The Stupid Barbie

The Stupid Barbie
Lolongan Anjing Buldog


__ADS_3

Di sebuah tongkrongan yang dipenuhi anak SMA Tunas Bangsa itu Arka memegangi ponselnya seraya memandanginya lekat. Sesekali ia mendekatkan benda gepeng itu ke telinganya.


Sudah semenit lalu Rana menelpon, tapi begitu diangkat cewek itu tak mengeluarkan suara apa-apa. Ditambah lagi dengan suasana tongkrongan yang ramai, atau bisa juga dikatakan ricuh, berantakan. Sebab kalian tahu sendiri Arsya sedang galau habis-habisan.


"Ra, ada apa? Kamu gak papa, kan?" tanya Arka sekali lagi, setelah dibiarkan sekian lama tanpa sepatah kata pun sampai saat ini.


"Nggak papa. Rana cuma pengen Arka nemenin Rana," ujar gadis di ujung sana pada akhirnya. Suaranya terdengar serak, menimbulkan kekhawatiran lagi-lagi menghinggapi hati Arka.


"Ini kamu udah mau tidur?" tanya cowok itu ditengah nyanyian lagu-lagu galau dari teman-temannya yang jujur, nyaris seperti lolongan anjing buldog. Sama sekali tak ada merdu-merdunya.


"Iya, tapi pengen ditemenin Arka," kata Rana bucin abis walau tengah dalam keadaan sesedih ini.


Sudut bibir Arka sedikit terangkat. Membuat seluruh teman tongkrongannya mengalihkan atensi padanya.

__ADS_1


"Woy! Ka!" Kibo melemparkan bonekanya ke muka Arka entah mendapat keberanian dari mana. "Jangan mesra-mesraan di tengah-tengah orang galau, dong! Gak liat lo, di sini ...."


"Sstt ...." Arka meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. "Jangan berisik, Rana gue mau tidur," ucap cowok itu kemudian.


Seketika semuanya langsung melolong lagi. Habisnya, cuma Arka yang sedang bucin saat ini. Sedang mereka? Oh ... jangan ditanya lagi. Positif sad boy semua!


Arka yang diprotes justru acuh tak acuh pergi menjauhi kerumunan yang terlalu ramai untuk mengantar gadisnya ke alam mimpi.


"Rame banget, Ka. Lagi ikut pengajian, ya?" tebak Rana ngelantur, setelah tadi sempat melayang-layang ke angkasa lantaran mendengarkan ucapan Arka pada teman-temannya. Gila, ia benar-benar merubah Arka sepenuhnya!


"Galau kenapa?" tanya Rana segera menajamkan indra pendengarnya.


"Loh, kamu gak tau?" Arka mengernyit. Setahunya, persahabatan perempuan itu lebih dramatis dari pada kaum Adam. Hal sebesar ini, mana mungkin disembunyikan sendiri.

__ADS_1


...💕...


Rasa bersalah adalah sebuah pedang yang menghunus mencabik-cabik dirinya sendiri. Sekarang ia sadar, bahwa dirinya memang sehina ini. Ia memang bodoh. Sudahlah ia tak bisa memiliki orang yang dicintainya, kini ia juga sendirilah yang merusak persahabatannya.


"Gue bingung, sebenernya yang gue lakuin ini ... salah, apa bener?" monolog gadis itu kepada diri sendiri. Duduk bersandar memeluk lutut, membelakangi pintu kamarnya. Menahan, agar ia tak disiksa lagi.


...💕...


Detik berganti menit. Menit berganti jam. Dan tak terasa, sekarang sudah pagi lagi. Kini, Rana berjalan beriringan bersama cowok jakung di sampingnya. Siapa lagi, kalau bukan Arka?


Gadis itu sejak tadi berjalan tertunduk. Entah sedang mencari apa pada sepanjang lantai yang mereka lewati sedari tadi.


Bagaimana keadaan di kelas setelah kejadian ia, Rena, dan Vira di hari lalu? Ia sangat kecewa pada Vira, tapi bisakah ia melewati satu menit saja tanpa bercengkrama dengan gadis itu? Ia ingin memaafkan, tapi yang dilakukan Vira padanya itu sangat kejam. Seolah-olah mereka tak pernah terikat tali persahabatan.

__ADS_1


"Jangan banyak pikiran," ucap cowok di sebelahnya sembari merangkul bahunya.


Rana sedikit terjingkat. Gadis itu kemudian menghela napas dan tersenyum tipis. Senyum yang ia usahakan semaksimal mungkin.


__ADS_2