tapi hatinya sudah senang bukan main. Akhirnya cowok itu kembali bersekolah juga.
"Eh, Ra, itu dia orangnya!" seru Vira antusias, menunjuk seorang cowok berkendara motor KLX yang baru saja memasuki pelataran SMA Tunas Bangsa. Melaju menuju parkiran dengan kelajuan seperti biasanya.
Arka memarkirkan motornya mulus. Melepas helmnya kemudian mengibaskan rambutnya singkat. Pagi yang menyebalkan. Tante Sarah sudah berceloteh panjang lebar mengganggu kenikmatan sarapannya tadi.
Dan sekarang? Lihatlah, si kecil menyebalkan itu sudah menatapnya dengan mata menyipit. Tahu benar dengan apa yang sudah ia lakukan kemarin. Ah, seharusnya ia tidak mengatakan itu pada Daniel kemarin. Mulutnya berucap tanpa berfikir dahulu. Membuat ia semakin mengikutcampuri urusan cewek yang bahkan tak ia senangi keberadaannya di sekitarnya itu. Ia kemudian memalingkan wajah. Malas sekali berurusan lagi dengan cewek itu.
"Hmm ... seru nih kayaknya," ucap Rana kemudian keluar begitu saja dari mobil, melangkah menuju tempat Arka memarkirkan motornya.
"Paagi, Arkaa!" sapanya ceria, menampilkan rentetan giginya yang berjajar rapi. Dari pada ia galau memikirkan hubungannya dengan Daniel yang sudah kandas, lebih baik ia mencari gara-gara saja dengan premannya SMA Tunas Bangsa ini. Habisnya gemas sekali melihat wajah cowok itu merah padam, lengkap dengan tatapan tajamnya. Jadi pengen ngarungin terus bawa pulang. Hehe.
"Ngapain lo ke sini?" respon Arka malas.
__ADS_1
"Udah sarapan belum?" tanya Rana tak mengindahkan pertanyaan judes Arka.
Arka memalingkan wajahnya jengah, sejurus kemudian ia turun dari motornya. "Bodo," ucapnya lirih namun tajam.
"Eh, judes amat, Pak. Pagi-pagi udah marah-marah aja. Cepet tua baru tau rasa." Rana sama sekali tak mengkeret. Ia justru semakin menikmati aksinya sendiri.
"Mau ngapain lo? Balikin jaket gue?" tanya Arka tak bersahabat.
Rena, Nada, dan Vira kemudian turun dari mobil. Turut menikmati pertunjukan yang dipertontonkan oleh Rana. Suka sekali membangunkan singa yang sedang tertidur.
Tapi pandangan mereka kemudian teralihkan pada sebuah mobil sport yang baru saja memasuki pelataran SMA Tunas Bangsa. Terlalu mencolok untuk ukuran remaja SMA. Pengemudinya pun, tak kalah kecenya. Menebar pesona lengkap dengan kaca mata hitam yang bertengger di matanya.
Mobil sport itu mendarat di samping mobil Rena dengan mulus. Tak butuh waktu lama, keempat cowok yang ada di dalamnya pun turun dari mobil itu.
"Gimana, Rey? Gue keren, kan?" sapanya pada Rena, sejurus kemudian melepas kaca mata hitamnya. Senyumnya mengembang seperti biasanya: ramah dan juga hangat. Membuat cewek-cewek yang sejak tadi memperhatikannya jadi semakin terpesona. Pagi-pagi sudah disuguhkan dua pemandangan sekaligus. Tadi adegan Arka dan Rana dan sekarang peristiwa datangnya kembali salah satu most wanted-nya SMA Tunas Bangsa.
Nada dan Vira jadi saling bertukar pandang. Ternyata Rena kenal dengan cowok ini. Waah ... tumben-tumbenan sahabat mereka satu ini punya kenalan cowok. Dia-nya welcome banget lagi.
"Tapi emang iya, kan?" pancing Raja, masih penuh rasa percaya diri.
"Iya deh iya. Oh iya, kenalin ini temen-temen gue." Gadis itu kemudian mengenalkan satu persatu temannya.
Di seberang sana, Rana sedang pintar-pintar mencari alasan agar bisa lolos dari serangan singa di hadapannya.
"Hehehe, anu, Ka. Jaketnya ... bla bla bla ... bla bla bla ...."
Arka hanya mendengar celotehan Rana samar-samar. Pandangannya tertuju pada keempat cowok yang sedang mengobrol dengan teman-teman Rana. Khususnya kepada seorang cowok yang tadinya mengemudikan mobil sport itu.
__ADS_1
"Owh, Vira sama Nada. Salken, ya," ucap Raja kemudian bersalaman dengan kedua teman Rena itu.
"Oh iya, ada satu lagi. Itu dia," ucap Rena dengan kepala mengisyaratkan ke arah Rana dan Arka berada.
Pandangan Raja langsung saja mengikuti isyarat Rena dan ... apa yang selama ini ia takutkan terjadi juga. Ia dan cowok itu saling menatap. Tatapan beku yang sama sekali tak bisa diartikan sebagai sambutan. Tak bisa dipungkiri, perang di antara keduanya masih belum diakhiri, atau mungkin tak akan pernah berakhir. Terlihat dari tatapan Arka yang dingin tak bersahabat lebih dari biasanya.
Arka menggenggam buku-buku jarinya erat, kemudian memalingkan wajah tak acuh. "Ya udah, Ra. Kapan-kapan aja," ucapnya kemudian berpaling pergi dengan langkah tegas dan kedua tangan di masukan pada saku celana. Ada sesuatu yang bergemuruh di dadanya. Sesuatu yang menyesakkan.
"Eh?" Rana melongo.Tumben-tumbenan cowok ini tak menerkamnya habis-habisan. Padahal kan, ia sudah menunggu reaksi marah cowok itu.
"Ra, sini deh," panggil Rana kemudian berjalan ke arah gadis itu.
Rana geming, belum membalikkan badan. Ia masih terheran-heran dengan reaksi Arka barusan. Kenapa cowok ini semakin membuatnya penasaran.
Raja kemudian mengalihkan perhatiannya pada gadis yang sedang dihampiri Rena. Gadis itu yang barusan berbincang dengan Arka. Berembut panjang dan berperawakan mungil. Membuatnya langsung teringat pada seseorang.
"Ra, gua mau ngenalin lo ke seseorang," bisik Rena sembari menggamit pergelangan tangan sahabatnya itu.
Rana menurut saja ditarik oleh Rena, tapi kepalanya masih saja menoleh memandangi arah dimana Arka berjalan pergi.
"Rana? Jadi lo sekolah di sini?" Raja agak tak percaya bertemu lagi dengan cewek ini di tempat yang sama sekali tak ia sangka-sangka. Tenyata ia satu sekolah dengan Rana. Tahu begini harusnya dari kemarin ia kembali bersekolah.
Dipanggil begitu Rana spontan langsung menoleh saja. "Eh, lho? Raja?!" pekik Rana terkejut. Kenapa dokter cowok ini tiba-tiba ada di sini?
"Loh, kalian udah saling kenal?" tanya Rena, menatap Raja dan Rana secara bergantian.
"Pas itu gue yang vaksin Rana, Rey. jadi, kita kenal deh," terang Raja dengan senyum mengembang. "Oh iya, kenalin juga nih, temen-temen gue. Ini Pian, ini Jordy, dan ini Dava," ucap Raja menunjuk satu persatu temannya.
__ADS_1