
"Lo bener-bener murid baru gak punya malu, ya?! Baru dateng udah berani-beraninya ngirim surat cinta ke cowok orang. Mau belajar jadi pelakor?!" rentet Rana benar-benar mengeluarkan semua amarahnya.
Alea, cewek yang tentu tak terima diperlakukan seperti itu, kini berdiri dari duduknya dan menatap Rana tanpa secuil pun rasa takut terbesit di matanya.
"Iya, cita-cita Alea emang mau jadi pelakor. Terus, Kakak mau apa?" sahut Alea dengan entengnya. Bahkan, walau masih menggunakan kata ganti 'kakak' pun, semua orang pasti tahu gadis itu sedang menantang Rana dengan ucapannya.
"Jauhin Arka sekarang juga. Lo tau, gue jijik baca surat cinta lo yang alay ini?" Rana melemparkan gumpalan kertas yang semendari tadi digenggamnya, tepat mengenai wajah Alea.
Alea memalingkan wajahnya sebal. Sedang kertas yang tadi dilemparkan kepadanya, kini terpental jatuh ke lantai. Wajah gadis itu merah padam.
"Harusnya aku yang bilang jijik. Emang Kakak siapa? Ngelarang-larang cewek lain buat deket sama Kak Arka. Ceweknya? Emangnya, Kak Arka udah pernah nembak, ya?" rentetnya lebih menantang.
__ADS_1
"Elo, ya ...." Alis Rana semakin tertaut sebal. Jelas ia tertohok oleh ucapan Alea barusan.
"Ayo! Kakak pasti pengen nampar Alea, kan?! Ayo tampar! Takut ya, kalau Kak Arka tau dan jauhin Kakak?!" nyolot Alea benar-benar menantang.
"Takut? Enggak lah. Ngapain juga gue takut? Sekalipun badan lo gue cabik-cabik terus ginjal lo gue jual pun, asal lo tau aja, Arka gak bakal jauhin gue," sinis Rana tak mau kalah.
"Hahaha,,," Alea malah merespon ucapan Rana dengan tawa lepasnya. "Aku heran deh, apa sih yang Kak Arka liat dari Kakak? Cantikan juga Alea. Udah gitu, peringkat terakhir terus lagi," rentet Alea benar-benar memancing Rana untuk segera melayangkan tamparannya.
"Kurang ajar ya lo!" hardik Rana. Tangan kanannya tanpa basa-basi lagi segera terangkat hendak menampar wajah songong Alea. Tapi belum saja tamparannya mengenai sasaran, tiba-tiba tangan kanannya ditarik oleh seseorang. Dan kemudian sepasang lengan kekar itu memeluknya dengan sangat erat.
"Udah, Ra ... udah. Tenang, aku di sini," ucap cowok itu akhirnya mengeluarkan suara, sembari menyandarkan kepala Rana ke dada bidangnya.
__ADS_1
Rana yang baru menyadari bahwa cowok itu adalah Arka, langsung meluruhkan tangisnya ke dada cowok itu.
"Hiks ... hiks ... Arka jahat! Arka jahat!" rengek gadis itu masih menangis dalam pelukan Arka, sembari memukul-mukul dada cowok itu bertubi-tubi.
"Udah ... udah ... nggak papa," ucap Arka, dengan sabar membiarkan Rana berbuat semaunya dengan dirinya.
Alea yang melihat adegan itu, memundurkan dirinya selangkah. Rasanya sakit, melihat orang yang kita cintai justru memeluk orang lain di depan mata kepala kita sendiri.
"Ini, Ka." Kibo mengambilkan surat Alea yang tergeletak di lantai dan memberikannya pada Arka.
Arka menerima kertas itu tanpa kata, tanpa melepas pelukannya dari Rana. Dibacanya surat itu sekilas, kemudian diliriknya Alea sejenak. Gadis itu tersenyum penuh harap padanya.
__ADS_1
"Ayo, Ra. Kita pulang, ya?" ucap cowok itu meremas kertas di tangannya dan membuangnya percuma. Ia kemudian beralih mengelus-elus punggung Rana. Membuat Alea semakin patah hati dibuatnya.
"Arka jahat! Rana benci sama Arka!" rengek Rana masih belum puas memukuli dada cowok itu. Ia masih ingat jelas isi surat itu. Kenapa pula Arka berbohong padanya? Katanya ke rumah temen, padahal ke rumah Alea.