
"Gue ngerasa ... kita tuh, senasib seperjuangan."
"Maksudnyaaa?" respon Vira malas. Kayaknya, si Dio lagi ngelantur.
"Iya. Kan, kita sama-sama jones. Gue jombloh, lo jomblohah. Sama-sama kesepian."
"Eits!!" Vira langsung bangkit dari posisinya. "Jangan berani-berani ya lo nembak gue!" tuduh Vira dengan kening mengernyit dan telunjuk mengarah pada wajah bulat Dio.
"Anj*rr!! Fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan! Maksud gue, karena kita sama-sama senasib seperjuangan, jadi gue mau nawarin pertemanan supaya kita gak apes-apes banget," ujar Dio seraya mengacungkan jari kelingkingnya.
Mendengar ungkapan Dio seketika mulut Vira terbuka lebar. "Punya jaminan apa lo, nawarin gue pertemanan?"
"Gue ... punya jasa anter-jemput. Lumayan lah, bisa mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta. Dari pada pake mobil? Lagian lo gak cape apa, ganti-ganti cowok terus yang sebenernya lo gak suka ama mereka? Mending lo sama gue. Kita bikin hubungan mutualisme yang menguntungkan."
Vira masih mengernyit. Tapi, sejujurnya ucapan Dio barusan benar-benar menohoknya.
"Oke, deal! Lo bakal anter-jemput gue." Vira menyambut uluran kelingking Dio.
"Tapi cuma hari ini aja," ucap Dio lengkap dengan pringisannya.
Bug!
Lampu lalulintas berganti warna menjadi merah. Sembari mengecek ponselnya, Zein juga menuruti kehendak lalulintas bersama dengan pengemudi-pengemudi lain. Ia kemudian menghela napas. Bingung harus berbuat apa. Memohon pada Kiya, atau mengikuti persetujuan hatinya mengenai adanya rasa terhadap Vira. Sekarang, barulah ia sadar bahwa ialah orang jahatnya. Memarahi Vira jika cewek itu dekat dengan cowok lain, padahal di sisi lain ada kekasihnya yang ia duakan cintanya.
Ia kemudian menaruh kembali ponselnya. Apa yang bisa ia jelaskan pada Kiya? Tidak ada. Melihat cewek itu menangis saja sudah cukup membuat lidahnya kelu akan rasa bersalah.
"Hahaha,,," suara tawa seorang cewek mengalun di telinga Zein.
Suara tawa Vira. Ah, mungkin ia sedang berhalusinasi. Zein menggeleng pelan. Tapi kemudian ia mendengar suara tawa itu lagi.
"Dio! Lo bisa aja deh!" Bug! Pukulan tak tanggung-tanggung langsung saja mengenai punggung penuh daging milik Dio.
Zein hanya bisa geming menatapi Vira di balik jendela mobilnya. Terlihat ceria sekali bersama cowok lain. Dan ya, ia cemburu. Ini terasa benar-benar menyesakkan.
"Eh lagi, lagi, deh, Vir," ucap Dio memikirkan teka-teki selanjutnya. "Harimau hanya dimana, Vir?"
"Di depan." Seketika Vira males dibuatnya. Entah sudah berapa puluh tahun lalu ia telah mendengar teka-teki super biasa ini.
"Lebah, hanya dimana, Vir?"
"Belakang, Dioo ...."
"Bihun?"
"Tengah."
__ADS_1
"Jerapah?"
"Belakang, Dioo ...."
"Elo?"
"Ha?" Vira langsung mengernyit. Kok tiba-tiba jadi dia? "Ya gak ada lah, Yo ... Kan nama gue Syavira Syifanya. Nggak ada H-nya ...."
"Maksudnya, elo hanya dimana?"
"Gak ada, Dioo ...."
"Ada, Vir. Elo hanya di hati gue!!" pekik Dio meringis lebar, sembari melajukan motornya sebab lampu lalulintas sudah kembali berwarna hijau.
Vira masih mengernyit mencoba memahami, tapi kemudian langsung memukul punggung Dio tak tanggung-tanggung. Tapi, cowok itu malah membesarkan suara tawanya yang nyaring. Ah, dasar si Buldoser!
...💕...
Jam 15.15. Rana menatapi layar ponselnya jengah. Padahal, saat ini ia sedang menonton drakor terbaru yang aktornya sangat tampan menurut penilaian teman-teman sesama pecinta drakor di grupnya. Tapi ia malas. Fikirannya melayang pada Arka. Tadi, cowok itu berkata akan mengabarinya kalau hendak berjumpa dengan Daniel, tapi sampai saat ini belum ada pesan masuk dari cowok itu.
Ah, jangan-jangan Arka emang gak mau gue ikut.
Tapi wajar sih. Kan yang diajak ketemu sama Daniel, Arka bukan gue.
Rana menggeleng pelan. Kata Arka, ini masalah cowok. Duh, bisa repot kalau mereka bertengkar lagi.
...💕...
Sett....
Setelah melaju kencang, akhirnya motor KLX itu memberhentikan dirinya di depan sebuah kafe.
Arka membuka helmnya. Dari luar, ia sudah bisa mengenali sosok cowok yang duduk sendirian memunggunginya di dalam kafe berdindingkan kaca itu.
Daniel pasti sudah menunggunya, fikir cowok itu setelah turun dari kendaraan roda duanya.
Arka mengecek ponselnya. Ada panggilan tak terjawab dari Rana. Ah, biarlah. Ini urusan ia dan Daniel. Rana tak sebaiknya ikut campur.
"Ekhm," dehem Arka sembari menarik kursi di hadapan Daniel, kemudian mendudukinya.
Daniel tersenyum miring. Niat awalnya sih, ia mengajak Arka bertemu ingin berkawan. Tapi lihatlah cowok ini, belum apa-apa sudah memperlihatkan sikap belagunya. Huh, kok bisa Rana jatuh cinta sama cowok kayak gini?
"Hhh, gue kira lo gak bakal dateng. Atau seenggaknya ... lo bakal ngajak Rana sebagai tameng," ucap Daniel kemudian, sama sekali tak menyembunyikan rasa tak sukanya. Lagipula, disini gak ada Rana, kan?
"Gak usah banyak bacot. Mau lo apa?" respon cowok itu tanpa ekspresi. Menyumpahi Daniel dalam hati. Ternyata mantan Rana ini cerewet sekali. Pake bawa-bawa Rana segala lagi.
__ADS_1
"Mau gue? Gue pengen ...." Sembari mengetuk-ngetuk meja di hadapannya, Daniel berfikir; Apa yang ia mau? Menyuruh Arka menjauhi Rana? Mana tega ia membuat Rana sedih. Cewek itu jelas-jelas sangat menginginkan Arka. Lalu apa? Huh, bodoh sekali ia. Masa iya, setelah pembukaan buruknya barusan ia akan mengatakan pada Arka bahwa keinginannya adalah untuk mengajak cowok itu berkawan.
Dredd ... dredd ....
Arka mengeluarkan ponselnya dari saku. Telfon dari Rana lagi.
"Sorry," ucap cowok itu pada Daniel. Setelahnya ia lantas mengangkat telfon itu.
Daniel hanya mengernyit memperhatikan cowok di hadapannya. Ekspresi Arka sekarang jadi lebih serius dari pada barusan.
"Iya, iya, gue langsung ke sana. Kirim juga lockscreen-nya," ucap cowok itu kemudian mematikan ponselnya dan segera bangkit dari duduknya.
"Sorry, Nil. Gue pamit," ucapnya agak tergesa.
"Kemana?" Daniel jadi ikut panik. Jangan-jangan, ini ada hubungannya dengan Rana.
"Rana. Tu bocah nyasar sendirian," terang Arka.
"Gue ikut!" Daniel seketika turut bangkit dari duduknya.
Arka geming sejenak, tapi kemudian memberi anggukan setuju dan segera melangkah menuju kendaraannya. Begitu pula dengan Daniel.
Segera saja, kedua remaja itu melaju dengan kendaraan roda duanya seolah sedang saling beradu kecepatan.
Dredd ....
Cowok itu mengernyit. "Ke kebun binatang!" teriaknya kemudian pada Daniel setelah mengurangi kelajuan motornya.
Sesampai di sana, kedua cowok itu langsung bertukar pandang seolah mempertanyakan; Kenapa Rana bisa tersesat di tempat ini?
"Coba telpon!" ucap Daniel kemudian membuka helmnya.
"Hm." Arka segera menelfon Rana. Tak lupa pula menekan mode loudspeaker-nya.
"Halo, Ra?"
"Arkaa!! Cepetan ... Rana takut ... Rana sendirian ... hiks hiks hiks ...."
"Iya, iya, disitu aja. Jangan pergi kemana-mana."
"Iyaa ... hiks hiks hiks ...."
"Tenang ya, oke?"
"Oke ...."
__ADS_1
Tut. Arka segera turun dari motornya.
"Lo ke sana, gue ke situ!" titah cowok itu kemudian segera melangkah mencari keberadaan Rana. Begitu pula dengan Daniel yang turut panik mendengar isak Rana.