
Seperti yang diharapkan dari acara pengumuman hasil ujian nasional kelas 12 serta pembagian raport adik-adik kelasnya, aula pertemuan hari ini amat ramai. Riuh gemuruh semakin menjadi tatkala sesosok guru pria selaku pembawa acara naik ke atas pentas dengan jas kebanggaannya yang tampak licin penuh persiapan.
"Wah ... Tante udah gak sabar banget nih, Ra," ucap Sarah dengan senyum berbinarnya. Wanita itu duduk di antara suaminya dan Rana.
Rana tersenyum kikuk. Merasa aneh sendiri mengapa ia masih ada di sini, di dekat keluarga Arka. Untuk saat ini, cowok itu memang sedang tak ada entah ke mana. Tapi bagaimana dengan nanti? Bukankah kursi kosong di samping Om Rangga itu memang disiapkan untuknya? Dan itu membuatnya cukup tak tenang. Dan lagi, mengapa ia sama sekali tak melihat Raja?
Acara sudah dimulai. Sambutan demi sambutan disampaikan. Dan ditengah semua itu, pandangannya tiba-tiba tersita mutlak oleh kedatangan seorang cowok. Duduk di samping Om Rangga setelah tak sengaja bertemu pandang dengannya. Dan ya, ini salahnya, kenapa ia tak berusaha lebih keras menolak ajakan Tante Sarah untuk bergabung dengan mereka. Sekarang baru nyesel, kan?
__ADS_1
"Hadirin sekalian, inilah saat yang kita tunggu-tunggu, pengumuman lulusan terbaik angkatan ke-84!" seru sang pembawa acara penuh semangat, diikuti sorak sorai yang sumbernya menyebar acak, entah siapa ketua guildnya.
Rana tersenyum, turut bertepuk tangan sembari menyisir sekitar dengan pupil indahnya. Tapi kemudian senyumnya luruh perlahan. Itu dia Raja, datang dari pintu masuk jauh di sebelah kirinya, bersama ayahnya dan dua orang pria lain yang ia tak tahu jelas identitasnya. Raja melayangkan pandangan padanya sekilas, kemudian berlalu. Dan entah mengapa, itu membuatnya merasa bersalah.
Pandangannya masih mengekor saat Raja dan orang-orang yang bersamanya sudah duduk berderet di salah satu sisi di ruang itu. Hingga semua orang yang diruangan riuh bertepuk tangan, ia baru menggelengkan kepalanya menyadarkan. Ada apa? Apa yang ia lewatkan?
Belum sempat ia merespon semua kejadian ini. Tiba-tiba semua orang memusatkan perhatian ke arahnya. Tidak. Bukan. Bukan ke arahnya. Melainkan ke arah sosok cowok yang kini sudah beranjak dari duduknya. Berjalan tegak, tak terpengaruhi oleh riuhnya suara yang menggema.
__ADS_1
Selanjutnya, pembawa acara juga mengumumkan juara terbaik satu dan dua. Tapi Rana masih sibuk mencoba memberi respon terbaik pada kehebohan wanita di sampingnya. Sampai-sampai, ia benar-benar tak sadar tak ada nama Raja di antara salah satunya.
Beberapa kata terimakasih diucapkan oleh Arka. Seperti yang diharapkan dari seorang Arka, cowok itu tak banyak bicara. Senyum Om Rangga merekah penuh wibawa. Tanpa kata, pria itu menunjukkan rasa bangganya.
Setelahnya, tiga besar sang juara turun dari pentas. Berjalan penuh percaya diri dengan piala dan Piagam ditangan mereka. Rana tersenyum sembari berdoa, lima sampai sepuluh menit ke depan adalah bab yang paling ia tunggu-tunggu. Ya, acara itu adalah pengumuman juara untuk kelas 10 dan 11.
"Seperti yang diharapkan dari anak Papa satu-satunya," ucap Om Rangga menyambut kedatangan Arka di sebelahnya dengan tepukan punggung yang solid. Arka membalas dengan senyuman, berucap terimakasih tipis, kemudian sedikit melirik pada wanita yang masih sama menggemaskannya kala mereka masih selalu bersama.
__ADS_1
Rentetan ucapan bangga yang amat heboh dari Sarah pun tak segan menyerang cowok itu secara membabi buta. Untungnya, seruan kalimat pembawa acara tiba-tiba mengalihkan perhatiannya. Wanita itu kini justru teralihkan pada cewek di sampingnya.
"Selanjutnya, pengumuman juara kelas 11. Juara terbaik satu diraih oleh ...."