The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Makan Malam di Masa Ujian


__ADS_3

"Kak Zein hari ini ada jadwal lembur. Gak papa kan, kalau pulang Naik taksi?" tanya Zein setelah mengelap bibirnya dengan tisu. Turut berdiri mengikuti Vira yang sudah berdiri duluan.


"Gak papa, tapi anterin ke depan, ya?" ucap Vira memperlihatkan prengesannya.


"Gak mau ah," ucap Zein sok acuh tak acuh.


"Kak Zein ...." Vira cemberut. Memasang posisi seolah hendak melemparkan bawaannya pada Zein.


"Iya, iyaa .., Vira sayang." Zein merangkul pundak Vira. Membawanya menuju pintu ruangan itu.


Baru saja selangkah keluar dari ruangan Kak Zein, Vira mengedarkan pandangannya. Ia sedikit heran, ada banyak sekali perawat bertebaran di sana-sini. Senyum miring tercetak di bibir Vira. Ia tahu mereka sok sibuk di sekitar sini bukan karena gabut. Hal itu terlihat dari ujung mata mereka yang terus memantau pergerakannya dan Kak Zein.


"Vir?" Zein mengetuk pelan dahi Vira. Membuat gadis itu langsung meringis ke arahnya.


Vira kemudian menyodorkan tangannya pada Kak Zein. Membuat cowok itu mengernyit penuh tanya.


"Salim, Kak Zein," ungkapnya dengan senyum mengembang.

__ADS_1


"Salim?"


Vira manggut-manggut bersemangat.


"O-oh ...." Akhirnya Zein menyodorkan tangannya juga. Membiarkan gadis di hadapannya mencium punggung tangannya. Membuat senyuman merekah pada bibirnya.


"Kak Zein, sini deh ...," ucap Vira mengisyaratkan Zein untuk mendekat ke arahnya, sedang tangan lainnya masih setia menggenggam tangan Kak Zein.


Zein mengernyit, tapi tentunya ia menurut saja.


Ujung mata Vira melirik ke sekitar dahulu, dan kemudian, setelah memastikan bahwa suster-suster itu memang mengira ia adalah adiknya Kak Zein, dengan cepat, ia mengecup pipi Kak Zein singkat, lalu berlari pergi begitu saja.


"Kak Zein!" panggil Vira berbalik badan.


"Dadaah!" serunya melambaikan tangan pada Kak Zein. Tersenyum puas sekali melihat ekspresi para perawat yang nyata sekali pucat pasi.


...💕...

__ADS_1


Ruang makan itu tampak lenggang. Hanya ada seorang pria berkaca mata duduk di sana. Rambutnya nyaris memutih keseluruhannya, tapi hal itu sama sekali tak meluruhkan cetakan tegas nan gaharnya. Selalu berhasil membuat anak-anaknya mati kutu jika sudah berhadapan dengannya.


Raja melangkahkan kakinya satu per satu menuruni anak tangga. Jika boleh, ia ingin tidak usah makan malam saja dari pada harus makan bersama ayahnya. Lebih tepatnya, makan malam bersama ayahnya pada masa-masa ujian sekolah.


"Besok ujian apa?" tanya ayah tiga anak itu pada putra bungsunya tepat setelah anak itu duduk di kursi pada meja yang sama dengannya. Nadanya tanpa emosi, tanpa penekanan, tapi ia mengucapkannya tanpa melihat ke arah lawan bicara; lebih memilih fokus pada makan malamnya.


"Besok ujian ...."


"Besok ujian terakhir, kan?" potong pria itu sebelum Raja benar-benar menyelesaikan jawabannya. Membuat bibir cowok itu bungkam seketika.


"Iya, Pa," jawabnya pada akhirnya.


"Belajar yang becus .... Hanya dengan Arka, ketua geng motor yang hobi bentrokan saja kamu kalah, apalagi kalau mau sekolah di luar negeri nanti," ungkapnya lagi, masih tanpa memandang sang lawan bicara. Jangankan memandang, melirik saja tidak.


Di bawah meja, tanpa terlihat oleh ayahnya, tangan cowok itu terkepal erat. Menahan segalanya yang bergejolak di dalam dada. Tapi bibirnya hanya bisa mengatup tanpa suara.


"Ini sudah tahun terakhir. Tinggal semester ini dan semester akhir sebagai penentuan. Jangan membuat malu. Setidaknya, walaupun terlambat, kamu bisa menujukkan bahwa kamu memang layak menjadi anak dari Dr. Broto," lanjutnya menekankan kalimatnya. Dr. Broto yang terkenal jenius.

__ADS_1


Harusnya, yang Raja lakukan adalah memberontak dan mengatakan semua rasa tertekannya. Tapi lagi-lagi, ia hanya bisa diam. Diam dengan kepala tertunduk tanpa harga diri, tanpa pembelaan, sebab ia memang tak bisa selalu menjadi posisi pertama seperti anak-anak ayahnya yang sudah-sudah.


"Harusnya kamu bisa seperti kakak-kakakmu, menjadi kebanggaan bagi Papa. Tapi kenyataannya ...," Dr Broto menggantung kalimatnya sejenak, menatap Raja tanpa setitik warna pada wajahnya. "... Kamu tidak ada apa-apanya."


__ADS_2