The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Teka-teki Rasa


__ADS_3

"Kenapa, Ja?" tanya Rana pada akhirnya, berusaha terlihat tak sekikuk mungkin.


"Gue ... cuma mau ngasih ini," ucap cowok itu menyodorkan bungkusan di tangannya.


Rana mengamati bungkusan itu sebentar. Otaknya mulai menduga-duga. Mungkin, bungkusan itu berisikan pembalut wanita. Sebab Raja mengetahui bahwa ia sedang menstruasi dan membutuhkan benda itu. Ahh, tumben otaknya bisa diajak kompromi.


Cewek itu kemudian melangkahkan kaki mendekati Raja. Hendak menerima bantuan cowok itu.


Seulas senyum seketika terbit di bibir Raja. Rana tak sepenuhnya menghindar darinya. Buktinya, cewek itu masih bersedia menerima bantuannya. Menyambut uluran tangannya.


"Ra."


Deg!


Baru saja Rana hendak menerima bungkusan itu dari tangan Raja, kedatangan Arka yang secara tiba-tiba membuat cewek itu langsung menarik tangannya kembali. Menatap mata Arka yang tajam tak bersahabat. Cowok itu berjalan ke arahnya. Masih memakai seragam bola basketnya. Membuatnya semakin merasa bersalah atas segalanya.


"Arka?" Tapi, hanya kata itu yang terucap dari bibir mungil Rana. Ia tak dapat berkata-kata apalagi sampai menjelaskan segalanya. Pasti, Arka sekarang sudah sangat marah padanya. Sudah tidak menemani saat pertandingan, dan sekarang, malah nyaris melanggar perjanjian mereka.


"Ayo pulang," ucap Arka, meraih tangan Rana dan menggenggamnya. Acuh tak acuh pada seseorang yang sedang berdiri tak jauh dari ia dan Rana.


"Iya," jawab Rana mengangguk. Benar-benar takut. Takut ia tak akan bisa menghadapi kemarahan Arka. Takut cowok itu akan mendiamkannya seperti yang pernah ia lakukan beberapa hari lalu. Rasanya tidak enak. Apalagi jika Arka yang memulainya.

__ADS_1


Hanya butuh satu jawaban persetujuan dan Arka langsung membawa Rana pergi dari hadapan Raja, cowok yang amat ia benci melebihi dari segala hal yang ia tak suka. Mereka pernah bersahabat, bahkan dekat sekali. Tapi itu dulu, sebelum Raja mengubahnya menjadi permusuhan yang abadi.


Untuk kesekian kali. Di acuh lagi, lagi, dan lagi. Raja hanya bisa menatap punggung Rana yang semakin menjauh darinya. Menjauh dari segala harapan yang baru saja tumbuh kembali.


...💕...


"Maaf, Ka," ucap gadis itu. Suaranya berlomba dengan suara motor yang menderu kencang. Ia merasa bingung harus berbuat apa. Didiami seperti ini oleh Arka, sungguh ia tak bisa.


Ia bahkan ragu untuk melingkarkan tangannya pada pinggang cowok itu. Ia takut. Takut memeluk kemarahan cowok itu. Sebab, ia pun tahu Arka sangat melarangnya untuk dekat dengan Raja. Walaupun entah, ia tak tahu alasannya. Tapi jelas ia merasa bersalah.


"Sakit banget ya, Ra?" Arka memelankan laju motornya. Bersamaan dengan itu tangan kirinya ia kerahkan ke belakang lalu menggapai tangan Rana. Melingkarkan tangan gadis itu ke pinggangnya.


"Kita ke klinik, ke rumah lo, ke rumah papi lo, atau ke rumah calon mertua lo?" tanya cowok itu. Sudut bibirnya sedikit terangkat, sedang matanya melirik kaca spion, bertukar pandang dengan cewek di belakangnya.


Rana yang ditanyai seperti itu, tentu pipinya jadi merah padam. Jadi ia segera memeluk cowok di depannya guna menyembunyikan wajahnya dari tatapan cowok itu.


Melihat respon Rana, Arka jadi terkekeh sendiri. Tangan kirinya kemudian mengelus-elus punggung tangan Rana yang tengah memeluknya.


"Gimana? Hm?" ulangnya bertanya lagi.


"Emm ...." Rana berfikir. Bibirnya masih senyum-senyum sendiri di balik punggung Arka yang nyaman.

__ADS_1


"Ke ... rumah calon mertua," ucapnya lirih, sebab ia sendiri malu untuk mengungkapkannya.


"Gimana, Ra?! Pelan banget. Gak kedengeran gue!" ungkap Arka sedikit mengeraskan suaranya.


"Arka!" Rana memukul pinggang cowok itu.


"Gimana, Ra?! Gak kedengeran!" teriak Arka lagi. Wajahnya terlihat bahagia sekali.


"Ke rumah calon mertua!" Mau tak mau, akhirnya Rana berteriak juga. Sembari mengeratkan pelukannya pada Arka.


"Naah ... gitu dong!" Senyum Arka semakin merekah lebar. Tangan kirinya masih setia mengelus tangan Rana yang memeluknya.


"Ra?" panggil cowok itu lagi.


"Ya?" jawab Rana yang masih setia menempel di punggungnya.


"Nanti kalo lo kenapa-napa lo harus bilang gue, ya?"


Mendengar ucapan Arka, Rana jadi terenyuh. Senyumnya melengkung indah. "Kenapa?"


"Gue khawatir."

__ADS_1


__ADS_2