The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Tragedi Kantin


__ADS_3

Ada dua tempat duduk tak berpenghuni di ruang kelas yang seharusnya berisikan lima puluh lima siswa itu. Sepasang sahabat yang alih-alih terlihat seperti saudara kembar, justru terlihat seperti seorang induk dengan anaknya yang banyak tingkah. Satu diantaranya dikabarkan sedang ada acara keluarga, sedang yang satunya lagi ... entahlah, hal itulah yang membuat dua lainnya di antara keempat sejoli itu sibuk berkirim pesan di saat jam-jam belajar. Jangan percaya, kalau ada yang bilang si anak gila belajar tak pernah berbuat nakal.


Vhira Al-Ghost


Kok Rena gak bilang ke kita, ya?


Kalau dia gak masuk hari ini.


^^^Anda^^^


^^^Iya.^^^


^^^Aku telfon juga gak di angkat.^^^


Iya, gue juga.


Si Ngatiyem ke mana coba?


....


^^^Anda^^^


^^^Kata Arsya, Rana dianterin pulang sama Arka.^^^


Vira yang tadinya masih dalam proses mengetik pesan, langsung saja menoleh pada Nada dengan tatapan menelisik sekaligus sewot. Sedangkan Nada hanya menanggapi dengan senyum tanpa dosa, kemudian sibuk membalas chat dari Arsya.


Sya😇


Nanti istirahat aku langsung OTW ke kelas kamu, ya?


^^^Anda^^^


^^^Ngapain?^^^


^^^Kan aku mau ke kantin.^^^


Mau bersih-bersih kelas kamu.

__ADS_1


Ya jemput kamu lah...


Kita ke kantin bareng.


Kan, kamu pacar aku...😉😉


^^^Anda^^^


^^^Hehehe, iya☺^^^


Nada senyam-senyum sendiri sibuk dengan ponselnya yang ia sembunyikan di laci meja. Sedang di sebelahnya, Vira memasukkan ponselnya kembali, kemudian memasang posisi menopang dagu. Dengan suntuk mulai memfokuskan perhatian pada guru di hadapannya. Enak banget ya, jadi Nada. Gak pernah ngalamin yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan.


"Fiuu ... fiuuu ...," siul seorang cowok di ambang pintu kelas setelah jam pelajaran berakhir.


"Cowok lo tuh, Nad. Cepet banget nongolnya," ucap Vira pada Nada yang tengah merapikan buku-bukunya, dengan pandangan mengarah pada Arsya yang menampilkan senyum terlebarnya. Huh ... kayak anabel aja, batin Vira jengah sekali. Sepertinya hari ini ia ditakdirkan menjadi obat nyamuk lagi.


Di kantin, lagi-lagi Vira memasang posisi menopang dagu jengah. Tuh kan, tebakannya benar. Dia benar-benar menjadi obat nyamuk. Duduk semeja dengan pasangan yang baru jadian, yang kerjaannya bukannya makan malah pandang-pandangan. Sial!


Di meja nan jauh di sana, di meja pemesanan kantin, Bu Ratih tersenyum mengamati anak gadisnya yang baru ia sadari ternyata sudah menginjak remaja, sedang merasakan apa yang dinamakan jatuh cinta.


"Ah, lo sewot aja, Vir. Cari pacar sana! Gosting aja kerjaannya," ucap Arsya merasa terganggu, sedang Nada hanya senyum saja menanggapinya.


"Heh! Ya suka-suka gua lah! Lagian ya, gue belum punya pacar bukan karena gue gak laku kali!"


"Terus, kalo bukan karena gak laku karena apa?" tantang Arsya sembari mencomot makanannya.


"Ya ... ya belum nemu yang pas aja." Vira mengalihkan wajahnya dari dua pasangan di hadapannya. Lagi-lagi ia teringat pada Kak Zein.


"Heleh, kebanyakan milih lo! Nih ya, gue pilihan aja," ucap Arsya kemudian melambai-lambaikan tangan pada seseorang. "Yo! Sini!" panggil cowok itu.


Kala seorang cowok berbentuk bulat duduk di sampingnya, Vira justru kembali dalam keadaan melamun. Memikirkan andai saja ia dan Kak Zein punya rasa yang sama, pasti hidupnya tak akan senelangsa ini. Tak akan ada jomblo ngenes ahli ghosting yang nasibnya jadi obat nyamuk begini. Yaa ... setidaknya kalau pun Kak Zein tidak bisa menemaninya makan di kantin, mereka bisa terus berkirim kabar, kan?


Tuk ... tuk!


Dio menoel lengan cewek di sebelahnya dengan jari telunjuknya, membuat gadis itu mau tak mau menolehkan kepala menghadap padanya.


"He busett!! Heh, Gentong, ngapain lo tiba-tiba nongol di sini?! Lagi cosplay jadi jin tomang ya lo?! Pakek colek-colek segala lagi. Mau mesum lo?!" tuduh Vira seketika ngegas, akibat melihat muka bulat Dio yang sudah nongol di sampingnya.

__ADS_1


"Ngawur lo, Vir. Siapa juga yang mau mesum? Lagian, elo diobral gratisan beli mesin cuci juga gak bakal ada yang mau, Vir. Yang ada malah mesin cucinya yang gak laku. Mana ada, cowok yang mau sama mesin penghisap debu kayak lo," ucap Dio santai, sembari mencomot pentol bakso milik cewek di sampingnya.


"Heh! Kurang ajar! Ngapain lo makan bakso gue?! Pake ngatain gue segala lagi. Siniin!!" Vira yang tak terima baksonya dimakan oleh Dio, segera mengambil alih makanan berwadahkan mangkuk bergambar ayam jantan itu.


"Bagi napa, Vir?!" Dio menahan tangan Vira, memegangi sisi lain dari mangkuk bakso itu.


"Gak!" Vira tak setuju.


"Bagi!" Dio masih bersikeras.


"Gak!"


"Bagi!"


Maka terjadilah aksi rebut-rebutan semangkok bakso di antara kedua remaja itu. Dan ...


Bruak! Gluadak! Jeder!


Semangkok bakso melayang ke tanah. Akhirnya, isinya tumpah kemana-mana dan mangkoknya pecah. Keduanya langsung berdiri panik, dengan mulut ternganga mengarahkan pandangan pada Buk Ratih secara bersamaan. Buk Ratih yang terkejut, jadi ikut ternganga.


...💕...


Jam pelajaran terakhir sedang berlangsung tapi beberapa murid cowok kelas akhir itu justru sedang berdiri jaga di depan sebuah ruangan berisikan meja, kursi, dan peralatan yang tak terpakai; Gudang sekolah, dengan seorang cowok dan seorang cewek berada di dalamnya.


"Sya, mumpung gue masih berbaik hati, sebaiknya lo ngaku aja. Lo kan, yang nempelin ini semua di mading?" Raja menyodorkan setumpuk kertas di hadapan Marsha kasar.


Cewek itu tengah duduk di kursi dengan sebuah meja di hadapannya, menatap malas pada cowok yang sebenarnya merupakan teman sekelasnya.


"Ja, dari tadi udah gue bilangin, bukan gue orangnya. Gabut banget gue sampe ngurusin nilai ulangan dia. Lebih baik ya, Ja, daripada motokopi kertas ulangan dia, mending gue motokopi pelajaran. Lebih berguna!" jelas Marsha sudah malas sekali, mengacak-acak rambutnya tak bergairah.


"Terus, kalau bukan lo siapa? Lo pikir gue gak tau, kalau selama ini lo udah jadiin dia target bully?" Kedua tangan Raja bertumpu pada meja di hadapannya, berdiri menatap Marsha dengan pandangan penuh selidik.


"Oke, fine! Selama ini gue emang bully dia." Marsha berdiri dari duduknya, membalas tatapan cowok di hadapannya. "Tapi kalau gue bilang bukan gue, ya bukan! Males gue, Ja, ngomong sama lo," tegas Marsha kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Raja. Dengan kasar mendorong pintu dan berhasil membukanya.


"Raja yang ditinggal hanya bisa terduduk di meja mengacak-acak rambutnya frustasi. Kalau bukan Marsha maka siapa lagi? Batinnya bingung sekali.


Sedangkan di ruang lain, ada Arka dan juga Arsya yang sedang mengamati layar monitor di hadapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2