
Cewek itu menyembunyikan dirinya di dalam selimut malas. Sudah jam berapa ini? Tapi ia masih enggan keluar kamarnya. Jangankan keluar kamar, melepaskan selimutnya saja ia tak rela. Dalam otaknya saat ini, masih terngiang-ngiang kejadian menyebalkan tadi malam. Tamparan ayahnya yang begitu membuat nyeri, dan perkataan yang seketika menyayat hati.
Dimana ibunya dalam keadaan seperti ini? Entahlah... mungkin wanita itu sedang sibuk dengan perusahaan investasinya.
Kehidupan Rena benar-benar sepi. Ayah yang seorang walikota yang juga selingkuh dan ibu yang hobi menyibukkan diri sendiri sampai terlupa dengan perkembangan anak gadisnya.
Dred....
Rena menghela napas. Ada pesan masuk di hpnya. Diraihnya benda itu malas. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
+628....
Sv.
^^^Anda^^^
^^^Ya.^^^
^^^??^^^
Andra๐
Kapan bisa ketemu?
^^^Anda^^^
^^^Of to you.^^^
^^^Dimana?^^^
Entar gue lockscreen.
Membaca pesan dari Andra yang terakhir, Rena kemudian meletakkan hpnya kembali di meja. Ya, ia tak boleh memenjarakan dirinya sendiri di rumah mewah menyebalkan ini. Jadi ia harus keluar untuk menghirup udara segar walau hanya dengan dalih demi kepentingan mengabulkan permintaan Andra si Ketua OSIS SMA Tunas Bangsa.
...๐...
Vira mengeluarkan semua pakaian dari dalam lemari bajunya sebal. Tapi ia masih bingung, harus mengenakan pakaian apa. Bukannya ia tak mempersiapkannya semendari tadi. Hanya saja otaknya langsung mentok kalau sudah dalam keadaan seperti ini.
__ADS_1
Dredd..., ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Kak Zein.
Kak Jeiin๐๐
Jangan lama-lama.
Mau pake apa aja,
Vira tetep cantik kok.
Vira menutup mulutnya setelah membaca chat dari Kak Zein. Kemudian, kakinya spontan berjingkat-jingkat kegirangan.
...๐...
Ruang Tamu_Rumah Vira
"Bagus deh, kalau kalian udah baikan," ujar Soraya terkekeh pada seorang cowok yang duduk tak jauh dihadapannya. "Vira emang gitu anaknya. Tiba-tiba ngambek, tiba-tiba cemberut. Entar juga balik lagi," ucapnya lagi, ditanggapi kekehan pula oleh Zein yang sebelumnya sudah sedikit menceritakan kegelisahannya beberapa waktu lalu hanya karena merasa dihindari oleh gadis SMA tetangga rumahnya ini.
"Oh ya, Zein, siang-siang bolong begini kalian mau kemana?" tanya Dharma ikut penasaran.
"Saya mau ngajak Vira ...." Belum selesai Zein menjawab pertanyaan Om Dharma, perhatiannya langsung saja teralihkan pada seorang cewek yang tengah melangkah menuruni tangga. Mengenakan gaun di atas lutut berwarna merah muda bermotif bunga-bunga. Lengkap dengan tas mini yang dicangklongnya. Zein terpesona melihatnya. Gadis yang dulu sering merengek padanya, kini telah berubah sedemikian rupa.
"Iiih ... Mamah! Orang Kak Zein nya aja bisa sabar kok," sungut Vira pada ibunya. Kemudian mengembangkan senyum pada si empunya nama.
Zein membalas senyum Vira, kemudian berucap, "Ya udah kalau gitu, Tan, Om, saya sama Vira pamit mau berangkat."
Di mobil, saat dalam perjalanan, kedua remaja berjarak lima tahun umur itu saling berbagi cerita. Tertawa cekikikan pada hal-hal sepele yang entah mengapa terasa lucu. Vira yang sering dijuluki si Ratu Gosip, bahkan tak ragu juga menceritakan gosip barunya pada Kak Zein yang untungnya ditanggapi dengan baik pula oleh cowok itu.
"Kak Zein pokoknya harus ketemu sama kepala sekolah Vira. Sumpah!! Orangnya cerewet banget!" ucap Vira bersungguh-sungguh.
"Yang bener? Emang lebih cerewet dari pada kamu?" timpal Zein sembari fokus mengemudikan mobil.
"Beneran!! Hobinya ceramah panjang lebar kalau pas lagi apel. Tentang kedisiplinan, tentang ini, itu, kebersihan, dan ... bla bla bla .... Tapi kalau giliran kita yang terlambat, malah diajak gosip bareng."
"Loh, kok gitu?"
"Ya gitu deh. Tau sendiri temen Vira kan anaknya Walikota. Padahal kita mah, fine-fine aja kalo dihukum yang emang gara-gara kesalahan kita."
__ADS_1
"Hhh,,, iya sih. Gitu mah, udah biasa, Vir. Jaman sekarang emang gitu. Eh, Vir, kita udah sampai nih," ujar Kak Zein sembari memarkirkan mobilnya di sebuah restauran.
"Loh, udah sampe, Kak?" tanya Vira celingukan menongolkan kepalanya dari jendela mobil.
Zein geleng-geleng melihat tingkah Vira. Kemudian, tanpa fikir panjang menarik kepala Vira menghadap ke arahnya.
"Vira ... yang kalem dong. Malu ih, diliatin orang," ucapnya tersenyum pada cewek itu.
Vira yang diperlakukan seperti itu, sama sekali tak bisa merespon apa-apa. Seluruh tubuhnya terasa kaku bak es batu di Kutub Utara nan jauh sana.
"Yuk, Vir!" ajak Zein setelah melepaskan tangannya dari kepala Vira. Beralih membuka pintu mobilnya.
Vira masih geming. Menatap pantulan dirinya di cermin. Harusnya ia marah karena Kak Zein sudah merusak tatanan rambutnya. Tapi yang terjadi padanya saat ini adalah ... semakin klepek-klepek tak terkira.
Cewek itu kemudian menarik napasnya panjang, lalu mengeluarkannya secara perlahan. Berusaha menetralkan degup jantungnya yang sudah hampir meledak tak keruan. Dibukanya pintu mobil, kemudian keluar dengan cara elegan. Sebenarnya, sejujur-jujurnya, hal seperti ini bukanlah hal yang sulit ia lakukan. Ia sudah biasa ngedate dengan banyak cowok. Hanya saja, bersama Kak Zein membuatnya merasa nyaman. Tak ada yang perlu ia poles saat bersama cowok itu.
Tak butuh waktu lama, kedua remaja itu berjalan memasuki kafe. Duduk di tempat yang telah Zein pesan sebelumnya.
Vira duduk enteng mengobrol dengan Kak Zein. Berbeda dengan ia yang sebelumnya saat makan bersama cowok lain. Kali ini ia fokus dengan satu cowok, sedang sebelumnya, ia sibuk mencuri pandang pada cowok ganteng yang bertebaran disekitarnya.
"Mbak!" panggil Zein pada seorang pelayan.
Vira yang sedari dulu sudah naksir berat pada Kak Zein, hanya menatapi cowok itu dengan mata berbinar. "Vira ngikut Kak Zein aja," ucapnya setelah Kak Zein menyebutkan pesanannya.
"Iya, Mbak. Samain aja," ujar Zein pada si pelayan. Tak lama setelah itu, si pelayan segera meninggalkan mereka dan menuju ke arah dapur.
"Oh ya, Vir, tebak deh, kenapa Kak Zein hari ini ngajak kamu makan?"
Vira yang ditanya malah tersenyum kikuk, kemudian berusaha menebak jawaban dari pertanyaan Kak Zein. "Karena... Kak Zein...."
Zein yang bertanya, tersenyum menunggu jawaban dari cewek dihadapannya. Senyum yang membuat Vira semakin tak dapat berkata-kata.
"Karena Kak Zein tau kalo Vira laper!" ujar Vira cepat. Disusul suara tawa Zein yang geleng-geleng kepala mendengar tebakan dari Vira.
"Kak Zein pengen ngenalin kamu ke seseorang," terang Zein tersenyum ringan.
"Seseorang?" tanya Vira tak paham maksud perkataan Kak Zein.
__ADS_1
Baru saja Zein hendak menjawab pertanyaan Vira, tapi kecupan di pipi kirinya kemudian mengejutkannya.
"Hai Sayang!" sapa Kiya tersenyum kearahnya.