
"Dih, ngapain juga aku bareng kamu?" ketus Nada seperti biasanya.
"Ellah ... tenang! Sama gue lo bakal aman. Sampe ke pelaminan pun, gue siap buat nganterin," ucap cowok itu kemudian tertawa. Tawa yang hanya dibalas dengan wajah ketus oleh Nada.
"Lah Rey, kalo lo mau naik apa?" tanyanya kemudian pada Rena.
"Mau pesen taksi online gue," jawab Rena kemudian mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Tuh, Nad, lo yakin gak mau nebeng sama gue?" tanya Arsya. Kembali seperti Arsya yang resek kayak biasanya.
"Aku mau bareng sama Rana," jawab Nada memalingkan wajah dari cowok menyebalkan itu.
"Duh Nad, gak liat lo, tuh temen lo lagi bucin? Paling-paling abis ini dia mau ngintil sama Arka. Kalau udah gitu, lo mau nebeng sama siapa? Sama Pak U'us?" seloroh Arsya, sembari geleng-geleng kepala melihat Rana yang biasanya tak bisa diam, kini justru berdiri geming menatap motor cowok yang disukainya.
Nada merenggut kesal. Rasanya ia ingin memukul kepala Arsya dengan balok besar. Menyebalkan sekali. Padahal, baru kemarin ia merasa Arsya sudah kehilangan sifat resek nya.
"Udah, Nad, lo bareng dia aja. Gedeg gue dengerin dia nyerocos mulu," ucap Rena acuh tak acuh. Sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Rey," ujar Nada cukup terkejut mendengar ucapan temannya itu.
"Udah lah, Nad, dari pada lo ditinggal PDKT sama si Rana," ucap Rena jelas sekali. Sedang yang disebut-sebut, justru sama sekali tak menanggapi.
Arsya menaik-turunkan alis kirinya senang sekali. Tumben-tumbenan Rena si jutek memberi dukungan padanya. Dan ia tahu, ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Ya udah," ucap Nada tetap ketus, kemudian terpaksa naik ke motor Arsya.
"Naah ... gitu dong, Tuan Putri. Kan, Abang jadi seneng," ucap Arsya girang, kemudian menyalakan mesin motornya.
"Hati-hati lu. Awas lo bikin sahabat gue celaka!" Rena membari ancaman, sedang di belakang Arsya, Nada hanya bisa cemberut.
"Siap, bossqyuu...!!" seru Arsya kemudian melaju dengan motornya. Senang sekali karena akhirnya ia bisa berduaan dengan cewek yang dikaguminya sejak lama.
"Loh, Rey, Nada pulang bareng Arsya?" Rana membalik badan pada Rena, polos sekali melontarkan pertanyaannya.
"Dasar! Baru tau gua, ternyata bucin berlebihan bisa menyebabkan kebudegan total," ujar Rena sembari memasukkan ponselnya ke tempat asal.
"Hehehe," Rana meringis saja, meskipun sebenarnya tak tahu apa-apa.
__ADS_1
"Eh, itu Pak Budi, Ra!" ucap Rena, menunjuk kendaraan beroda empat yang baru saja memasuki area sekolah mereka.
"Pak Budi!!" pekik Rana tinggi, melambai-lambaikan kedua tangan sembari meloncat-loncat riang.
Rena hanya bisa menutupi telinganya was-was. Tidak heran lagi dengan kelakuan temannya ini.
"Rey, bareng gue aja yuk!" ajak Rana.
"Gak, ah. Tanggung, taksi online gue bentar lagi nyampe ini."
"Yang bener?" tanya cewek itu dengan kedua iris menyipit.
"Iya. Kasian kalau entar udah nyampe di sini, eh taunya gue gak ada."
"Hmm ... iya juga sih. Ya udah ya, Rey. Bye!" ucap Rena kemudian melambaikan tangan.
"Bye," Rena membalas, kemudian menatapi mobil Rana yang semakin menjauh.
"Duh, heran sama kalian. Mau pulang aja pake drama segala," ucap seorang cowok tiba-tiba sudah berdiri di samping Rena.
"Sekarang, ketemunya? Lo udah ngomong sama dia?" tanya Andra memastikan. Tadi sebenarnya Rena sudah menyatakan ia sudah mengatur semuanya dengan Daniel. Dan katanya, Daniel mau ketemu pulang sekolah ini. Jadilah ia menunggu teman-teman Rena pulang semendari tadi.
"Yap, kita langsung aja. Daniel pasti udah nunggu," ucap Rena.
"Ya udah, yuk," ajak Andra sudah nangkring di atas motornya, seraya menyodorkan helm pada Rena.
Rena tak ragu menerimanya. Memakai benda itu dan sejurus kemudian menaiki motor Andra. Tak butuh waktu lama, Andra membawanya keluar dari gerbang kokoh SMA Tunas Bangsa. Tadi sebelumnya, cewek itu sempat melirik pada motor KLX yang dibawa Raja pagi ini. Masih terparkir di parkiran bersama beberapa motor lainnya. Entah sedang apa cowok itu, sehingga jam segini belum pulang juga.
...💕...
Motor itu melaju lambat sekali. Sangking lambatnya, matahari pun jadi terasa lebih menyengat dua kali lipat dari pada saat motor berada pada kelajuan normal.
"Sya! Lambat banget sih, jalannya," keluh Nada tak kuasa lagi menahan teriknya matahari di siang bolong begini.
"Yaah ... gue kan, mentingin keselamatan elo, Nad. Makanya gue super-duper ati-ati bawanya," ucap Arsya pecengisan, melirik wajah cemberut Nada dari kaca spionnya.
"Mentingin keselamatan gundulmu! Jatuh kagak, mati kepanasan iya," gerutu Nada bersedekap dada. Kalau Arsya mengendarai motor sepelan ini, kapan ia akan sampai di rumah?
__ADS_1
"Oooh, jadi lo kepanasan, Nad?" tanya Arsya dengan nada tanpa dosanya.
"Ya iyalah! Sangking pelannya, kita tuh rasanya kayak naik onta." Nada jadi tambah sebal.
"Widiiiih... busyeet! Pengen naik haji bareng gue lo, Nad?" tanya Arsya semakin menjadi-jadi.
"Dih, ogah!" ketus Nada.
"Tenang, Nad. Lo mau naik haji berapa kali pun, gue siap nganterin. Tapi syaratnya, kita harus udah sah dulu. Kan enak kalau udah halal."
"Arsya!"
Plak! sebuah pukulan khas cewek tepat mengenai bahu kiri cowok itu. "Becanda mulu!" ungkapnya kesal.
"Ya kalo emang mau diseriusin, ya monggooo.... Abang mah terserah Neng Nada aje."
Plak! Satu timpukan lagi tak urung dilakukan oleh Nada. Arsya hanya meringis, malah terlihat girang sekali.
"Ayuk cepetan! Aku udah kepanasan tau," omel Nada geram.
"Ya udah, ya udah, tapi pegangan dulu. Entar kalo lo kenapa-napa, bisa diterkam gue sama si Rena," saran Arsya pintar sekali mencari alasan.
Nada membuang napas kasar, tapi tak urung melaksanakan saran Arsya.
Wushh!!
Dan benar saja, motor Arsya empat kali lipat lebih cepat dari pada sebelumya. Nada spontan saja mengeratkan pegangannya pada pinggang cowok itu.
"Ati-ati, Sya!!" teriak cewek itu, dengan anak rambut yang sudah berterbangan kemana-mana karena terpaan angin.
Arsya tak menanggapi. Pun juga tak mengurangi kelajuan motornya. Senyumnya mengembang, sejurus kemudian tangan kirinya lincah sekali memindahkan kedua tangan Nada hingga melingkar di pinggangnya.
Dag dig dug!! Jedor jedor jeder!!
Nada memejamkan kedua matanya paksa. Kenapa tiba-tiba ia jadi berdebar begini? Ia tahu, ia bisa memindahkan kedua tangannya ke posisi asalnya lagi. Tapi entah mengapa, sepasang bagian tubuh itu seakan melakukan penolakan terhadap perintah otaknya.
Senyum Arsya semakin mengembang lebar. Tak ada penolakan atau pun perlawanan. Itu artinya, Nada sudah menyalakan lampu hijau. Mempersilahkan dirinya untuk mendekati cewek itu.
__ADS_1