
Pagi ini ayam jantan berkokok lebih keras dari biasanya. Seolah sedang memamerkan bakatnya pada seluruh dunia. Menyemangati Rana untuk hari spesialnya.
Rana bangun secepat kilat seolah dirinya hendak kencing di celana. Disahutnya selembar handuk bermotif Captain Amerika lalu bergegas menuju kamar mandi. Seolah tanpa kantuk, gadis itu mulai bersenandung riang di pagi segelap ini.
"Mi, hari ini hari spesial Rana, lho. ..," ucap Rana saat dirinya sudah berada di ruang makan. Hanya ada Dhira yang duduk dengan antengnya, dan Mami yang tengah menghidangkan sarapan pagi keluarga mereka.
"Oh ya? Emang ada apa? Karena hari ini ujian terakhir, ya?" tanya Puspa dengan wajah antusiasnya.
"Bukan," jawab Rana senyum-senyum sendiri.
"Terus? Bukanlah lomba persahabatan udah selesai dari dulu, ya?"
"Emm ... nanti malem Rana mau ngedate sama Arka!"
__ADS_1
...💕...
Raja menautkan kedua alisnya bingung. Keningnya berkerut, mencoba mencari jawaban dari lembaran kertas di hadapannya. Sedikit rasa pening mulai mengganggu konsentrasinya, tapi ia tak mungkin berhenti di detik ini; ujian mata pelajaran terakhir.
Diliriknya seorang cowok dengan sikap paling tenang di antara semua siswa di kelas ini. Ketenangan yang membuatnya semakin jatuh dalam tekanan.
Arka menatap soal terakhirnya dengan seksama, tapi sebuah dorongan membuatnya ingin menolehkan kepalanya. Ia menyipitkan mata dingin pada cowok dengan iris mata gelisah itu. Ia membencinya. Dalam satu gerakan, ia kembali pada kertas ujiannya, menjawab soal terakhir pada lembar itu dan berdiri sebagai pemenang. Yah, ia tak suka bersaing, tapi ia juga tak suka mengalah.
"Arka, kamu sudah selesai?" tanya seorang pria yang bertindak sebagai pengawas ujian.
Sebelum benar-benar keluar dari kelas, disempatkannya beberapa detik untuk melirik raut wajah seorang cowok. Melepaskan sedikit kebencian melalui kilatan matanya.
Raja memalingkan wajahnya. Dengan asal, cowok itu kemudian menyilang-nyilang jawabannya dan maju dengan kertas jawaban tak maksimalnya. Sedetik saja, ia ingin lepas dari ambisi ini, tapi ia tahu ia tapi akan bisa.
__ADS_1
...💕...
Duduk di kelas 11IPA 1 dengan hati yang gelisah. Itulah yang dilakukan Arsya saat ini. Menunggu Nada demi meminta gadis itu kembali padanya.
Hari-hari sudah berlalu sejak kejadian itu. Ia sudah mencoba, tapi ia tahu tak akan bisa benar-benar pergi dari kehidupan Nada. Dan meski Nada akan terus menolaknya, hati kecilnya akan terus mengatakan bahwa cewek itu masih mencintainya.
Di dalam kelas, Nada mengerjakan soalnya dengan teliti. Satu kesalahan besar saja sudah cukup, ia tak mau kehilangan satu-satunya hal yang bisa ia banggakan. Ia kemudian berdiri dari duduknya. Satu gerakan yang cukup untuk membuat semua orang memusatkan seluruh perhatian hanya untuk dirinya, termasuk Rana.
Nada memberhentikan tatapannya pada gadis itu sejenak. Sedikit perih mulai masuk menyesakkan dadanya. Ia tahu Rana sedang memohon melalui tatapan matanya, tapi yang bisa ia lakukan adalah memalingkan pandangannya dan maju ke depan menyerahkan kertas jawaban ujian terakhirnya di semester ini. Semester satu yang penuh dengan kejutan yang menyesakkan.
"Nad ..."
Nada memberinya langkahnya tepat di depan pintu kelas saat mendengar namanya dipanggil oleh seorang cowok. Ia membenci keadaan ini, sebab dadanya bergemuruh tanpa menghiraukan perizinan dari dirinya.
__ADS_1
"Gue mau bicara," ucap cowok itu tanpa air muka yang bisa dipahami oleh Nada.