The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Senin Semriwing


__ADS_3

"Kepada, sang Saka Merah Putih, hormat grak!" teriak seorang cowok berseragam putih abu-abu, mengomando seluruh peserta upacara di hari senin ini. Lagu kebangsaan pun dinyanyikan. Harusnya, semua orang khusyuk menyanyikan lagu ini, tapi dua orang cewek di barisan kelas 11 IPA 1, justru melirik kesana-kemari entah mencari siapa.


...💕...


Di depan gerbang sekolah yang sudah tertutup rapat, Arka mengacak-acak rambutnya frustasi. Harusnya ia berangkat lebih pagi tadi.


"Pak, bukain dong!" desak cowok itu kepada Pak U'us si Penjaga Gerbang.


"Selow aja lah, Ka. Tungguin aja upacaranya selesai," prenges Pak U'us kemudian menyeruput kopi hangatnya.


"Huh! Ya udah deh, Pak." Arka turun dari motor KLX-nya, tapi kemudian deru suara motor yang semakin mendekat membuat dirinya spontan mengepalkan kedua tangan.


"Lambat juga lo, Ka?" tanya seorang cowok setelah turun dari motor KLX-nya yang sebelumnya sudah lama sekali tak ia pakai.


Alih-alih menjawab, Arka hanya menoleh sekilas kemudian kemudian memalingkan wajah. "Cih!"


......................


Kreeek....


Upacara sudah selesai. Pintu gerbang dibuka. Memunculkan Pak Ikrom sebagai guru BK yang terkenal tegas dan juga killer tentunya.


"Dalam hitungan ke tiga, kalian harus segera berlari dan hormat kepada bendera!"


Kedua cowok itu ingin memberontak dalam hati, tapi nyatanya, mereka tak mengeluarkan bantahan apa pun.


"Satu! Dua! ... Tiga!!"


Tak peduli jika saja mereka menjadi pusat perhatian, dengan langkah panjang, kedua remaja itu segera berlari mengikuti instruktur dari Pak Ikrom.


Dan benar saja, tak butuh waktu lama, semua sorot mata langsung tertuju pada mereka. Dua cowok keren, pinter, genteng, dan ... agak brutal, yang dulunya adalah sahabat dekat, sedang dihukum bersama. Hanya berdua saja.


Pertengkaran brutal diantara mereka yang pernah terjadi sebelumnya, masih menjadi sejarah bagi sebagian anak SMA Tunas Bangsa. Dan entah apa yang akan terjadi setelah ini.


"Buset! Alhamdulillah, rezeki di pagi hari!" seru Vira pada teman-temannya, dengan mata tertuju pada Arka dan Raja yang tengah berlari menuju tiang bendera.


Mendengar seruan Vira, ketiga teman cewek itu seketika menoleh mencari sumber kehebohan Vira.


"Duh, demagenya gak ada ampun!" seru Vira lagi, langsung mengambil tempat duduk di Koridor sekolah. "Sembari beristirahat, marilah kita memanjakan mata."


"Gue suka ide lo." Rana sigap mengambil tempat. "Sini, Nad!" cewek itu kemudian menarik tangan Nada hingga terduduk di sampingnya.

__ADS_1


Rena yang sebenar-benarnya turut menikmati pemandangan ini, walau tak ditampakkan juga, tak urung segera duduk di sebelah Nada.


Sedang di tengah lapangan di bawah tiang bendera sana, kedua cowok itu sudah menjemur diri dengan posisi hormat, tak lupa dengan tetesan keringat di kening mereka.


Glek, Rana menelan salivanya paksa. Bahkan Arka yang penuh peluh pun, semakin terlihat seksi di mata jelinya. "Gaes!" ucap gadis itu tiba-tiba.


1, 2, 3 detik, tak ada respon.


".... Gue mau dia."


Jreng! Ketiga temannya langsung memusatkan seluruh panca indra mereka pada Rana.


"Maksud lo, Ra?" Vira langsung menuntut penjelasan dari cewek itu.


"Gue mau dia jadi punya gue."


Set! Nada langsung mengalihkannya pada Rena. Terlihat khawatir akan sesuatu. Begitu pun cewek yang bertukar pandang dengannya saat ini. Dari beberapa hari lalu, entah mengapa ia merasa Raja terlihat sering mengamati Rana. Dan... sebenarnya ia tahu mengenai insiden Rana dan Marsya di hari lalu. Maka dari itu, ia bersedia membantu Andra menyelesaikan tugasnya.


"Dia siapa, Ra?" Jiwa kepo Vira langsung meronta-ronta.


"Arka," jawab Rana jujur sekali, tersenyum polos bak bidadari.


"Eh, kalian kenapa?" tanya Rana pada kedua cewek itu.


"Enggak. Abisnya barusan Nada pengen kentut, untung aja kentutnya masuk lagi," jawab Rena entah mendapat ide dari mana. Nada yang merasa dizolimi, spontan saja memelototkan matanya pada gadis itu.


"Owh ... gitu," dan dengan polosnya, Rana si kecil percaya saja. "Kentut aja gak papa kok, Nad," ucapnya lagi.


"Serius lo, Ra?" Vira tetap fokus mewawancarai.


"Yap! Kali ini gue yakin sama insting kewanitaan gue."


"Terus, dia suka juga gak sama lo?" tanya Vira karena selama ini, Rana adalah tipe cewek inceran yang justru sulit sekali menaruh rasa. Akan terasa tak mengkin rasanya, jika Rana menaruh rasa pada cowok yang sama sekali tak menaruh minat padanya. Kebodohan yang haqiqi. Kalau ada yang instan, kenapa harus milih yang penuh perjuangan?


"Gak tau," jawab Rana tetap tersenyum ringan.


"What?!! Dia belum P-D-K-T sama lo?!"


"Gue suka sama dia. Titik! Kalau dia gak ada rasa suka sama gue, berarti gue emang harus berjuang buat bikin dia suka sama gue. Cinta emang butuh perjuangan kan, gaes?" terang Rana berapi-api.


"Ra, lo gak sakit kan?" Nada menyentuh kening Rana.

__ADS_1


"Enggak, gaes! Gue gak sakit dan gue gak becanda sama ucapan gue." Cewek itu kemudian berdiri dari duduknya. "Kalian liat aja, hari ini gue bakal jadi salah satu contoh tokoh perjuangan wanita."


"What?!" Vira bingung sekali menyikapi tingkah Rana yang tak seperti biasanya.


"Berjuang menegakkan hak kemerdekaan wanita dalam menyatakan perasaannya," ucap Rana kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan ketiga temannya yang ternganga dengan mata saling memandang heran.


......................


Kedua cowok itu menyipitkan mata mereka masing-masing, melihat seorang cewek berperawakan mungil sedang berjalan ke arah mereka, lengkap dengan sebuah payung bergambarkan barbie di tangannya.


Arka mengumpat dalam hati. Kenapa cewek ini pake acara kesini segala? Sedang di sebelahnya, Raja justru tak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia belum mati, tapi kenapa ia sudah bisa melihat bidadari surga disini? Tersenyum indah, dengan sebuah payung ditangannya. Ah, baik sekali cewek ini.


"Morning, boys!" sapa Rana ceria. Berdiri di depan kedua cowok yang tengah berpeluh dengan posisi hormatnya kepada bendera.


"Hai, Ra," Raja balas menyapa, sedang cowok di sebelahnya justru bersikap acuh tak acuh.


"Hai," ucap Rana kemudian berdiri di antara kedua cowok itu. Tubuhnya yang memang sudah mungil, semakin terlihat pendek tatkala berdiri sejajar dengan kedua cowok jakung di samping kiri-kanannya.


Tanpa kata dan tanpa aba-aba, cewek yang sering disebut-sebut sebagai cewek tercantik di SMA Tunas Bangsa itu tiba-tiba mengangkat payungnya tinggi, kemudian memayungkannya pada cowok di samping kanannya.


"Kurang kerjaan banget sih lo. Mending lo balik aja deh," ucap cowok itu dingin. Kembali seperti Arka saat pertama kali bertemu dengannya. Seolah kejadian kemarin, yang membuat Rana mabok kepayang sampai saat ini, hanyalah sebuah mimpi indah di siang bolong.


"Tapi gue pengen nemenin lo," ucap Rana menengadah menatap wajah cowok itu dari samping.


Di samping kiri Rana, Raja mengepalkan tangan kanannya geram.


"Gue gak merasa butuh ditemenin." Arka menyorong payung Rana yang awalnya menjadi peneduh baginya hingga payung itu berada tepat di atas kepala gadis itu. " Lo gak usah lebay," ucapnya tanpa menatap Rana. Menengadah memberi hormat pada sang bendera pusaka.


Rana meneguk salivanya. Entahlah, tapi Arka justru terlihat seksi sekali kalau bersikap dingin begini.


Walaupun mendapat respon seperti itu dari Arka, ia tetap akan melakukan apa yang menjadi keinginannya. Tapi, saat ia hendak meneduhkan Arka dengan payungnya lagi, tiba-tiba seorang cowok selain Arka menarik tangannya mendekat ke arah cowok itu. Menyisakan sedikit jarak di antara mereka.


"Ra, kalo Arka gak bisa hargain lo, gue bisa kok," ucap cowok itu memandang mata Rana dalam.


Rana agak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Raja, tapi dia hanya geming tak melakukan pergerakan apa-apa. Rasanya, ia mencium bau-bau permusuhan di sini.


"Ja, gue ..." baru saja Rana hendak berbicara, tapi tiba-tiba Arka merenggut payung dari tangannya, menutupnya kasar dan membuangnya ke tanah.


Rana terjingkat. Ia semakin dibuat bingung oleh kedua cowok di sampingnya.


"Kalau gue bilang balik, ya balik!"

__ADS_1


__ADS_2