
"Ra!" panggil Puspa tiba-tiba sudah muncul dari pintu kamar anaknya.
"Iya, Mi," jawab Rana seraya gelagapan menyembunyikan ponselnya entah mengapa.
"Ada temen Rana di bawah. Turun dulu, yuk!"
"Oh iya, Mi," ucap Rana kemudian menampilkan prengesannya, menunggu sampai maminya hilang dari penglihatannya.
"Ka, udah dulu, ya. Rana dipanggil Mami," ucap cewek itu setelah mendekatkan ponselnya ke telinganya.
"Oh iya, Ra. See you, night."
"Yap! See you to, Ka!"
Klik. Sambungan telepon mati. Cewek itu kemudian dengan gerakan malas, turun dari ranjangnya. Tumben-tumbenan ada teman yang bertamu ke rumahnya di jam malam begini. Biasanya kan, teman-temannya malas bertemu dengan ayahnya. Teman-temannya saja malas, apalagi ia. Itulah mengapa ia betah sekali mengurung diri di kamarnya. Lebih baik rebahan sambil nonton drama Korea.
Keluar dari kamar, melangkah menuruni tangga, diintipnya siapa yang sedang duduk di ruang tamunya.
"Raja?" gumamnya mendapati seorang cowok tersenyum melambaikan tangan ke arahnya. Duduk bersebrangan dengan Om Cipto. Eh, maap.
"Hai, Ra!" sapa Raja setelah Rana sudah berada di ruang tamu.
"Hai," balas Rana, lengkap dengan senyum di bibirnya, kemudian dengan ujung mata melirik malas pada ayahnya.
"Ya udah, Raja. Om masuk dulu ke dalam. Kalian silakan ngobrol berdua." Pria itu kemudian berdiri dari duduknya. Tersenyum ramah pada cowok yang merupakan anak seorang teman lamanya.
"Sorry, Ra, gue ke sini malem-malem," ucap Raja setelah Rana duduk di sofa bersebrangan dengannya. "Soalnya gue gak tenang setelah kejadian tadi pagi," ucapnya lagi.
Rana tertawa kecil. "Gak papa kok, Ja. You know, I'm is strong girl?" ucap Rana dengan pengucapan bahasa Inggris ala kadarnya, apa adanya seperti tulisannya.
"Hhh,,, yang bener? Gue masih usaha nyari pelakunya kok, Ra. Lo tenang aja." Raja mengembangkan senyumnya.
"Udah. Gak papa, Ja. Gak usah aja, gak papa. Lagian udah kejadian juga. Kalau tau pun yang nempel siapa, itu gak bakal ngerubah keadaan."
"Tapi gak boleh gitu, Ra. Yang mereka lakuin ke elo itu jahat dan gue gak terima."
__ADS_1
"Udah. Lagian gue gak lagi difitnah kok." Rana tetap dengan senyum legowo nya.
Raja menghela nafasnya. Kenapa Rana harus sebaik ini?
"Tapi lo besok sekolah, kan?" tanya cowok itu kemudian.
"Ya iyalah, Ja. Ya kali kagak. Auto didaftarin nikah gue kalo gak mau sekolah,"gurau Rana kemudian diikuti suara tawa miliknya.
"Emang udah ada calonnya?" tanya Raja seperti sedang memancing kepastian sebab desas-desus Arka yang mengantarkan Rana pulang sudah sampai di telinganya.
"Naah ... itu dia. Ini gue lagi nyari. Mang Uus aja kali, ya?" ucap Rana memasang pose menimbang-nimbang.
"Hahaha,,," Raja seketika langsung tertawa. "Mang Uus udah punya bini kali, Ra. Udah punya anak malahan. Mending gue aja deh," ucap cowok itu blak-blakan sekali.
"Yee ... gak mau ah. Entar kalo pacaran sama lo gue cuma dijajanin bakso terus. Gue kan mau belajar jadi cewek matre. Males ah, kalau sama Raja." Rana bersedekap dada. Memasang mode jual mahal ala-alanya.
"Ya enggak lah, Ra. Kalau lo jadi pacar gue, pasti gue jajanin yang lebih mahal lagi."
"Apa?"
...💕...
Dredd....
Usai kepulangan Raja, Rana rebahan lagi di kamarnya. Mendapati sebuah pesan baru saja masuk di ponselnya. Ternyata pesan dari Daniel. Cowok itu mengirimkan sebuah foto poster.
"Aku udah aturin lomba persahabatan sekolah kita, Ra. Sorry, gara-gara aku kamu jadi kena masalah," ucap cowok itu tiba-tiba mengirimkan pesan suara juga.
...💕...
"Bangun pagi ku terus mandi ... tidak lupa menggosok gigi..." Hendak menggosok gigi, sempat-sempatnya Rana bernyanyi riang sekali. Maklum saja, kata Arka cowok itu hendak membantunya belajar dan hal itu berarti ia akan sangat sering menghabiskan waktu bersama cowok itu.
"Habis mandi ku tolong ibu... membersihkan tempat tidurku!" Dengan mulut yang masih penuh busa, cewek itu melanjutkan lagunya.
Kreek...
__ADS_1
Mendengar suara pintu yang dibuka, Rana segera menoleh ke asal suara. Dilihatnya adik perempuannya tengah berjalan ke arahnya dengan tangan kanan sedang menggaruk-garuk kepala yang rambutnya berantakan sebab baru bangun tidur. Rana kemudian melihat dirinya di cermin. Huuh ... untung gue lagi gak mode opening.
"Dhira mau numpang buang air besar. Closet di kamar Dhira tiba-tiba rusak," ucap Dhira masih dengan wajah sayu.
"Iya. Tapi jangan lupa disiram," ucap Rana acuh tak acuh.
"Hmm ...." Dhira yang males ngomong, langsung saja berlalu menuju toilet.
"Beneran loh, ya! Hari ini Kak Rana gak ulang tahun, jadi gak perlu dikasih suprise!" teriak cewek itu lagi. Sedang yang diteriaki sudah terduduk dengan mata setengah terpejam. Bodoamat pada kakaknya yang ada-ada saja.
...💕...
Koridor itu lagi-lagi penuh oleh gerombolan siswa SMA Tunas Bangsa. Namun, hari ini pasalnya berbeda lagi. Bukan lagi tentang nilai-nilai minus cewek tercantik di sekolah terfavorit itu, melainkan sebuah tempelan pengumuman akan diadakannya lomba persahabatan dengan SMK sebelah.
Hal yang tak pernah terjadi sebelumnya, sebab keduanya sekolah ini sudah terlanjur sering terlibat tawuran dari yang skala kecil sampai yang skala besar seperti yg terjadi baru-baru ini.
Lomba seperti ini tidak pernah diadakan sebelumnya sebenarnya bukan karena ketidakpedulian para dewan gurunya, melainkan karena siswa-siswi kedua sekolah itu sendiri.
Dikhawatirkan keadaan akan makin keruh kalau-kalau terjadi hal yang tidak dapat diantisipasi oleh para guru, sebab mereka pun paham akan kebrutalan murid-murid mereka. Tapi kali ini, tentu hal-hal seperti itu tak akan terjadi. Sebab pihak siswa pentolan SMK Karya Nusantara pun sudah menjamin, bahwa mereka tak akan berulah. Tinggal bagaimana tanggapan pihak SMA Tunas Bangsa. Positif, atau negatif.
Rana menghentikan langkahnya tepat setelah ia memasuki area koridor. Kakinya terasa amat berat bahkan untuk sekadar melangkah.
Melihat kerumunan-kerumunan itu, menyeruakkan ingatannya tentang kejadian tak mengenakkan di hari lalu, ralat, bukan hanya tak mengenakan tapi juga amat menyeramkan.
Berdiri sendiri di tengah hujatan yang menghujaninya bertubi-tubi. Ya ... ia takut, takut kalau kejadian itu akan terulang lagi. Walaupun ia tahu, mungkin mereka berkerumunan di depan mading bukan lagi karena nilai-nilai minusnya. Tapi ketakutan tak harus beralasan, bukan?
Rana menundukkan kepalanya, mendapati tali sepatunya belum terikat sempurna. Cewek itu lantas berjongkok dan membenahinya.
"Beres," gumamnya tersenyum, kemudian berdiri dan merapikan seragamnya. Tapi saat ia menegokkan kepalanya, senyumnya luntur seketika, melihat semua mata sedang tertuju padanya.
Apa ini? Kenapa semua jadi sangat membencinya begini?
Rana mengkeret. Perlahan-lahan ia mulai mundur. Benar-benar ingin segera lari dan pergi dari tempat ini.
Ia mundur satu langkah lagi. Tapi, ketika ia hendak membalikkan badan, tiba-tiba ada yang merangkul pundaknya begitu saja. Membuatnya mau tak mau harus melangkah maju mengikuti langkah cowok itu. Ia lantas mendongak memastikan siapa cowok itu.
__ADS_1
"Paagi, Ra!" Arka balas menatap Rana, menyapanya lengkap dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Senyum yang selalu diinginkan Rana.