The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Patah Hati Terbaik


__ADS_3

Setelah mamahnya masuk, Vira memandang kosong ke depan. Tangannya memegang sendok dan mengaduk-aduk makanannya malas. Ingatannya terbang pada masa SMP-nya, dimana ia baru pertama kali mengenal cinta. Dan bodohnya, ia jatuh cinta pada orang yang salah. Orang yang tak pernah menganggapnya sebagai seorang gadis yang layak dicinta. Iya, Kak Zein adalah cinta pertamanya.


Dulu, kak Zein selalu menemaninya bermain sejak kecil. Kak Zein juga pintar dan cerdas. Selalu mengajarinya pelajaran-pelajaran yang belum ia pahami. Selalu melindunginya. Juga menemani dan menjaganya saat ia sakit. Dekat sekali. Ia tak bisa menghindari untuk tak menyukai kak Zein yang baik hati.


Sampai ... suatu hari.


"Vir, besok-besok kamu harus hati-hati," ucap Zein sembari memberi obat luka di sikut Vira yang terluka gara-gara terjatuh saat dijahili teman-teman laki-laki di kelasnya. "Kalau temen kamu ganggu, gak usah direspon aja," ucap kak Zein lagi.


"Habisnya Vira sebel, Kak. Masa mereka bilang Vira manja, Vira anak mami, Vira penyakitan," ucap Vira kemudian cemberut. Sebal sekali kalau ia mengingat kejadian tadi. Ia sampai kejar-kejaran dengan anak-anak nakal itu. Sampai terjatuh pula. Untung ada kak Zein yang segera datang dan memarahi mereka. Untung juga, sekolah kak Zein berdekatan dengan sekolahnya.


"Udaah ... biarin aja. Kalau direspon, mereka tambah suka gangguin Vira," ucap Zein setelah selesai membalut luka Vira.


"Biarin. Kan, ada Kak Zein yang bakal jagain Vira," kekeh Vira merenges tanpa dosa.


"Kak Zein gak bisa jagain kamu terus, Vir," ucap Zein tertunduk.


"Kenapa?" tanya Vira spontan.


"Kak Zein mau lanjut kuliah di luar kota. Jadi, Vira harus bisa jaga diri sendiri," jelas Zein menatap mata Vira. Pandangannya sendu.


Vira terdiam memperhatikan pakaian orang di sampingnya ini. Jadi, kak Zein habis kelulusan? Pantas saja seragam abu-abunya penuh warna dan ceretan.


"Harus di luar kota ya, Kak? Vira nggak mau jauh-jauh dari Kak Zein."


"Kak Zein pengen jadi dokter, Vir. Biar nanti bisa ngerawat kamu kalau kamu sakit. Beasiswa-nya Kak Zein juga di sana. Disana ada keluarganya almarhum papa Kak Zein. Jadi bisa sekalian tinggal di sana," jelas Zein.


"Kak Zein kuliahnya di sini aja. Nanti Vira bakal bilang sama Papah supaya bantuin Kak Zein biar bisa jadi dokter," usul Vira terdengar ceria. Berharap kak Zein mau menerima permintaannya.


"Hhh ... gak bisa, Vira. Papah Vira udah terlalu baik sama Kak Zein," ucap Zein jujur. Bagaimana tidak? Sejak kedua orang tuanya meninggal saat kelas 6 sekolah dasar, Om Dharma adalah pihak yang selalu memberinya bantuan. Baik dari segi dukungan, maupun finansial.


"Zeiin!!" teriak seorang cewek dari jauh, sembari melambai-lambaikan tangannya tinggi. Penampilannya tak jauh berbeda dengan kak Zein. Memakai seragam abu-abu dengan warna-warni dan coretan di mana-mana.


Zein langsung bangkit dari duduknya. Memberi isyarat pada cewek itu untuk bersedia menunggu.

__ADS_1


"Udah ya, Vir. Temen Kak Zein udah nunggu."


Vira langsung berdiri dari duduknya. Gawat! Jangan-jangan kak Zein punya pacar. Dianggap apa ia selama ini?


"Cuma temen?" tanya Vira secepatnya.


Zein tersenyum. "Iya, cuma temen," ucapnya kemudian. "Udah ya, Vir. Besok sebelum berangkat, Kak Zein mampir ke rumah kamu," ucapnya sembari melangkahkan kaki hendak menghampiri cewek yang sudah menunggunya.


"Kak Zein!" panggil Vira sebelum kak Zein melangkah jauh.


Zein menghentikan langkahnya, kemudian membalikkan badan menghadap Vira.


"Vira sayang sama Kak Zein," ucap Vira setelah berdiri di hadapan cowok itu.


Zein tersenyum. "Kak Zein juga sayang sama Vira," ucapnya kemudian.


"Tapi Vira suka sama Kak Zein," ucap Vira akhirnya memberanikan diri.


"Zeiin!!" teriak cewek itu terdengar sudah tak sabar.


"Udah ya, Vir. Nanti mang Ono Kak Zein telfon supaya jemput kamu," ucap Zein kemudian berlalu begitu saja.


Vira menatap punggung kak Zein yang semakin menjauh. "Hhh... kamu imut deh."? Jawaban apa itu? Ia ditolak atau bagaimana? Tak ada kata iya ataupun tidak. Tapi tak apalah. Yang penting kak Zein tak marah padanya gara-gara mengatakan hal barusan. Kak Zein tersenyum. Itu artinya ia tak sedang ditolak.


Vira membulatkan matanya. Gila! Kenapa cewek itu langsung merangkul kak Zein nya? Hah! Kenapa kak Zein juga membalas rangkulan cewek itu? Semua ini ... apa maksudnya? Jadi, cintanya bertepuk sebelah tangan? Lalu kenapa barusan kak Zein tak bilang kalau ia tak punya rasa padanya? Malah memberinya senyuman dan harapan palsu seperti ini.


Teng! Teng! Teng!


Vira memain-mainkan makanannya sebal. "Dasar Buaya!" ucapnya geram.


"Vira!" Tiba-tiba terdengar suara mamahnya.


Vira langsung membuyarkan lamunannya. Menoleh ke arah sumber suara. "Kenapa, Mah?" tanyanya dengan kedua alis terangkat bertanya-tanya.

__ADS_1


"Kamu apain meja makan Mamah?!" tanya Mamah dengan suara agak mengeras.


"Gak ngapa-ngapa .... " Pandangan Vira kemudian langsung terhenti pada keadaan di meja yang sudah tak keruan modelnya. Buah-buahan sudah dicacah dan terhambur kemana-mana, sedang makanan yang sejak tadi ia mainkan, sudah tak ada di dalam piring tempat asalnya. Berhamburan kemana-mana. Seperti habis diceker-ceker oleh ayam.


"Hehehe." Vira merenges saja menatap wajah garang mamahnya. "Gak sengaja, Mah," ucapnya kemudian.


...💕...


Ruang makan_Rumah Arka


Arka menatap tajam cewek yang duduk di seberang meja berhadapan dengannya. Kenapa kehidupannya jadi dipenuhi oleh cewek ini? Di sana ketemu, disini juga ketemu. Kemarin ketemu, sekarang juga ketemu. Ahh, betapa dunia ini serasa sekecil daun kelor.


Rana meringis saja membalas tatapan tajam Arka. Tidak enak sih, sebenarnya. Ia sampai makan malam di rumah Arka begini. Habisnya mau bagaimana lagi? Setelah membantu tante Sarah belajar memasak, teman maminya itu menahannya agar tak segera pulang. Disuruh sekalian makan malam.


"Ekhm," dehem Rangga, menarik kursi kemudian duduk disampaikan anaknya, bersebrangan pula dengan istrinya.


"Mas, hari ini aku belajar masak dibantuin sama Rana. Anaknya temen aku, Puspa. Mas masih inget kan, sama temen aku yang itu? Pas pernikahan kita dia dateng pakai gaun warna biru," celoteh Sarah terdengar riang sekali.


"Hhh,,, iya. Inget," respon Rangga menyenangkan hati istrinya. Entah benar ingat atau tidak. "Hari ini Dek Sarah belajar masak apa aja?" tanya Rangga kemudian.


"Banyak. Mas sama Arka bisa langsung cobain masakan kita berdua. Dijamin bikin ketagihan." Sarah terkekeh sembari mengacungkan jempolnya.


Arka rasanya ingin tertawa. Modelan cewek seperti Rana mana bisa memasak enak. Apalagi sampai memgajari orang lain segala. Yang ada, habis ini papanya pasti akan memuntahkan kembali masakin yang dibuat oleh kedua perempuan menyebalkan ini. Dalam hal makanan, selera papanya tentu terbilang cukup tinggi.


Sangking ingin tertawanya, sudut bibir Arka sampai naik sebelah, sembari menatap remeh pada cewek di hadapannya.


Ditatap remeh seperti itu, Rana langsung melotot pada Arka. Dengan isyarat mata, ia seolah sedang bertempur pedang dengan cowok di hadapannya. Enak saja. Berani-beraninya cowok ini meremehkan kemampuan memasaknya. Tak tahu apa, ia sering sekali menjadi tukang masak saat ada perkemahan di sekolahannya?


Rangga tersenyum menanggapi celotehan istrinya. Tangannya kemudian meraih sendok untuk segera mencicipi masakan yang terhidang di hadapannya.


Semua mata langsung tertuju pada ayah Arka. Sarah, Rana, dan Arka harap-harap cemas mengamati setiap pergerakan Rangga. Sarah dan Rana berharap agar masakan itu dinilai enak, sedang Arka berharap bahwa ayahnya segera memuntahkan masakan tante Sarah dan Rana.


Rangga mulai mencicipi. Mengunyahnya secara perlahan sembari menatap mata istrinya yang terlihat harap-harap cemas.

__ADS_1


__ADS_2