
Rana meremas pinggiran rok sekolahnya, demi menahan tangan itu agar tak melakukan kekerasan lebih dulu. Ia tak ada niat sama sekali menyogok Pak Kusma. Yang ia lakukan tadi malam hanyalah menuruti kemauan orang tuanya saja. Dan mengenai tawuran, haruskah mereka sampai membully ia begini?
"Malah mau ngedeketin Arka segala lagi. Lo ngaca kali, Ra! Jangan kepedean dulu. Apalagi cuma gara-gara Arka mau mimpin tawuran ngelawan mantan lo itu. Dia tuh cuma kasian. Dan mungkin juga, karena dia gak suka kalau daerah kekuasaannya diganggu," cecar Marsha tak ada habisnya.
Rana mengatupkan bibirnya rapat. Sepertinya cewek di hadapannya ini benar-benar menyukai makanan pedas. Ingin rasanya ia menjejalkan berton-ton cabai yang ada di pasar ke mulut lemes cewek ini. Supaya dower sekalian.
"Kenapa diem? Lagi introspeksi diri, ya?" tanya Marsha, mulai puas karena mengira sudah berhasil menyudutkan Rana.
"Siapa yang lagi introspeksi diri? Orang lagi nahan kentut. Awas! Gue mau keluar. Kalau kalian tetep kekeh pengen nahan-nahan gue, terpaksa gue harus ngeluarin senjata biologis gue," ucap Rana dengan suara nyaring, kemudian berlalu acuh tak acuh dan dengan paksa melewati segerombolan cewek yang memenuhi area jalanan menuju toilet.
"Ra!" Sudah jauh Rana melangkah, tiba-tiba Marsha meneriakkan namanya lagi. Meski malas, cewek itu tetap menghentikan langkah, tak urung pula membalikkan badan, melihat ke arah Marsha dan segerombolan babu-babunya. Ah, hidup emang penuh dengan ujian.
"Lo jangan seneng dulu Arka mau ngasih kesempatan elu buat deketin dia. Dia tuh gak suka cewek cantik!" teriak Marsha terdengar yakin sekali dengan apa yang ia katakan.
Rana terdiam sejenak. Wajahnya terlihat bingung harus berekspresi apa.
"Ciee ... yang tiba-tiba muji!" seru Rana lalu terkekeh. Kemudian, acuh tak acuh membalikan badan dan melanjutkan langkah. Lagian aneh-aneh aja. Apa dia bilang? Arka gak suka cewek cantik? Emangnya Arka gay, ya?
Pulang dari toilet, Rana segera saja kembali ke kelasnya. Dan ternyata jam pulang sudah tiba. Dilihatnya teman-temannya tengah berjalan berlawanan arah dengannya.
"Gaes!!" seru cewek itu melambai-lambaikan tangan, berlari-lari kecil menuju ketiga temannya.
"Buset! Elo buang air besar atau batu besar?!" seloroh Vira, menyodorkan tas pada Rana.
"Hehehe," prenges Rana menerima tasnya. "Kan gue udah bilang tadi. Perut gue kena musibah tsunami. Untung aja gak ada korban jiwa." Cewek itu kemudian mengenakan tasnya asal.
"Eh, BTW, Rey, tumben gak bawa mobil?" tanya Vira sembari berjalan menuju parkiran SMA Tunas Bangsa.
"Kemarin malem gue mergokin Bokap selingkuh, terus langsung gue tampar deh, selingkuhannya," aku Rena terdengar enteng mengatakannya.
"What?!" Vira terbelalak.
"Rey," Nada juga terkejut.
"Kok lo gak cerita?" tanya Rana kemudian memajukan bibir bawahnya.
__ADS_1
"Gak papa. Santai aja, gue udah biasa." Rena menampilkan senyum se-legowo mungkin
"Rena ...." Tiba-tiba Rana memeluk temannya itu. Membuat yang dipeluk agak tersentak.
"Rana gak enak ya, kalau diajak curhat? Kok gak mau curhat ama Rana?" tanya cewek itu tanpa melepas pelukannya.
Mendengar pertanyaan lugu temannya, senyum Rena mengembang. "Enaak. Enaknya ngalahin semur jengkol kesukaan elo malahan."
Rana melepaskan pelukannya. "Pokoknya kalo ada apa-apa harus cerita lo ya .... Jangan dipendem sendiri!" ucapnya kemudian mengerucutkan bibir. Tak sadar bahwa nasihat itu juga layak untuk dirinya sendiri.
"Iya, iya," ucap Rena kemudian menoel pipi Rana.
"Hehehe," Rana meringis. Kebanyakan nonton drama Korea ternyata bisa menyebabkan hidup penuh drama.
Sembari berjalan menuju parkiran, Rena pun menceritakan seluruh ***** bengek kejadian kemarin malam. Tak lupa pula dengan tamparan serta perkataan ayahnya yang menyakitkan.
"Jadi gitu. Dan Gaes, kayaknya untuk seterusnya kita gak bisa berangkat-pulang bareng deh," kata Rena mengakhiri ceritanya.
"Yaah, gak seru dong. Gue pengen gantiin Rena buat anter-jemput, tapi bokap pasti gak ngebolehin. Kuatir banget kalo gue bakal keluyuran," terang Vira lemas.
"Apalagi gue. Bikin jalan baru, iya." Rana juga lemas.
"Ya udah deh, no problem. Terus, lo pulang naik apa sekarang, Rey?" tanya Vira kemudian.
" Entar gue pesen taksi online aja. Kalo lo?" jawab Rena kemudian balik bertanya.
"Sama ...." Baru saja Vira hendak menjawab, tiba-tiba namanya diteriakkan oleh seorang cowok.
"Vir! Vira!!" teriak cowok itu dari arah gerbang sekolah. Terlihat bersemangat sekali dengan senyuman lebarnya.
Vira tersenyum menanggapi, kemudian melambai-lambaikan tangannya anggun sekali.
"Siapa tuh, Vir? Gak asing gue," Rana tiba-tiba kepo.
"Reza. Anak SMK Karya Nusantara. Satu geng ama mantan lo," terang Vira tersenyum pamer.
__ADS_1
"Piaraan baru?" Rena juga penasaran.
"Hehehe, iya," prengesnya tanpa dosa.
"Kirain udah tobat," Nada turut angkat bicara, mengingat Vira sudah baikan dengan Kak Zein.
"Player sejati ya kali tobat," ucap Vira kemudian mengibaskan rambut indahnya. "Gue sama dia. Kalian gimana?" tanyanya kemudian.
"Tadi di toilet gue udah nelfon Pak Budi," ucap Rana apa adanya.
"Gila lo, Ra! Curiga lo gak cuma nelfon di dalem toilet tadi. Scroll Tik-tok, scroll IG. Eh, jangan-jangan lo nonton drakor juga. Pantesan lama banget," celoteh Vira panjang lebar.
"Hehehe," Rana hanya menanggapi dengan prengesan andalannya. "Nad, lo ikut gue aja gimana?" tanya Rana pada Nada kemudian.
"Boleh, Ra," ucap Nada setuju saja.
Tak lama, mereka pun sampai di parkiran. Vira yang memang sudah dijemput pun berpamitan pulang pada teman-temannya.
"Ba-bay!" ucapnya melambaikan tangan, kemudian masuk ke mobil mewah Reza.
Tinggal Rena, Nada, dan Rana.
Senyum Rana mengembang memandangi motor KLX milik Arka. Tanpa fikir panjang, ia melangkah mendekati motor itu. Mengeluarkan sebuah kertas yang sudah dibentuk menjadi bentuk hati dari sakunya. Lalu menaruhnya begitu saja di atas motor Arka. Senyumnya mengembang tulus sekali. Ada detak yang sulit dijelaskan mengalir pada hatinya. Dan ia selalu menyukai detak itu.
"Hai, gaes!" sapa Arsya menarik perhatian. Cowok yang mengenakan jaket jins itu sudah berada di atas motor kebanggaannya.
Rena hanya menanggapi dengan senyum irit, kemudian memalingkan wajah malas. Sedang Nada hanya menoleh sekilas, kemudian memalingkan wajah juga.
"Diih ... cantik-cantik judes amat, Neng!" seloroh Arsya sembari mengeluarkan motornya dari parkiran.
Krik, krik....
Tak ada tanggapan.
"Eh, gue liat-liat ... lo gak bawa mobil, Rey?" tanya Arsya tak kapok dikacangin. Ya iyalah gak kapok, kan ada Nada yang terlop-lop.
__ADS_1
"Gak," ketus Rena.
"Nad, bareng gue yuk!" ajak Arsya gamblang. Sudah berhasil menyelamatkan motornya dari kepungan motor-motor lain.