The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Serba Sial


__ADS_3

"Rana, kamu kenapa?" Guru biologi itu juga turut dibuat khawatir oleh akting profesional Rana.


"Anu, Bu .... " Rana menggantung katanya, sembari masih mengurut-urut perutnya. "Perut saya ... sakit, Bu."


"Ah, masa?" Bella yang sedari tadi diam saja, kini dibuat bersuara oleh adegan Rana. Sedang Rana, ia justru semakin memperhandal aktingnya.


"Gila lo ya, Bel! Lo gak liat nih, temen gue udah sakaratul gini?!" Vira naik tensi.


"Hus, Vir ... kalau ada malaikat yang lewat terus jadi beneran gimana?" bisik Rana ala kadarnya.


"Ya sudah. Rana, kamu bisa ke UKS dulu buat minum obat."


"Eh, emm ... Bu, Rana cuma butuh ke toilet, kok," ucap cewek itu kemudian menampilkan prengesan andalannya.


"Oh ... ya udah. Nanti kalo udah selesai, kembali ke kelas lagi, ya."


"Iya, Bu. Gak lama, kok." Rana berdiri dari duduknya.


"Ra, gue anterin, ya?" Vira menahan tangan cewek itu.


"Ellah ... gak usah, Vir. Lo kan, harus ngerjain tugas ini dulu."


...💕...

__ADS_1


Setelah melalui akting sakit perut yang cukup panjang, kini Rana sudah berlari-lari di koridor dengan riangnya. Di sakunya, sudah ada kertas tugas yang ia lipat-lipat kecil sedemikian rupa. Tak lupa pula pensil 2B yang pendeknya mengalahkan jari kelingkingnya. Sengaja, biar kalau ditaruh di saku tidak ketahuan sama semua orang.


"Arka lagi masuk gak, ya?" gumamnya sembari menyalakan ponselnya, kemudian mengetik sebuah pesan pada Arka untuk segera menemuinya di taman belakang sekolah.


Usai mengirim chat pada Arka, cewek itu tentu saja selanjutnya tanpa basa-basi segera berjalan menuju ke tempat yang ia sebutkan dalam pesannya barusan.


"Na ... na ... naaa ... gundul-gundul pacul-cul gembelengan ...," riang sekali cewek itu melangkah dan menyanyikan lagu nada dering ponselnya yang selalu itu-itu. "... Nyunggi-nyunggi wakul-kul gembele ...."


Rana menghentikan langkahnya, juga lagunya yang sebenarnya masih ingin dilantunkan oleh bibirnya. Pandangannya kini tertuju pada sepasang kekasih yang duduk berdua di teras belakang aula pertemuan. Kedua remaja itu tengah berciuman mesra.


Bukan. Rana bukan terkejut melihat adegan seperti ini. Ia sudah sering melihatnya di film. Tapi yang membuatnya terkejut adalah, sepasang kekasih itu adalah temannya sendiri. Nada dan Arsya.


Rana masih terpaku pada pemandangan itu. Tapi kemudian ...


Ia bertemu pandang dengan Nada yang baru melepaskan diri dari kecupan bibir Arsya. Dari mata Nada, ia bisa menangkap keterkejutan di Sana. Karena merasa menjadi pengganggu dan merasa bersalah akan hal itu, Rana menampilkan prengesannya dan menirukan gaya spam jempol dengan tangannya. Seolah mengatakan rahasia Nada akan aman bersamanya.


Di sana, Nada tersenyum tipis sembari menghela napas lega.


"Kenapa, Nad?" tanpa memalingkan wajah dari pacarnya, cowok itu bertanya.


"Nggak, kok," jawab Nada kemudian kembali memfokuskan perhatian pada wajah cewek yang kini sungguh tak terpaut jauh dari wajahnya. Ia menatap mata cowok itu lekat.


"Nad, i love you more," ucap Arsya kemudian.

__ADS_1


"I love you too," jawab Nada tersenyum.


Kemudian, Arsya mulai mengecup bibir cewek itu lagi. Memberi ******* halus untuk gadis lugu yang masih asing dengan semua ini.


...💕...


Karena merasa taman belakang sekolah bukanlah tempat yang tepat untuk ia mengerjakan soal bersama Arka nantinya, kini Rana berjalan menyusuri koridor lagi. Ya, apalagi alasannya kalau bukan karena si Kutu Kupret yang lagi bercinta dengan sahabat lugunya. Ah, dasar Arsya.


Walau sudah melihat adegan seperti itu, Rana masih melangkah menyusuri koridor dengan riangnya. Tapi kemudian, pandangan dan langkahnya terhenti. Bukan karena Arsya dan Nada lagi. Melainkan sesosok mahluk yang entah mengapa, jujur, terlihat lebih cantik darinya. Ah, bukan! Bukan itu masalahnya! Masalahnya adalah, di depan cewek asing itu, seorang cowok berdiri seperti sedang mengobrol dengannya. Dan cowok itu adalah Arka.


Siapa cewek ini? Cewek ini kenapa berani tersenyum semanis itu pada Arkanya? Biasanya, Arka tak pernah berbincang dengan cewek lain selain dirinya.


Karena rasa penasaran yang sudah terlanjur mencuat ke permukaan, juga cemburu yang tiba-tiba datang tanpa alasan, dengan langkah berat Rana mencoba melangkahkan kakinya mendekat. Ingin sekali mendengar apa yang sedang diperbincangkan cowok yang sedang memunggunginya itu.


"Alea, gue minta nomer...."


Aaaa!!!!


Rana langsung menutup kedua lubang telinganya dengan tangan. Dilanjutkan berlari ke belakang secepat yang ia bisa.


Bruak!


Dan yang terjadi selanjutnya adalah ... ia terjatuh di lantai.

__ADS_1


"Rana!!"


__ADS_2