The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Buldoser Kesasar


__ADS_3

"Lo gak mau tanya keadaan gue, Nad?" tanya Arsya, justru membuntuti Nada sembari mengamati jejeran buku pula.


"Salah sendiri ikut tawuran segala," ucap Nada tanpa mengubah fokus.


Kedua sudut bibir Arsya terangkat. Bukan Nada namanya kalau tak bersikap seperti ini.


Merasa tanggapan Arsya tak seperti biasanya, ujung mata Nada melirik cowok di sampingnya. Terlihat buruk sekali dengan lebam-lebam biru di wajahnya.


"Tumben," ucap Nada singkat.


"Tumben kenapa?" tanya Arsya melirik cewek di sebelahnya.


"Tumben ke perpus," ucap Nada kemudian mengambil salah satu buku dari lemari perpustakaan.


"Cewek yang gue suka, suka banget baca buku. Gue jadi penasaran, apa sih serunya," ucap Arsya turut menarik buku dari lemari.


"Oh."


...💕...


Kantin Bu Ratih


Sembari berjalan, Vira asik memainkan ponselnya membalas beberapa pesan dari piaraan buaya jantannya.


Reza


Vir.


Kemaren gue liat lo.


^^^Anda^^^


^^^Kapan? Dimana?^^^


Reza


Kemaren, di sekolah.


Mau nyapa, tapi gak enak diliatnya.


^^^Anda^^^


^^^Lo ikut tawuran juga?^^^


Reza


Iya. No problem, kan?


^^^Anda^^^


^^^Santai aja lah. Asal kita nya asik-asik aja.^^^


Reza


Kapan bisa ketemu?


^^^Anda^^^


^^^Emangnya kamu udah gak papa?^^^


Vira menutup mulutnya cekikikan. Aksi buayanya sudah dimulai. Lumayan lah, bisa buat tambah-tambah.


Reza


Gak papa. Cuma lecet dikit aja kok.


Aku pengen ketemu.


Nanti kalau udah ada waktu kabarin, ya.


Aku jemput di rumah kamu.

__ADS_1


Vira semakin cekikikan. Mudah sekali terjerumus dalam jebakan basinya.


Bruak! Tiba-tiba ia menabrak sesuatu.


"Buset! Siapa nih, naruh gentong di sini?!" hardik Vira mengelus-elus kening mulus kesayangannya.


"Gentong, gentong! Lo gak liat gue udah segede buldoser gini?" Dio yang ditabrak, seketika merasa didzolimi.


"Vira... Vira... Hati-hati dong, Vir, jalannya. Kasihan tuh, Dio. Takutnya badannya entar kempes," Bu Ratih turut menengahi.


"Hih, dasar! Habisnya lo nyumpek-nyumpekin sih, Yo!" Vira tak mau kalah. Prinsipnya cewek selalu benar, titik! "Udah ah, gue duluan yang pesen," ujarnya lagi tanpa rasa sungkan.


"Eh, Vir! Enak aja lo. Gak kasian lo, ama perut gue yang udah sekecil ini?"


"Idih... kecil dari mananya coba?"


"Dari udelnya."


"Hih, pokoknya gue duluan. Gak mau tau gue." Vira tetap kekeuh.


"Udah-udah! Kalian berdua pesen apa aja? Biar langsung Ibu bikinin."


"Baso empat!" ujar mereka kompak.


"Eh! Lo ngikut-ngikut gue, ya!" seru Vira tak terima.


"Lah, elo yang ngikut-ngikut gue kali." Dio juga tak mau mengalah.


"Ya gak mungkin lah. Orang gue mesenin temen-temen gue kok. Lah, elo?" tanya Vira mengedarkan pandangannya ke tempat tongkrongan Dio yang sepi.


"Gue mesenin temen gue juga."


"Siapa?"


"Arsya."


"Doang?"


"Iya. Arsya satu mangkuk, sisanya gue," pringis Dio memperlihatkan gigi-giginya.


"Hus, sudah-sudah! Berantem terus entar keterusan naksir lho," ucap bu Ratih sembari membuatkan pesanan Dio dan Vira.


"Diih ... amit-amit!" ucap keduanya kompak lagi.


"Eh, elu yaa!" Vira semakin naik tensi.


"Udah. Nada sama yang lain kemana, Vir? Kok gak ke kantin?" tanya bu Ratih.


"Nada ke perpus, Bu, Rana paling masih ngerjain ulangan, jadi Rena masih nungguin si Rana keluar.


" O," ujar Dio kemudian berlalu membawa nampan berisi empat porsi baso.


"Eh, kurang ajar ya lo!" hardik Vira menunjuk-nunjuk Dio geram.


"Udah, Vir. Marah-marah aja dari tadi gue liat lo," ucap seorang cowok tiba-tiba menghampiri Vira.


"Eh, Raja," pringis Vira. Ah, seharusnya ia tak bertingkah seperti barusan. Kan malu kalau dilihat cowok seganteng Raja. Hehehe.


"Hhh,,, kalian hari ini sibuk gak?"


"Emm... enggak kayaknya. Emang kenapa?"


"Mau ngajak main."


"Ke?"


"Ada deh, pokoknya have fun aja lah."


"Hmm... boleh deh," ujar Vira langsung setuju saja.


...💕...

__ADS_1


Sembari menunggu Rana keluar, Rena asik menggeser layar ponselnya mengamati setiap produk branded yang sedang trand saat ini. Kalau sudah seperti ini, menunggu Rana selama apapun tak akan ada jenuhnya. "Beli sekarang" tak ragu ia memencet kata itu dari beberapa produk pendukung style yang menarik minatnya.


"Sendirian aja, Ren?"


Mendengar namanya disebut, Rena langsung menolehkan kepalanya. Seorang cowok tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. Andra, ketua OSIS SMA Tunas Bangsa itu menyunggingkan senyum padanya lengkap dengan lesung pipit di kedua pipinya.


"Gak liat lo?" ucap Rena kembali fokus pada ponselnya.


"Hhh,,, judes amat. Gue cuma mau nanya beberapa hal ke elo," ujar Andra, mengerti betul dengan sikap cewek yang diajak bicara olehnya.


"Tentang?"


"Tadi pak Kusma nyuruh gue buat perbaikin hubungan SMA Tunas Bangsa sama SMK sebelah. Dan sebelum gue bisa ngelaksanain tugas, pastinya gue harus tau dulu latar belakang kejadiannya. Jadi gue mau minta tolong sama lo," terang Andra to the point.


"Kenapa nggak sama yang lain aja?" Rena malas dimintai tolong.


"Nggak mungkin gue mau nyari tau dari Rana, kalau pun informasinya ada di dia semua. Gue gak mau secara langsung. Kasian dia, pasti banyak tertekan. Kalau Nada, dia nggak banyak bicara, pendiam juga orangnya. Kalau Vira... lo tau sendiri kan, tuh cewek gimana? Gue cuma khawatir kalau entar ada gosip baru yang nyebar," ucap Andra cukup berhati-hati, ia tak boleh gagal melancarkan rencananya ini.


"Owh, oke deh, gue bisa," ucap Rena setelah terdiam sejenak mempertimbangkan permintaan Andra.


"Thanks," ucap Andra sembari menyodorkan ponselnya pada Rena.


"Kenapa?" Rena tak langsung paham.


"Gue minta nomer WA lo."


"Owh," ujar Rena menyahut ponsel Andra kemudian mengetikkan nomer ponselnya.


...💕...


Di dalam kelas, Rana semakin buntu mengerjakan soal padahal tinggal seorang. Diawasi tatapan tajam bu Irma yang seperti sudah tak sabar ingin segera menelannya habis-habisan.


"Ibu sudah tidak punya waktu, Rana. Banyak hal lain yang harus ibu kerjakan."


"Ibu, aduh! Tunggu, Bu, saya masih belum selesai, Bu." Rana tambah panik.


"Sudahlah, Ibu sudah tidak sabar lagi," ujar bu Irma sembari menarik lembar jawaban milik Rana.


"Tapi, Bu ..." Rana memelas, sembari menahan lembar jawabannya.


Bu Irma menyipitkan kedua matanya, kemudian terjadilah tarik menarik lembar jawaban antara guru dan murid itu.


...💕...


Kamar Arka


Cowok itu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya perlahan, mencoba mengumpulkan kesadaran. Dilihatnya jam dinding yang sudah menunjukkan angka 09.30 . Ah, sial! Kenapa ia bangun sesiang ini.


Arka kemudian meregangkan otot-ototnya. Huh,,, badannya terasa pegal semua. Pasti karena rentetan kejadian kemarin. Diliriknya sebuah nampan berisi makanan yang sudah tertata rapi di meja belajarnya. kemudian ia memalingkan wajah malas.


"Argh," rintihannya sembari mendudukkan diri bersandar.


Bayangan kejadian tadi malam terus menghantui fikirannya. Itulah ayahnya, dari dulu memang sudah begitu kejam. Tanpa ampun. Satu kesalahan saja, bisa membuat ayahnya tak terkendali.


Sampai ia sendiri tak dapat mengenali ayahnya saat hukuman itu berlangsung. Seperti bukan ayah yang ia kenal. Walau ia sudah terbiasa, tapi tetap saja, ada trauma tersendiri di setiap serangan yang ayahnya berikan padanya. Itulah kenapa sebrutal-brutalnya ia, ia tetap menuruti setiap perintah ayahnya.


Sebelas tahun lalu, andai ibunya tak meninggalkan mereka begitu saja, pasti ayahnya tak akan sekejam itu, pasti ia akan hidup bahagia hingga saat ini.


Arka menghela nafas, kemudian mengenyahkan kesedihannya begitu saja. Semakin dirasakan sakitnya, maka akan semakin berbekas pula perihnya. Membuat ia semakin membenci wanita cantik yang tiba-tiba menjadi nyonya muda di rumahnya.


Sial! Gara-gara teringat tante Sarah, ingatannya berlabuh pula pada cewek menyebalkan yang menurutnya sama persis dengan tante Sarah. Berperawakan mungil dengan wajah cantik yang tentu siapa pun pasti mengakui itu.


Teringat Rana, maka ia teringat pula dengan duda muda di sebelah rumah Dio. Ia masih ingat jelas di rumah tetangga Dio itulah pertama kali ia mengantarkan Rana pulang. Apa hubungan Rana dengan duda muda itu? Kalau dilihat dari tampangnya, duda itu cukup tampan dan tajir untuk ukuran cewek cantik yang matre. Ahh, dugaannya tak salah.


Lalu bagaimana dengan Daniel? Kemarin mereka terlihat mesra sekali. Tak mungkin kalau tak balikan lagi. Jika hanya sebagai teman, tak mungkin selegowo itu Daniel menerima semua keputusan Rana. Terlihat dari tekadnya, cowok itu masih sangat mencintai Rana.


Lalu bagaimana dengan dirinya?


Tiba-tiba wajah ayu Rana lengkap dengan senyum manisnya melayang-layang tanpa dosa di fikiran Arka. Tatapan matanya yang tulus dan suara cemprengnya yang unik.


Sial!

__ADS_1


Arka langsung menggeleng-gelengkan kepalanya berulang-ulang. Mencoba mengenyahkan bayangan cewek menyebalkan itu dari otak bengalnya.


Dasar goblog! Jangan ketipu, Ka! Lo mau jadi korban dia juga?! Hardiknya pada diri sendiri kemudian segera turun dari ranjangnya. Memakai jaket levis-nya dan menyahut kunci motor begitu saja. Fikirannya pasti sedang kacau, jadi ia butuh refreshing.


__ADS_2