The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Sendiri Yang Menyesakkan


__ADS_3

Zein menghela napas pelan sembari memandang pintu rumah Vira.


"Kak Zein baru pulang kerja?" tanya Rana pada cowok itu.


"Enggak sih, Ra. Tadi ada yang ketinggalan, jadi pulang bentar deh. Eh, terus liat kalian jadi pengen nyapa. Dulu kalian masih bocil sekarang rasanya kayak ngeliat yang seumuran."


"Yee ...," bantah Rana, Rena, dan Nada tak terima.


"Dari mana-mana ya masih mudaan kita lah. Mang Ono aja tau kali, Kak," Rana menyampaikan ketidaksetujuannya.


Merasa namanya disebut-sebut begitu, mang Ono hanya meringis tak tahu apa-apa.


"Hhh,,, iya deh, yang masih muda. Yaudah ya, Kak Zein masuk dulu. Kalian hati-hati pulangnya. Jangan sampai digodain om-om si jalan."


"Siap, Kak!" sahut mereka kompak. Maklum saja, sejak dahulu bersahabat dengan Vira tentu mereka sudah akrab betul dengan tetangga Vira yang satu ini.


Mobil Rena pun berlalu meninggalkan rumah Vira, sedang kak Zein kemudian masuk ke dalam pelataran rumahnya, sembari memandangi jendela kamar Vira yang tirainya agak bergoyang-goyang karena tertiup angin.


...💕...


Setelah mengantarkan Vira mobil Rena kini berhenti di depan gerbang rumah Rana. Tadi sebenarnya mereka berniat hendak main ke rumah cewek itu. Ingin merasakan masakan tante Puspa, katanya. Tapi yaa ... apalah daya.


"Sorry ya, girls. Lain kali aja, ya. Bokap udah pulang jam segini. Tau sendiri kan, om Cipto galaknya kayak apa?" ujar Rana setelah turun dari mobil.


"Santai aja kali, Ra. Kita ngerti kok," ucap Nada mengedipkan sebelah matanya, kemudian berpindah tempat duduk di samping kursi kemudi.


"Ya udah yuk, Rey. Kita have fun aja di kastil kamu," ucap Nada lagi kemudian menyenggol lengan Rena, sedang yang disenggol hanya mengerucutkan bibir malas kemudian mulai melajukan mobil.


"Bye!" teriak Rana melambaikan kedua tangan setelah mereka berlalu.


Nada membalas dengan lambaian tangan juga.

__ADS_1


"Pak Budi, papa pulangnya baru aja atau dari tadi?" tanya Rana pada pak Budi setelah ia memasuki pelataran rumahnya.


"Emm ... baru aja, Non," jawab pak Budi.


"Owh. Makasih, Pak," ucap Rana kemudian mulai melangkah menuju pintu rumahnya yang dibiarkan terbuka begitu saja tak seperti biasanya.


Sebelum masuk ke dalam rumah, Rana *******-***** buku jarinya gelisah. Feeling-nya sudah tak enak sejak kejadian tadi. Ditambah lagi, papa yang pulang di siang hari begini. Benar-benar pertanda yang tidak baik.


Rana menghela napas. "Keep calm, Ra. Palingan papa lagi pengen tidur siang," ucapnya demi menenangkan diri, kemudian melangkahkan kaki memasuki rumahnya.


Baru memasuki ruang keluarga, langkahnya sudah terhenti sebab melihat punggung papanya yang sedang duduk di sofa, bersebelahan dengan maminya.


Rana menggelengkan kepala pelan, kemudian tak acuh segera berlalu hendak menaiki tangga untuk menuju kamarnya.


"Rana!" suara Cipto yang tegas langsung menghentikan langkah gadis itu.


Rana menggigit bibir bawahnya, kemudian menoleh pada papanya dengan kaki sebelah kanan yang masih terangkat.


Mendengar ucapan papanya barusan Rana sontak menelan ludah. Kalau sudah begini ujung-ujungnya tak akan enak didengar. Ia kemudian membalikkan badan dan duduk di sofa, berhadapan dengan ayahnya.


Di samping Cipto, Puspa hanya bisa menghela napas berat.


"Kamu pulang terlambat. Ada apa di sekolah?" Cipto menatap tajam pada anaknya yang duduk tertunduk.


Rana terdiam. Jangan-jangan ada yang memberi tahu papa tentang insiden di sekolah barusan.


"Papa sedang bertanya, kenapa malah diam saja?" tegas Cipto.


"Gak ada apa-apa, Pa," jawab Rana sekenanya.


"Bohong! Dari siapa kamu belajar berbohong seperti ini? Papa tidak pernah mengajarkan. Inilah kenapa Papa melarang kamu dekat-dekat dengan si Darren itu. Ajarannya tidak ada yang benar," hardik Cipto dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Papa kok bawa-bawa papi Darren sih?!" Rana tak terima papinya dihina-hina.


"Loh, memang benar. Kalau bukan ajaran dari si Darren itu kamu tidak mungkin bisa berbohong seperti ini. Papa sudah tahu apa yang terjadi di sekolah hari ini. Harusnya kamu jujur saja tadi."


"Udah tau nanya," potong Rana memalingkan wajah.


"Rana!" tegur Puspa tak suka anaknya bertingkah seperti itu. Tadinya ia tak percaya mendengarkan anaknya terlibat dalam tawuran yang terjadi di SMA Tunas Bangsa, tapi melihat tingkah laku Rana yang seperti ini ... apa anaknya ini benar-benar sudah berubah? Apa Rana kecil dan lugu miliknya kini beralih menjadi Rana remaja yang nakal dan buta akan hal bernama cinta? Apa benar ia telah salah mendidik anak? Ia meragukan gadis berumur 16 tahun itu.


"Tuh kan, Ma. Lihat anakmu ini. Ini semua berkat ajaran si Darren," ucap Cipto turut memalingkan wajah.


Hening sejenak. Tak ada yang bersuara. Hening yang lebih menyiksa dari pada rentetan hinaan dan caci maki. Tak ada yang membelanya. Tak ada yang tahu betapa ia rapuh, betapa ia membutuhkan sandaran.


"Papa gak mau tau, pokoknya tawuran kali ini adalah kali terakhir kamu membuat ulah di sekolah kamu. Jangan pernah membuat nama Papa tercemar lagi," hardik Cipto menekankan kalimat terakhirnya.


Rana semakin tertunduk. Susah payah ia menahan air mata yang hendak keluar dari pelupuk matanya. Memangnya siapa sih, yang pengen jadi sebab-musabab tawuran barusan? Mana ia tahu kalau Daniel akan senekat itu. Mana ia tahu kalau korbannya akan sebanyak itu. Memangnya ia tak merasa bersalah apa, untuk semua kejadian ini. Tapi ia bisa apa? Ia hanyalah gadis kecil yang bodoh dan tak bisa apa-apa.


"Sekarang kamu masuk ke kamar kamu. Renungi semua ulah dan kenakalan kamu itu. Sebelum kamu sadar, jangan keluar apalagi kabur ke rumah si Darren!" titah Cipto tak mau tahu.


Masih dengan kepala tertunduk, Rana berdiri dari duduknya, melangkah tertatih-tatih menuju kamarnya. Entah apa yang sudah dikatakan orang pada orang tuanya. Pasti maminya sudah berada di ujung rasa kecewa, mengetahui anaknya menjadi alasan dibalik tawuran diantara dua sekolah dengan mengatasnamakan cinta dan hubungan kekanak-kanakan bernama pacaran.


...💕...


Petikan gitar mengalun nyaring di kamar Dio. Di jendela yang terbuka lebar Arka duduk sembari memetik gitar asal. Entah lagu apa yang hendak ia mainkan. Rentetan kejadian hari ini terus terulang-ulang di otaknya. "Balikan, tapi bukan sebagai pacar," jawaban Rana akan pertanyaannya, juga tak kunjung enyah dari fikirannya. Kalau bukan sebagai pacar, lalu sebagai apa? Cewek itu apa benar-benar tak punya rasa kapok? Sudah diselingkuhi sedemikian rupa, kenapa mudah sekali memaafkan?


"Lo gak pulang, Ka?" tanya Dio yang sedang berbaring di ranjangnya. Huh, lemas sekali rasanya gara-gara insiden hari ini. Padahal, tugasnya hanyalah memanggil Rana. Itu pun karena inisiatif-nya sendiri. Begitu saja ia sudah kehabisan tenaga.


"Lo ngusir gue?" tanya Arka langsung menoleh pada Dio.


"Elah, PMS lu, bro? Sensitif amat. Kayak bokong bayi aja," gurau Dio kemudian memperlihatkan rentetan giginya.


Arka memalingkan wajah ke arah jendela lagi, malas menanggapi candaan Dio. Dalam keadaan bonyok seperti ini pasti tante Sarah akan sangat cerewet menanyainya macam-macam saat ia pulang nanti. Ah, menyebalkan sekali.

__ADS_1


"Yo, lo kenal gak, sama tetangga baru lo ini?" tanya Arka. Pandangannya tertuju pada sebuah mobil merek ternama yang baru saja memasuki pelataran rumah mewah di sebelah rumah Dio.


__ADS_2