The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Degup Jantung


__ADS_3

"Eh, ada Rana. Rasanya udah lama gak main ke sini," sapa Rangga ketika Rana dan Sarah baru saja memasuki area dapur. Ayah satu anak itu sedang membersihkan kolam renang yang berada tepat di belakang dapur, berbatasan dengan kaca transparan yang sangat jelas menampilkan pemandangan indah halaman belakang rumah ini.


"Hehehe, baru aja kemaren main ke sini, Om. Om Rangga kok bersih-bersih kolam sendiri?" tanya Rana berbasa-basi.


"Mumpung hari libur. Om pengen ngabisin waktu di rumah. Itung-itung bisa olahraga sedikit. Sekalian nemenin Tante Sarah yang lagi belajar masak," jelas Rangga kemudian bertukar senyum dengan istrinya.


Harusnya Rana merasa kikuk dalam keadaan menjadi obat nyamuk seperti ini, tapi kedatangan seorang cowok yang sedang membuka pintu kulkas langsung saja menarik perhatiannya. Cowok itu mengambil sebuah botol dari dalam kulkas, kemudian membuka tutupnya tak acuh.


Glek....


Napas Rana serasa terhenti. Ditelannya salivanya secara paksa. Matanya tak lepas menatap benjolan pada leher depan Arka yang entah kenapa membuatnya penasaran ingin menyentuhnya.


"Ra?" Sarah memanggil cewek itu pelan, dengan senyum tertahan menyadari Rana sedang memandangi siapa.


Tak ada jawaban atau respon dari cewek itu.


Arka yang telah selesai meneguk air mineralnya, kemudian menoleh. Membalas tatapan cewek yang ia sadari semendari tadi memandanginya.


"Rana!" Sarah mengulangi panggilannya dengan tangan menyentuh pundak si pemilik nama.


"Eh, iya, Tan?" jawab Rana segera menoleh gelagapan.


"Hari ini kita mau masak apa?" tanya Sarah masih dengan senyum tertahan.


Setelah puas melihat ekspresi Rana yang gelagapan, Arka memalingkan wajah. Juga mengulum senyum. Kemudian menutup pintu kulkas, hendak meninggalkan area dapur.


"Arka!!"


Baru saja cowok itu melangkah, namanya sudah diteriakkan oleh sang Ayah.


"Ya, Pa?" sahut Arka membalik badan.


"Dari pada kamu nganggur-nganggur nggak jelas, mending kamu kesini bantuin Papa!"


"Iya, Pa!" Cowok itu kemudian berlalu menghampiri ayahnya yang tengah memegang jaring pembersih kolam.


"Masak apa ya, Tan? Rana bingung," ujar Rana duduk menopang dagunya.


"Hmm ... kamu aja bingung. Apalagi Tante," ucap Sarah dengan posisi yang sama seperti Rana.


"Tante pengennya masak apa?" tanya Rana.


"Gak tau. Makanan kesukaan kamu apa, Ra?"


"Semur jengkol," jawab Rana polos.


Mendengar jawaban Rana, ibu tiri Arka itu langsung saja berdiri dari duduknya. Dengan langkah kecil berlari menghampiri suaminya.


"Mas, temenin aku belanja, yuk!" ajak Sarah menarik tangan suaminya.


"Loh, bukannya kemarin Bik Ijah abis belanja?" tanya Rangga seraya meletakkan alat bersih-bersihnya.

__ADS_1


"Hari ini aku mau belajar masak makanan kesukaan Rana, tapi bahannya kemarin nggak kebeli sama Bik Ijah."


"Emang masakan kesukaan Rana apa?"


"Semur jengkol."


Rangga mengernyit, Arka juga mengernyit, kemudian melemparkan tatapan heran pada cewek yang tengah duduk diam di kursi dapur.


Merasa ditatap keheranan, Rana memalingkan wajah dari tatapan Arka. Kemudian menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Apa yang salah dengan dirinya?


Beberapa menit sejak kepergian Tante Sarah dan Om Rangga, Rana gabut sekali. Rumah Arka amat besar. Ia tak tahu siapa saja yang ada si dalamnya, tapi rasanya ia hanya berdua saja dengan cowok dingin itu.


Dilihatnya meja makan yang kosong melompong hanya ada sekeranjang buah-buahan. Ia kemudian membuka kulkas. Di dalamnya hanya ada sayur-sayuran mentah dan beberapa botol air mineral.


Pandangnya lalu tertuju pada Arka yang tengah fokus melakukan tugas dari ayahnya. Dikeluarkannya ponselnya dari tas kecil yang ia bawa.


Jemarinya lincah mencari sebuah kontak yang dikirimkan Vira beberapa waktu lalu. Saat itu ia baru saja ganti nomor WA, jadi ia meminta temannya itu mengirimkan beberapa nomor penting untuk mengisi daftar kontaknya yang kosong melompong. Dan entah apa yang difikirkan Vira hingga temannya itu mengirimkan kontak Arka juga.


Cowok itu masih fokus dengan kegiatannya. Tapi kemudian ia merasakan getar di salah satu saku celananya. Dikeluarkannya ponselnya mengecek ada notif apa. Ternyata sebuah pesan dari nomor tak dikenal.


+628....


Ka?


Arka mengernyit. Tapi kemudian pandangannya tertuju pada seorang cewek yang duduk meringis menatap ke arahnya, dengan ponsel yang ia pegang pada kedua tangannya.


^^^Anda^^^


Di rumah lo gak ada makanan?


^^^Anda^^^


^^^Kenapa?^^^


^^^Lo laper?^^^


Lo udah sarapan?


Membaca pesan dari Rana, Arka lantas melirik cewek itu lagi. Kemudian tanpa fikir panjang langsung menekan tombol call.


Gundul-gundul pacul-cul... gembe....


Keget sekali mendapat telfon dari Arka, Rana spontan menolak panggilan itu. Kemudian, membenamkan kepalanya ke meja. Merasa malu bahkan untuk melihat Arka.


Melihat tingkah Rana, cowok jakung itu tak bisa menghindar untuk tak mengembangkan senyum. Kemudian, jemarinya mengetikkan pesan singkat membalas pertanyaan cewek itu.


^^^Anda^^^


^^^Belum.^^^


Tante Sarah kayaknya masih lama. Mau gue masakin apa?

__ADS_1


^^^Anda^^^


^^^Gak usah.^^^


Setelah membalas chat Rana yang terakhir, Arka memasukkan kembali ponselnya ke tempat asalnya. Kemudian acuh tak acuh melanjutkan pekerjaannya.


Membaca balasan chat dari Arka, Rana merengutkan bibirnya memandang cowok yang sudah kembali melakukan tugasnya. Tapi ia kemudian berdiri dari duduknya. Tak urung melakukan apa yang menjadi maksud baiknya.


Dibukanya pintu kulkas. Berfikir sejenak makanan apa yang mungkin akan disukai Arka. Hmm ... ini kali, ya, batinnya mengambil seikat sayur dari kulkas. Dan sejurus kemudian cewek itu mulai melakukan pekerjaannya dengan lincah.


"Na na na na...," sembari meracik bumbu, cewek mungil itu bersenandung ria. Tak jauh darinya, di halaman belakang rumah, seorang cowok melirik sekilas kemudian sudut bibirnya sedikit terangkat.


Rana mengernyit saat membuka tempat garam yang ternyata sudah kosong melompong. Sepertinya pembantu Tante Sarah lupa mengisi ulang tempat garamnya. Cewek penikmat drakor itu akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan kepada Arka lagi.


Arka 👿


^^^Anda^^^


^^^Ka?^^^


??


^^^Anda^^^


^^^Garamnya abis.^^^


Dilemari.


Rak paling atas.


Rana kemudian meletakkan ponselnya di meja. Sembari membatin, Ya... walaupun Arka jawab chat singkat banget, untungnya dia gak slow respon. Pandangannya lalu tertuju pada tempat yang dimaksud oleh Arka. Menengadah menatap lemari itu. Sembari berfikir bagaimana cara ia mengambil stok garam yang ia butuhkan.


Tangannya berkacak pinggang sejenak. Kemudian beralih menenteng kursi dari meja makan menuju lemari tempat garam yang dicarinya berada. Tanpa ragu, gadis mungil itu langsung menaiki kursi. Berharap bisa menggapai pintu rak yang menurutnya tinggi sekali.


"Huh! Tinggi banget sih!" gerutu Rana berjinjit-jinjit. Berusaha membuka pintu rak.


"Iiih ... gimana sih?!" tanpa fikir panjang, cewek itu malah langsung melompat sangking garamnya.


"Eh, eh, gimana?! .... Tol...." Tak berhasil menggapai pintu rak, badannya justru terhuyung ke samping.


Bug!


Untung saja, seseorang dengan sigap menangkap tubuhnya.


Dalam posisi yang sangat merisaukan, dengan kaki masih berpijak di atas kursi yang miring, kedua remaja usia SMA itu saling memandang. Tak ada kata yang terucap. Hanya ******* napas yang seolah terhenti dan degup jantung yang semakin tak terkendali.


"Arka?"


Arka yang terkejut mendengar namanya dipanggil, spontan saja melepaskan tubuh Rana begitu saja.


Bruak! Suara tubuh Rana yang sudah terlanjur jatuh naas sekali.

__ADS_1


"Aw!" keluh cewek itu menyentuh pinggang kesayangannya. Kemudian mengarahkan pandangannya pada Tante Sarah dan Om Rangga yang berdiri dengan mulut ternganga seolah habis melihat hantu dan semacamnya.


__ADS_2