
Rena seketika meneguk ludahnya susah payah. Tenggorokannya tercekat. Bibirnya bungkam, membiarkan Rana yang terus terisak di bawahnya.
"Jawab, Rey!" Rana menggoyang-goyangkan kaki Rena seolah-olah ia sedang memohon. "Gue salah apa?! Hiks ... hiks ... hiks .... Kenapa?!" tanyanya begitu menyedihkan.
Rena memundurkan langkahnya. "Seharusnya, kalau kita emang sahabat lo gak perlu nanyain ini, Ra," ucap Rena pada akhirnya. Pandangannya menatap ke depan, kosong.
"A-apa maksud lo?" tanya Rana setelah tertatih-tatih membangkitkan tubuhnya. "Yang lo lakuin itu ... jahat, Rey," ungkapnya benar-benar kecewa.
"Seharusnya, kalau lo sahabat, lo pasti tau apa yang gue rasain selama ini. Seharusnya lo gak sibuk sama diri lo sendiri. Itu yang lo bilang sahabat?!" tanya Rena nyalang.
__ADS_1
Rana menggeleng-geleng tak menyangka dengan cewek di hadapannya ini. "Gue gak tau apa maksud lo, Rey. Gue cuma pengen lo jelasin semuanya. Gue bakal maafin lo, kalau lo emang punya alasan kuat buat ngelakuin itu ke gue," ujar Rana benar-benar berbaik hati. Persahabatan mereka sudah berada di ujung jurang. Ia tak mau kehilangan Rena juga.
"Gak ada yang perlu dijelasin. Semuanya udah terlambat. Dan sekarang, silakan pergi. Silakan pergi dari rumah gue!" usir cewek itu menggenggam buku-buku jarinya erat. Setelah ini, ia tahu, bahwa ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Oke ... gue bakal pergi, walaupun gue sempet berharap kalau persahabatan kita masih bisa diperbaiki. Tapi sebelum itu ... gue pengen nanyak." Rana menggantung kalimatnya. Merasakan sesak yang terus menggelayuti dada. "Pernah gak sih, lo nganggep gue sahabat lo?" tanyanya pada akhirnya.
Rena menatap Rana tanpa setitik pun tetesan bening keluar dari sudut matanya. Gadis itu menggeleng. "Nggak. Mungkin, selama ini, cuma lo aja yang nganggep kayak gitu."
"Makasih, Rey, untuk kebohongan yang udah lo ciptain di hidup gue," ucapnya lantas melangkah dengan tetesan air mata yang tak kunjung ada habisnya.
__ADS_1
Usai kepergian Rana, akhirnya air mata itu keluar juga. Air mata yang semendari tadi ditahannya. Ia terisak dan menjatuhkan dirinya di lantai. Dipukul-pukul dadanya berulang kali, mencoba menghilangkan sesak yang terus menyerang bertubi-tubi.
"Maafin gue, Ra ...," ucapnya di sela-sela rintihan tangisnya. ".... Gue emang udah gak pantes, buat jadi sahabat lo lagi."
...💕...
Gemericik hujan sudah mulai turun. Motor itu melaju kencang membelah jalanan. Arka melirik kaca spion yang hanya menampilnya helaian rambut Rana yang berterbangan. Cewek itu tengah menyandarkan kepala ke punggungnya, dengan isakan tangis yang tak kunjung reda.
"Udah hujan, Ra. Yakin, mau ke rumah Vira?" tanya Arka pada akhirnya. Keadaan Rana sekarang sedang tidak baik, ditambah lagi dengan guyuran air hujan, ia tidak mau gadis itu sakit nantinya.
__ADS_1
"Iya, Ka," jawab Rana dengan suara paraunya. Kemudian, gadis sesenggukan lagi.
Arka hanya bisa menghela napas samar. Tadi Rana sudah menceritakannya seluk-beluk permasalahannya. Jadi tidak heran, kalau Rana ngotot sekali ingin segera mengucapkan permintaan maaf pada Vira. Gadis itu pasti sangat merasa bersalah untuk kesalahpahaman yang telah terjadi di antara mereka. Kesalahpahaman yang membuatnya mempercayai tuduhan tanpa bukti yang dilayangkan oleh pelaku kejadian itu sendiri.