
"Kayaknya lo lagi minta digibeng deh, Yo," tanggap Vira acuh tak acuh sembari melahap makanannya.
"Hehehe,,, ampun, Vir." Dio menelungkupkan kedua tangannya meringis. Kalau Vira sudah ngamuk, bisa-bisa tubuhnya akan kerempeng disiksa gadis itu.
"Ya tergantung, Yo, pacarannya kayak gimana." Andra mulai menjawab pertanyaan Dio. "Kalau cuma berangkat bareng, jalan gandengan, makan bareng dan lain-lain, gua rasa ... wajar lah," lanjutnya.
"Terus, yang gak wajar yang kayak gimana, Ndra?" tanya Dio lagi.
"Yang gak wajar itu yaa ... cium ...."
"Eh, Ka! Liat tuh, ada yang nyamperin lo!" potong Arsya berseru. Mengalihkan perhatian semua teman-temannya pada seorang gadis cantik yang tengah berjalan ke arah meja mereka dengan sebuah kotak di tangannya.
"Hah? Gue?" ucap Arka sedikit melirik ke wajah Rana.
"Ehm ... Kak Arka, maaf ganggu," ucap Alea lengkap dengan senyum manisnya.
"Ada apa, Al?" tanya Arka menanggapi. Mencoba mengacuhkan semua tatapan yang tertuju ke arahnya.
__ADS_1
"Aku ehmm ... Alea cuma mau ngasih ini." Gadis itu menyodorkan kotak dengan devinisi imut itu ke arah Arka.
"Kemarin Alea abis belajar bikin kue sama nenek Alea. Tolong diterima ya, Kak Arka," ucapnya lagi.
Rana yang mendengar hal itu segera mengalihkan pandangan dari Alea. Wajahnya pucat seketika. Andai ia punya kekuatan menghilang, ia ingin sekali mempergunakannya sekarang juga. Agar ia tak perlu merasakan ketidaknyamanannya ini. Cemburu, tapi gak bisa ngelarang!
Arka yang tadinya hanya melirik wajah Rana, kini benar-benar menolehkan wajah pada cewek itu. Ia seolah sedang meminta persetujuan Rana untuk menerima pemberian dari Alea.
Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Rana sama sekali tak bersuara. Jangankan bersuara, memalingkan wajah pada Arka lagi saja tidak.
"Al, makasih. Tapi gue ...."
Arka menghela napas samar. Ia tak punya pilihan lagi. Ia benar-benar tak tega kalau harus membuat gadis ini menelan malu di tempat umum begini.
"Makasih, Al. Lain kali gak usah repot-repot, ya," ucap cowok itu pada akhirnya menerima uluran kotak berisi kue dari Alea.
"Alea gak repot kok, Kak Arka," ucap Alea sebelum akhirnya meninggalkan meja yang dipenuhi oleh kakak-kakak kelas barunya itu.
__ADS_1
Usai kepergian gadis itu, hening seketika menguasai di antara rombongan mereka. Tak ada yang berani bersuara. Hanya menatapi Arka yang seolah bingung harus bagaimana. Sedang Rana malah mengalihkan wajah dari cowok itu.
"Ra." Cowok itu akhirnya membuka suara. Menatap Rana dengan mata memohonnya.
"Humm ...." Rana langsung menyeruput kuah baksonya. "Heran gue, Nad. Perasaan, tiap hari gue beli Bakso di sini. Tapi kok gak bosen-bosen, ya? Nyokap lo punya resep rahasia apa, sih?" tanya cewek itu. Terlihat sekali sedang mengalihkan pembicaraan.
Nada yang dijadikan sebagai bahan pengalihan justru hanya bisa tertawa kecil.
"Ngapain lo, Ra? Nanya-nanya resep masak segala. Emang lo bisa masak?" Nada yang ditanya, tapi malah Arsya yang nyeletuk seenaknya. Tapi ya ... lumayanlah. Biar gak garing-garing amat.
"Enak aja lo, Sya! Gini-gini gue selalu jadi juru masak lho, pas kemping SD dulu," sungut Rana memanyunkan bibir. Sedang di sebelahnya, Arka yang jelas sekali sedang diacuhkan hanya bisa memandangi Rana tanpa bisa berkata-kata. Cobaan apa lagi ini ya Allah?
"Iya. Pandang enteng lo, Sya! Gak tau lo, si Ngatiyem sampe jadi guru kursus pribadinya nyokapnya Arka!" Vira turut berusaha mencairkan situasi.
"Eh, si Ngatiyem siapa?" tanya Andra yang notabene nya pendatang baru.
"Ya siapa lagi, Ndra? Itu, si Rana!" jelas Vira dengan suara cempreng-nya.
__ADS_1
"Oowh ... gue kira neneknya Arka," celetuk Andra menimbulkan tawa di antara mereka. Terkecuali dua orang di antara mereka tentunya.Arka yang masih setia memandangi Rana dengan penuh rasa bersalah, sedangkan Rana justru pura-pura tak tahu dan hanya bisa tersenyum tipis menanggapi candaan mereka. Mana bisa ia tertawa juga. Kalau pun bisa, pasti akan terlihat sekali kalau ia sedang berdusta.
Ditengah-tengah derai tawa mereka, tiba-tiba seorang cewek menghampiri mereka dan sukses menghentikan tawa mereka. Cewek itu kemudian berkata, "Arsya, Nada, kalian dipanggil ke ruang guru."